Saham

Saham BYD kini menjadi perbincangan setelah perusahaan tersebut perlahan mulai menggeser Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar dunia. Hal ini tentu memberikan kita peluang untuk ikut merasakan keuntungan dari kinerja fantastis perusahaan tersebut. Namun, bagaimana kita berinvestasi pada perusahaan BYD dari Indonesia?
Dalam artikel ini, kami akan membahas apa itu BYD. Kemudian, kami juga akan membahas hal-hal apa saja yang membuat perusahaan ini bisa menjadi raksasa mobil listrik dunia. Terakhir, kami juga akan membahas bagaimana Anda dapat berinvestasi dalam saham BYD dari Indonesia alias cara beli saham BYD
Yuk, simak untuk tahu lebih jelas!
👉 Peluang Investasi Sektor Energi Lewat Saham dan ETF
BYD adalah produsen mobil listrik (dulunya produsen baterai isi ulang) yang telah berdiri sejak 1995 di Shenzhen. Pada saat itu, Shenzhen masih berkembang sebagai salah satu kawasan ekonomi khusus yang paling dinamis di Tiongkok. Pendiri BYD, Wang Chuanfu, adalah seorang insinyur teknik kimia yang memilik ambisi luar biasa.

Ia benar-benar paham akan kebutuhan pasar, yaitu memproduksi baterai isi ulang dalam skala besar dengan biaya yang rendah. Ini karena adanya ledakan permintaan ponsel dan perangkat elektronik berukuran kecil yang terjadi pada masa itu, sementara pemasok dari Jepang dan Korea mendominasi dengan harga tinggi. Wang memahami bahwa keunggulan utama Tiongkok adalah skala produksi yang masif dan kemampuan untuk menekan biaya.
Dalam beberapa tahun pertamanya, BYD berkembang pesat dari pabrik kecil yang hanya memiliki 20 karyawan menjadi perusahaan dengan ribuan pekerja. Mereka berhasil mendominasi produksi baterai berbasis nikel dan lithium-ion.
Mereka tidak menawarkan produk yang lebih baik, namun menawarkan baterai yang lebih andal dan lebih terjangkau daripada kompetitornya. Pengalaman produksi massal dan efisiensi biaya inilah yang kemudian menjadi DNA perusahaan. Baca hingga akhir untuk tahu cara beli saham BYD dari Indonesia!
👉 Berinvestasi di Taiwan melalui Saham, ETF, dan Reksa Dana
BYD mengambil langkah besar pada tahun 2002 dengan melakukan IPO saham di bursa Hong Kong dengan valuasi yang mencapai US$ 300 juta. Langkah ini semakin membuat keuangan perusahaan menjadi kuat dan menarik minat investor global. Saat Tiongkok bergabung pada 2001, pasar tengah mencari perusahaan yang mampu bertumbuh cepat, BYD memenuhi ekspektasi tersebut.
Kemudian, pada 2003, BYD mengakuisisi Qinchuan Automobile Company, perusahaan produsen mobil milik negara. Awalnya, banyak yang ragu akan langkah ini karena industri otomotif jauh lebih rumi daripada membuat baterai.
Namun, Wang Chuanfu memiliki suatu visi bahwa masa depan transportasi adalah elektrifikasi. Produksi mesin dengan bahan bakar hanya menjadi batu loncatan untuk mempelajari industri otomotif sebelum BYD berfokus pada kendaraan listrik. IPO saham BYD tidak dilakukan di Bursa Efek Indonesia, sehingga cara beli saham BYD tidak bisa dibeli secara langsung di Indonesia.
Pada tahun 2008, BYD meluncurkan F3DM, plug-in hybrid pertama yang diproduksi massal di Tiongkok. Hal ini membuktikan bahwa BYD selangkah lebih maju dari banyak raksasa otomotif dunia.
Pada tahun yang sama, Berkshire Hathaway melalui Warren Buffet dan Charlie Munger membeli 10% saham BYD dengan nilai US$ 230 juta. Hal ini tidak hanya memberikan BYD modal, namun juga memberikan legitimasi global.
Saat ini, kapitalisasi pasar dari saham BYD mencapai lebih dari US$ 120 miliar. Pergerakan harga sahamnya mungkin terlihat volatil karena sentimen pasar terhadap Tiongkok, namun saham tersebut memiliki arah pertumbuhan yang jelas. BYD telah berevolusi dari produsen baterai yang tidak begitu terkenal menjadi pemain besar dalam industri kendaraan listrik dan otomotif global.
Kisa BYD ini tidak hanya menggambarkan pertumbuhan sebuah perusahaan, melainkan menjadi gambaran terhadap transformasi Tiongkok. Dari "pabrik dunia" dengan biaya murah, negara tersebut berubah menjadi pusat ini yang berani menantang Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat dalam industri otomotif yang sudah berusia ratusan tahun.
👉 Indikator Buffett untuk Menilai Pasar Saham
Pemahaman BYD lebih cepat daripada kebanyakan kompetitornya, bahwa mobil listrik bukanlah produk tunggal, melainkan bagian dari sebuah ekosistem besar. Berbeda dengan Tesla yang berfokus pada software dan segmen premium. BYD memilih strategi yang menyeluruh, yaitu penambangan bahan baku, produksi baterai, pembuatan kendaraan listrik (mobil, bus, dan truk), hingga sistem penyimpanan energi dan produksi semikonduktor.
Pendekatan ini memberikan BYD keunggulan biaya dan kontrol kualitas. Selain itu, menjadikannya perusahaan yang berdiri kokoh di seluruh mata rantai industri kendaraan listrik.
Kemudian, pada 2020 BYD meluncurkan baterai Blade berbasis lithium iron phosphate (LFP). Desainnya yang memanjang dan ringkas dapat meningkatkan kepadatan energi, mengurangi risiko kebakaran, dan menurunkan biaya produksi.
Meskipun densitas energinya lebih rendah daripada baterai NCM, kombinasi antara keamanan dan harga menjadikannya pilihan populer. Bahkan, Tesla mulai menggunakan baterai LFP di beberapa model yang dibuat di Tiongkok.
BYD tidak hanya menawarkan kendaraan listrik penumpang, melainkan mereka juga menawarkan kendaraan komersial. Berikut beberapa kategori dari lini kendaraan penumpang BYD:

Dengan pendekatan ini, BYD dapat menjangkau konsumen dari berbagai kalangan, sambil tetap memberikan harga yang lebih kompetitif daripada produsen Barat.
Kemudian, BYD juga menjadi pemimpin produsen bus listrik, dengan lebih dari 70.000 unit yang beroperasi di London, Bogota, dan Los Angeles. BYD juga memproduksi truk ringan, van, dan forklift listrik.
Meskipun kurang populer, segmen komersial ini sangat strategis karena mendukung dikarbonisasi transportasi publik. Sehingga, membuka peluang kerja sama dengan pemerintah dan perusahaan logistik.
Unit bisnis energi juga menjadi pilar penting bagi BYD. Perusahaan ini mengembangkan sistem penyimpanan energi stasioner yang memungkinkan listrik energi terbarukan disimpan untuk digunakan saat permintaan sedang tinggi. Pada 2024, sektor ini mencatatkan pendapatan lebih dari US$ 4,5 miliar, mengalami pertumbuhan lebih dari 20% YoY.
Selain baterai, BYD juga memproduksi chip-nya sendiri, membuat perusahaan tersebut tetap produktif meskipun terjadi krisis microchip global 2020-2021 yang melumpuhkan banyak produsen otomotif.
Platform Dual Mode (plug-in hybrid) menawarkan jarak tempuh listrik lebih dari 100 km. Kemampuan ini jauh di atas standar mobil listrik Barat dan menjadi pilihan populer di Tiongkok. Di sisi digital, sistem DiLink menghadirkan pengalaman berkendara yang terhubung tanpa menargetkan otonomi tinggi seperti yang ada di mobil Tesla.
Singkatnya, BYD tidak hanya membuat mobil, namun membangun ekosistem energi dan mobilitas. Integrasi secara vertikal dan diversifikasi inilah yang menjadikan BYD raksasa mobil listrik dunia.
BYD memiliki kekuatan industri yang luar biasa. Ini karena pada 2024, BYD mengoperasikan lebih dari 30 pusat produksi Tiongkok. Ini mencakup mega factory di Shenzhen, Xi’an, Changsha, dan Hefei, dengan kapasitas lebih dari 4 juta kendaraan per tahun. Skala ini setara dengan produsen Jepang dan Eropa namun lebih berfokus pada kendaraan listrik.
Di sisi tenaga kerja, BYD mempekerjakan lebih dari 60.000 orang di seluruh dunia, mayoritas di Tiongkok. Gaji pekerja di lini produksi rata-rata sekitar US$ 9.000 per tahun, jauh lebih rendah daripada rata-rata di Eropa Barat (US$ 45.000 per tahun). Perbedaan upah ini, memungkinkan BYD memproduksi mobil dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada kompetitornya di Barat.
Meskipun efisien, BYD menuai kritik dalam hal ketenagakerjaan. Beberapa LSM menyoroti jam kerja yang lebih dari 50 jam per minggu dan lemahnya representasi serikat pekerja di Tiongkok. Namun, BYD mengklaim akan mematuhi regulasi setempat dan menyatakan bahwa pabriknya di Eropa akan patuh pada standar tenaga kerja Uni Eropa.
Selain itu, BYD secara masif melakukan ekspansi internasional-nya. Berikut detailnya:
Tujuan dari ekspansi ini mendekatkan ke sasaran mereka, menekan biaya logistik, dan menghindari tarif impor.
Di sisi rantai pasok, BYD mengendalikan sebagian besar komponen penting internal mereka (baterai, motor listrik, hingga semikonduktor) sehingga tidak bergantung pada pemasok dari luar. Mereka juga mengamankan kontrak litium senilai lebih dari US$ 15 miliar untuk jangka 10 tahun. Penggunaan baterai LFP yang tidak memerlukan kobalt dapat meminimalkan risiko finansial dan reputasi terkait penambangan nikel di Afrika.
BYD bahkan meluncurkan kapal kargonya sendiri di tahun 2024. Kapal tersebut memiliki kapasitas angkut 7.000 unit mobil untuk menekan biaya ekspor.
Kekuatan industri, kendali penuh atas rantai pasok, biaya tenaga kerja yang lebih rendah, dan integrasi menjadi alasan mengapa BYD mampu menjual kendaraan dengan harga lebih murah. Mereka juga tetap dapat mempertahankan keuntungannya. Inilah "penggerak utama" yang mendorong ekspansi global dari BYD.

Model bisnis dari BYD yang solid ini tercermin dari kinerja keuangannya.
Cara beli saham BYD memang cukup menarik untuk dikulik. Apalagi pada periode 2022-2024, BYD mengalami lonjakan pendapatan dari US$ 60 miliar menjadi US$ 97 miliar. Laba bersih juga mengalami kenaikan dari US$ 2,4 miliar menjadi US$ 4,9 miliar. Meskipun pertumbuhannya tidak secepat masa awal ekspansi, kinerja ini tetap impresif.
BYD menghentikan produksi mobil bermesin bahan bakar dan sepenuhnya beralih ke BEV dan PHEV di tahun 2022. Ini menjadikan mereka produsen global pertama yang melakukan elektrifikasi total. Keputusan ini membuat pendapatan perusahaan naik 90% dari tahun sebelumnya.
Di tahun 2023, penjualan bertumbuh 40% menjadi US$ 84 miliar dengan laba bersih US$ 4,2 miliar. Margin kotor BYD berada di 17%, lebih rendah dari Tesla. Hal ini menunjukkan profitabilitas yang tetap terjaga meskipun ada penekanan harga jual.
Pertumbuhan lebih moderat terjadi di tahun 2024 dengan pendapatan naik 15% (US$ 97 miliar) dan laba bersih naik 16% (US$ 4,9 miliar). Meskipun ada penurunan margin karena pemotongan harga di Asia dan Eropa, hal ini diimbangi dengan peningkatan volume penjualan lebih dari 3,5 juta unit.
Neraca keuangan menunjukkan struktur modal yang kuat, dengan total utang US$ 22 miliar dan net debt US$ 8 miliar. Rasio EBITDA yang masih di bawah 2x masih tergolong sehat. Arus kas operasional di 2024 mencapai lebih dari US$ 12 miliar, namun free cash flow hanya US$ 3 miliar karena adanya belanja modal besar untuk ekspansi pabrik dan R&D.
Kapitalisasi pasar saat ini mencapai lebih dari US$ 120 miliar dengan rasio P/E 22,29. Pada semester pertama, BYD berhasil menjual 1,9 juta unit dan mempertahankan margin bersih 5%. Hal tersebut menunjukkan ketahanan di tengah perang harga global.
Wang Chuanfu tetap menjadi penentu arah strategi perusahaan. Sebagai pendiri dan CEO, ia memiliki kendali kuat selama tiga dekade dan menjadi "penjaga" visi jangka panjang perusahaan. Namun, sebagian besar investor mengkritik kurangnya pemisahan antara kepemilikan dan manajemen.
Di sisi lain, Berkshire Hathaway kini tidak lagi menjadi pemegang saham BYD. Ini karena Warren Buffett yang telah memiliki 10% saham BYD, memutuskan untuk menjual sahamnya secara bertahap hingga pada akhirnya terjual seluruhnya.
Keputusan ini mencerminkan realisasi keuntungan sekaligus kewaspadaan terhadap risiko sektor otomotif Tiongkok. Ini karena dukungan anggaran negara dan institusi lokal masih menjadi fondasi utama bagi stabilitas keuangan BYD.
Meskipun telah memiliki dewan direksi yang independen, jumlahnya masih lebih sedikit daripada perusahaan Barat. Selain itu, Hong Kong dan Shenzhen menekan BYD untuk meningkatkan transparansi meskipun tata kolala perusahaan belum seperti perusahaan otomotif di Eropa dan AS.
Sebelum tahu cara beli saham BYD, Anda harus tahu risiko investasinya. Pertama, penjualan BYD sangat bergantung dari permintaan pasar Tiongkok (70% dari penjualan). Di sisi lain, merek ini masih dipandang sebelah mata di negara-negara Barat. Kemudian, ada tekanan margin untuk membuat produk lebih murah dan risiko regulasi akibat tensi perdagangan internasional.
Di sisi kelestarian lingkungan, isu ini menjadi sorotan besar. Meskipun BYD memosisikan diri sebagai pemain transisi energi, produksinya masih sangat bergantung pada energi yang berbasis batu bara.
Penambangan litium dan fosfat juga menimbulkan dampak ekologis di Amerika Latin dan Afrika. Sehingga, menimbulkan permasalahan seperti kelangkaan air dan kerusakan lingkungan. Dari sebab itu, AS dan Eropa semain memperketat regulasinya, menuntut investasi lebih besar pada proses produksi yang lebih ramah lingkungan.
Persaingan domestik juga semakin menguat dengan munculnya beberapa merek lain seperti NIO, XPeng, dan Li Auto. Oleh karena itu, BYD harus memperkuat citranya sebagai produsen mobil listrik terpercaya dengan harga terjangkau. Selain itu, mereka juga harus membuktikan kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan, tidak hanya pada produksi mobil tetap juga pada seluruh rantai proses bisnisnya.
Keberhasilan BYD di masa depan bergantung pada tiga hal, yaitu integrasi jaringan pabrik internasional-nya, perbaikan citra merek BYD di negara Barat, dan mampu merespons kritik lingkungan dengan baik. Jika ketiganya tercapai, BYD berpotensi mempertahankan kepemimpinannya sebagai produsen mobil listrik terbesar.
Sayangnya, Anda tidak dapat membeli saham BYD Indonesia secara langsung di Indonesia. Ini karena saham BYD hanya diperdagangkan di bursa Hong Kong dan Shanghai dan Anda harus menggunakan broker internasional. Namun, ada satu cara yang memungkinkan Anda untuk berinvestasi saham BYD dari Indonesia, yaitu melalui ETF.
Meskipun tidak membeli saham secara langsung, ETF memungkinkan Anda untuk mendapatkan eskposur dari kinerja saham BYD. Salah satu contoh ETF yang memasukkan saham BYD ke dalam portofolionya adalah iShares China Large-Cap ETF (FXI).
ETF ini berisi kumpulan 50 perusahaan Tiongkok terbesar yang memiliki kapitalisasi besar terutama dari sektor keuangan, telekomunikasi, energi, dan internet. iShares China Large-Cap ETF memberikan imbal hasil YTD sebesar 34,86%.
Berikut kinerja ETF ini dalam YTD:

Berikut Top Holding dari iShares China Large-Cap ETF:

Beberapa aplikasi investasi teregulasi di Indonesia yang memungkinkan Anda untuk membeli ETF tersebut adalah Pluang, Ajaib, Gotrade Indonesia, dan XTB. Berikut informasi terkait biaya transaksi yang ada pada masing-masing platform:
| Pluang | 0,30% untuk pengguna Pluang Reguler dan 0,20% untuk member Pluang Plus | ||
| Ajaib | Biaya beli dan jual sebesar 0,3% per transaksi | ||
| Gotrade Indonesia | 0,3% untuk pengguna reguler dan 0,2% untuk pengguna Prestige *Biaya ini belum termasuk TAF (US$ 0,000166 per saham), CAT (US$ 0,00000265 per saham), biaya JFX (0,05% dari total transaksi), dan PPN 11% | ||
| XTB | Gratis untuk transaksi bulanan setara US$ 100.000, setelahnya akan dikenakan komisi 0,2% dengan minimal transaksi US$ 10 EUR |
| Platform Investasi | Biaya Transaksi |
|---|---|
| Pluang | 0,30% untuk pengguna Pluang Reguler dan 0,20% untuk member Pluang Plus |
| Ajaib | Biaya beli dan jual sebesar 0,3% per transaksi |
| Gotrade Indonesia | 0,3% untuk pengguna reguler dan 0,2% untuk pengguna Prestige *Biaya ini belum termasuk TAF (US$ 0,000166 per saham), CAT (US$ 0,00000265 per saham), biaya JFX (0,05% dari total transaksi), dan PPN 11% |
| XTB | Gratis untuk transaksi bulanan setara US$ 100.000, setelahnya akan dikenakan komisi 0,2% dengan minimal transaksi US$ 10 EUR |
👉 ETF Terbaik untuk Investasi dari Indonesia
Pertaruhan yang BYD ambil mencerminkan keyakinan bahwa mobil listrik adalah masa depan industri otomotif. Ini karena regulasi global juga bergerak ke arah yang sama. Uni Eropa akan melarang mobil bermesin mulai 2035, diikuti dengan Amerika Serikat, Tiongkok juga memberikan subsidi yang besar untuk EV.
Kemudian, penurunan biaya produksi baterai dari US$ 1.000/kWh di tahun 2010 menjadi US$ 150/kWh di 2024, menjadikan mobil listrik menjadi semakin kompetitif. Dengan baterai Blade dan biaya produksi mencapai US$ 17.000 per unit, BYD sudah mendekati biaya produksi mobil bensin.
Namun, adopsi ke Electric Vehicle tidak lepas dari kritik. Produk massal yang membutuhkan litium, nikel, dan fosfat menimbulkan dampak kerusakan lingkungan yang serius.
Di sisi lain, produksi mobil listrik Tiongkok juga masih bergantung pada energi dari batubara sehingga juga berdampak pada lingkungan. Kemudian, kemampuan daur ulang baterai juga masih tertinggal sehingga dapat menimbulkan masalah jangka panjang.
Meskipun alternatif bahan bakar lain seperti hidrogen dan bahan bakar sintetis semakin berkembang, tren otomotif global tetap mengarah pada EV. Ini karena pada 2024, adopsi mobil listrik mencapai 60% di Norwegia dan 20% di Tiongkok serta Eropa.
BYD memilih untuk memimpin dalam transisi ini. Namun, keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan mereka untuk membuktikan bahwa metode produksinya benar-benar berkelanjutan. Sehingga, tidak hanya memindahkan polusi dari jalan raya ke area tambang.
👉🏻 Ini Daftar Saham Nikel Terbaik yang Bisa Kamu Lirik!