Investasi Berkelanjutan: Apa itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Konsep investasi berkelanjutan adalah revolusioner, mendorong individu dan perusahaan untuk memikirkan kembali bagaimana investasi mereka dapat berkontribusi pada dunia yang lebih berkelanjutan. Dalam konteks ini, pembangunan berkelanjutan menjadi tujuan utama, mencari keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, tuntutan sosial, dan perlindungan lingkungan. Investasi berkelanjutan berada di jantung upaya ini, bertindak sebagai jembatan antara modal dan proyek yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Kesadaran yang meningkat tentang isu-isu ini dan peraturan yang lebih ketat telah mendorong investasi berkelanjutan menjadi sorotan dunia. Hal ini berjanji untuk mengubah praktik keuangan tradisional. Investasi berkelanjutan memimpin jalan menuju masa depan. Masa depan di mana ekonomi dan lingkungan hidup berdampingan dengan harmonis.

Investasi Berkelanjutan
Sumber: Waste4Change

Apa itu Investasi Hijau atau Investasi Berkelanjutan?

Investasi berkelanjutan atau investasi hijau melibatkan investasi dengan tujuan atau makna yang berkelanjutan sepanjang waktu. Artinya, investasi dengan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Saat ini, investor ingin melangkah lebih jauh dan tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga keuntungan yang dengan dampak positif bagi planet kita dan masyarakat.

Pembangunan berkelanjutan tercapai melalui keseimbangan antara ekonomi, masyarakat, dan lingkungan. Tujuan utamanya adalah memenuhi kebutuhan manusia sekarang dan pada masa depan melalui penggunaan sumber daya alam secara bertanggung jawab tanpa merusak ekosistem atau menyebabkan kerusakan pada lingkungan.

Pengantar Tentang Investasi Berkelanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, investasi berkelanjutan telah dipercepat dan diharapkan pertumbuhannya akan eksponensial pada masa depan berkat peningkatan kesadaran tentang hal ini dan peningkatan regulasi di banyak negara.

Sejarah dan Evolusi ESG

Sepanjang sejarah, konsep ini telah menjadi makin penting karena dampak langsungnya tidak hanya pada lingkungan dan masyarakat, tetapi juga pada dasar-dasar perusahaan.

Pertumbuhan investasi berkelanjutan ini telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir karena peningkatan minat dan permintaan dari investor, regulasi yang makin ketat, dan kebijakan dekarbonisasi yang ambisius di berbagai wilayah di dunia.

Pada 2020, Uni Eropa (UE) mendefinisikan taksonomi yang mencakup 6 tujuan lingkungan untuk memudahkan investor mengidentifikasi apakah suatu investasi berkelanjutan atau tidak.

Taksonomi Investasi berkelanjutan yang dibuat oleh Uni Eropa

Uni Eropa sedang mendorong investasi berkelanjutan dengan peraturan yang mengklasifikasikan dana investasi berdasarkan tingkat investasi mereka dalam ESG, SFDR (2021). Klasifikasi ini memiliki definisi melalui artikel-artikel, seperti:

  • Art.6: mempertimbangkan risiko ESG
  • Art.8: mempromosikan karakteristik berkelanjutan
  • Art.9: memiliki tujuan yang sepenuhnya berkelanjutan
SFDR

Selain itu, tahun 2024 mulai berlaku peraturan baru di tingkat Eropa (CSRD) tentang penyajian informasi keberlanjutan di perusahaan UE. Tujuannya adalah untuk mendorong perusahaan menjadi lebih transparan dalam hal-hal yang berkaitan dengan keberlanjutan.

Pentingnya di Pasar Saat ini

Memasukkan kriteria ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola) ke dalam penilaian fundamental perusahaan kini makin esensial. Hal ini membantu menghindari risiko pada masa depan yang bisa merugikan laporan keuangan perusahaan.

Risiko-risiko terkait ESG bisa meningkatkan biaya operasional, mempengaruhi keuntungan, dan mengurangi pangsa pasar dibandingkan kompetitor. Reputasi perusahaan juga terancam sehingga bisa meningkatkan biaya risiko dan menurunkan nilai serta harga saham perusahaan.

Apa itu Kriteria ESG?

Kriteria ESG adalah serangkaian KPI (indikator) lingkungan, sosial dan tata kelola yang bertujuan untuk menganalisis dan menghindari risiko masa depan yang mungkin bagi perusahaan dan kelayakan sebagai perusahaan.

  • Lingkungan: Ini adalah serangkaian indikator yang mengukur tingkat dampak positif/negatif pada planet. Contohnya adalah emisi CO2, penghematan energi (konsumsi MW), pengolahan air (m3 konsumsi dan daur ulang), deforestasi (hektar yang terpengaruh), dan lainnya.
  • Sosial: Ini adalah serangkaian indikator yang mengukur dampak positif/negatif pada masyarakat. Sebagai contohnya keselamatan dan kesehatan kerja (tingkat kematian/cedera), tingkat rotasi karyawan, retensi bakat (penyediaan kursus dan pelatihan), hubungan dengan pelanggan dan pemasok, dan lainnya.
  • Tata kelola: Ini adalah serangkaian indikator yang mengevaluasi risiko tata kelola dalam tim manajemen. Contohnya jumlah penasihat independen, remunerasi manajemen, laporan dan audit eksternal, dan lainnya.
nilai ESG dalam investasi berkelanjutan

Rating ESG

Saat ini terdapat beragam lembaga yang melakukan penilaian ESG, dengan beberapa yang terkenal seperti MSC, S&P, Sustainalytics, Clarity, dan Bloomberg. Kendala utama adalah perbedaan sistem penilaian dan metodologi mereka, yang membuat investor kesulitan membandingkan dan menyimpulkan secara umum. Namun, tren penggabungan lembaga-lembaga ini dan peningkatan regulasi menunjukkan bahwa ke depannya akan ada lebih sedikit lembaga dengan metodologi yang lebih seragam.

Peringkat ESG dari berbagai agensi penilaian

Sektor Investasi Berkelanjutan

Ketika kita berbicara tentang investasi berkelanjutan, banyak investor percaya bahwa cakupannya terbatas. Kenyataannya tidak demikian karena dalam megatren ini ada berbagai sektor yang sangat berbeda satu sama lain, seperti misalnya:

  • Energi terbarukan:
    • Potensi pertumbuhan besar berkat kebijakan dekarbonisasi yang kuat dan krisis energi di banyak wilayah, plus penurunan biaya logistik dan material yang progresif. Selain itu, baru-baru ini banyak perusahaan telah menandatangani kontrak penjualan energi jangka panjang (PPA) dengan harga yang sangat tinggi untuk melindungi diri dari volatilitas harga di pasar.
      • Contoh: Grenergy dan EDPR.
  • Pengolahan air:
    • Peningkatan demografi, peningkatan kekeringan dan kekurangan air minum di seluruh dunia (hanya 0,4% yang layak untuk konsumsi manusia) membuat sektor ini makin penting, selain untuk mencegah penyakit akibat pencemarannya.
      • Contoh: Veolia dan Pentair.
  • Pengelolaan limbah:
    • Kesadaran yang lebih besar tentang daur ulang dan pengolahan limbah membuat investasi dalam daur ulang meningkat daripada mengirim sampah ke tempat pembuangan, mencemari tanah, air dan tanah.
      • Contoh: Befesa dan Clean Harbors.
  • Kemasan berkelanjutan:
    • Potensi pertumbuhan besar karena regulasi yang kuat untuk penggantian plastik, mendorong bahan baku daur ulang dengan model bisnis berbasis ekonomi sirkular.
      • Contoh: Verallia dan Smurfit Kappa.
  • Efisiensi Energi:
    • Sektor fundamental untuk transisi energi dan elektrifikasi global, penghematan energi oleh perusahaan dalam sektor ini menghasilkan peningkatan produktivitas industri dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
      • Contoh: Linde dan Schneider Electric.
  • Transportasi Berkelanjutan:
    • Prediksinya pertumbuhan eksponensial dalam beberapa tahun mendatang dengan penggantian mobil konvensional dengan mobil listrik untuk mengurangi emisi. Harga baterai turun drastis sehingga mobil listrik menjadi kompetitif dengan penurunan harga yang signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
      • Contoh: Zaptec dan CATL.

Bagaimana Cara Berinvestasi dalam Keberlanjutan?

Saat berinvestasi dalam keberlanjutan, kita bisa melakukannya melalui berbagai cara. Misalnya, membeli saham perusahaan, dana investasi ekuitas, obligasi hijau atau sosial, dana indeks, atau proyek khusus perusahaan seperti proyek fotovoltaik atau sel surya.

Namun, jika kita ingin mendapatkan keuntungan dengan mengurangi risiko, kita perlu melakukan diversifikasi. Salah satu opsi paling menarik untuk berinvestasi dalam keberlanjutan adalah melalui dana investasi (reksa dana).

Berinvestasi dalam Dana Investasi Berkelanjutan

Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan eksposur dalam keberlanjutan adalah melalui investasi ESG (Environmental, Social, and Governance) pada produk reksa dana.

Dana berkelanjutan adalah kendaraan investasi dengan kebijakan investasi di perusahaan atau dana lain yang memenuhi kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.

Beberapa contoh produk reksa dana yang berbasis ESG, seperti:

  • I-Hajj Syariah Fund
  • Insight Sri Kehati Likuid – I Sri Likuid
  • Reksa Dana Indeks BNP Paribas Sri Kehati
  • Batavia Global ESG Sharia Equity USD
  • Manulife Saham Syariah ESG Transisi Global Dolar AS Kelas A2

Tindakan Perusahaan Berkelanjutan

Sejak Desember 2022, BEI meluncurkan indeks IDX ESG Leaders yang berisikan 30 ESG emiten, mulai dari Unilever, Ace Hardware, hingga Ciputra.

Berikut ini kami perkenalkan beberapa perusahaan yang menonjol dengan praktik berkelanjutan mereka, berfungsi sebagai acuan untuk investasi yang bertanggung jawab:

  • AKR Corporindo (AKRA):
    • AKRA berkomitmen pada ESG untuk tanggung jawab sosial dan pertumbuhan laba. Fokusnya pada kesehatan, HAM, lingkungan, energi, iklim, etika, dan integritas. AKRA menggunakan bahan bakar ramah lingkungan dan mendukung Program B30.
  • Bank Central Asia (BBCA):
    • BCA menjadi Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI) pada 2018. Dengan membentuk unit ESG dan menerapkan RAKB, BCA berkomitmen menjadi bank berkelanjutan. Melalui strategi tiga pilar, BCA memperkuat perbankan bertanggung jawab, budaya keberlanjutan, dan nilai sosial.
  • Bank Mandiri (BMRI):
    • Bank Mandiri bertekad menjalankan prinsip keberlanjutan dengan fokus pada perbankan, operasi, dan tanggung jawab sosial perusahaan. Mereka menargetkan sektor-sektor prioritas dan mengeluarkan obligasi berkelanjutan serta mengadopsi praktik ramah lingkungan. Komitmen ini tercermin dalam laporan keberlanjutan.
  • Bank Negara Indonesia (BBNI):
    • BNI fokus pada lima pilar keberlanjutan: Indonesia, pelanggan, karyawan, masyarakat, dan lingkungan. BNI telah memberikan pembiayaan hijau sebesar 176 triliun rupiah hingga September 2022. Selain itu, BNI dukung digitalisasi untuk mengurangi emisi dan tingkatkan kesadaran lingkungan karyawan.
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI):
    • BRI mulai terlibat dalam ESG sejak 2013, sebelum OJK membuat regulasi. BRI juga terlibat dalam inisiatif OJK tentang perbankan berkelanjutan sejak 2015. Pada 2018, BRI mengeluarkan kebijakan ESG. Pada 2022, BRI memiliki peta jalan untuk menjadi bank berkelanjutan.
  • Bumi Serpong Damai (BSDE):
    • BSD komitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan dengan fokus pada real estate berkualitas, lingkungan, dan masyarakat. BSD menerapkan konsep ESG serta telah meraih banyak penghargaan. BSD yakin dapat memberikan manfaat lebih bagi komunitas dan meningkatkan profitabilitas bisnis.
  • Semen Indonesia (SMGR):
    • SIG mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia melalui ekonomi, energi bersih, ekonomi sirkular, serta pemberdayaan masyarakat untuk masa depan yang lebih baik.
  • Unilever Indonesia (UNVR):
    • Unilever Indonesia ingin dicintai dan dihormati masyarakat dengan sentuhan sehari-hari, tanpa mengabaikan hak asasi manusia dan lingkungan. Mereka fokus pada keberlanjutan dan kebaikan, mendukung SDGs.

Jika Anda sedang mencari broker untuk membeli saham ini, kami memiliki beberapa rekomendasi, seperti Indo Premier, Ajaib Sekuritas, BNI Sekuritas, dan Mirae Sekuritas.

Keberlanjutan vs Rentabilitas: Apakah Mungkin Menemukan Titik Keseimbangan?

Investasi dalam keberlanjutan bukan berarti pengorbanan rentabilitas. Bahkan, dengan memasukkan kriteria ESG dalam analisis fundamental, apa yang kita lakukan adalah menghindari risiko masa depan bagi perusahaan dan membuat kendaraan investasi menjadi lebih menguntungkan dan dengan pertumbuhan berkelanjutan sepanjang waktu.

Pada akhirnya, keberlanjutan memiliki korelasi tinggi dengan kualitas perusahaan. Ketika kita berbicara tentang perusahaan berkualitas, kita berbicara tentang perusahaan dengan pertumbuhan yang solid pada masa depan, margin tinggi, dan tim manajemen yang transparan dan berkomitmen untuk pertumbuhan pada masa depan.

S&P 500 Index vs S&P ESG Index

Perbandingan Indeks S&P investasi berkelanjutan vs indeks S&P biasa

Perspektif Investasi Berkelanjutan

Dengan naiknya suku bunga belakangan ini, banyak perusahaan yang fokus pada sektor pertumbuhan dan menggunakan utang untuk berkembang telah mengalami penurunan nilai saham. Mereka membutuhkan investasi besar untuk mengembangkan proyek atau produk mereka.

Namun, kami pikir penurunan ini terlalu berlebihan dan telah merugikan sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan besar di masa depan, seperti energi terbarukan, pengolahan air, pengelolaan limbah, dan transportasi berkelanjutan. Saat ini, pasar memberi kesempatan bagi kita untuk masuk ke sektor-sektor ini dengan potensi keuntungan yang menarik. Ingatlah bahwa perusahaan yang tidak tumbuh tidak akan bisa bertahan dalam jangka panjang.

Contoh evolusi S&P Global Clean Energy (garis putih) dibandingkan S&P 500 (garis oranye) dapat kita lihat dalam grafik ini. Grafik ini menunjukkan bagaimana indeks pertama, yang umumnya mencakup perusahaan-perusahaan berkelanjutan di sektor energi bersih, tertinggal selama dua tahun terakhir di lingkungan dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Sumber:Bloomberg

Pendapat Rankia tentang Investasi Berkelanjutan

Perubahan global menuntut kita untuk mempertimbangkan kembali cara kita berinvestasi, dengan penekanan khusus pada keberlanjutan dan bagaimana keputusan keuangan kita dapat mempengaruhi masa depan planet dan masyarakat. Pendidikan keuangan, dilengkapi dengan pengetahuan dasar tentang kriteria ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola), menjadi alat penting dalam proses ini. Namun, kurangnya pengetahuan umum tentang opsi investasi hijau dan dampak potensialnya merupakan tantangan yang signifikan. Sangat penting bagi perencana keuangan untuk tidak hanya fokus pada profil risiko klien, tetapi juga untuk menggambarkan kemungkinan dan manfaat produk berkelanjutan yang tersedia, membuka jalan untuk pemahaman dan penerimaan yang lebih besar terhadap strategi investasi ini.

Seiring berjalannya integrasi kriteria ESG dalam opsi investasi, kemungkinan kita akan melihat peningkatan dalam pendidikan keuangan dan kesadaran tentang keberlanjutan, yang dapat mengarah pada perubahan signifikan dalam bagaimana dan di mana kita berinvestasi uang kita. Pendekatan ini tidak hanya mencari pengembalian finansial, tetapi juga menghasilkan dampak positif pada lingkungan dan masyarakat.

Namun, penting untuk diingat bahwa informasi yang disediakan di sini bukan merupakan rekomendasi pembelian. Sebelum membuat keputusan investasi apa pun, Anda disarankan untuk mencari nasihat dari profesional yang dapat menawarkan panduan pribadi sesuai dengan tujuan dan profil risiko Anda. Berinvestasi secara bertanggung jawab bukan hanya keputusan finansial, tetapi juga langkah menuju kontribusi ke masa depan yang lebih berkelanjutan.

Kami juga sudah menyediakan artikel lainnya yang berhubungan dengan investasi di saham, reksa dana, atau ETF.

Investasi Saham Small Cap: Kelebihan dan Kekurangan

Broker Terbaik Beli Saham Indonesia, Ini Daftarnya!

Apa Itu Exchange Traded Funds (ETF) dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Investasi Reksa Dana: Kupas Tuntas Kelebihan dan Kekurangannya

FAQs – Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan investasi berkelanjutan?

Investasi berkelanjutan adalah memilih investasi dengan mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Lingkungan (E) mencakup bagaimana perusahaan menangani perubahan iklim dan dampak aktivitas mereka terhadap bumi.

Apa arti dari investasi hijau?

Investasi hijau adalah jenis investasi yang menekankan pada kelestarian dan keberlanjutan lingkungan, terutama di bidang pariwisata, dan tren ini diprediksi akan terus meningkat di masa depan.

Artikel Terkait