Uang

Inflasi Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat 2,92%. Namun pada Januari 2026 Indonesia mengalami deflasi bulanan 0,15% dan inflasi tahunan 3,55%.
Adapun inflasi adalah situasi di mana harga-harga barang dan jasa di suatu negara terus meningkat dalam jangka waktu tertentu dan memengaruhi sejumlah besar barang dan jasa. Dalam inflasi, nilai uang turun, dan untuk mengukurnya kita gunakan CPI (Indeks Harga Konsumen). Ini merupakan kondisi yang berlawanan dengan deflasi. Dalam artikel ini, kami akan menyajikan tren inflasi di Indonesia pada tahun 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya deflasi pada Januari 2026 di Indonesia secara bulanan sebesar 0,15%. Sebelumnya, pada Desember 2026 Indonesia mengalami inflasi bulanan sebesar 0,64%.
Deflasi adalah kondisi saat harga barang dan jasa mengalami penurunan dalam suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu. Kondisi ini bisa meningkatkan daya beli masyarakat dalam jangka pendek.

Pendorong deflasi secara bulanan adalah pada kelompok makanan, miniman dan tembakau. Kelompok ini mengalami deflasi 1,03% dengan andil 0,3%.
BPS menjelaskan dari kelompok tersebut komoditas yang menyumbang deflasi adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, wortel, kelapa, cabai hijau, kentang, jeruk, sawi hijau, bensin, tarif angkutan udara dan tarif angkutan antar kita.
Sehingga apabila dilihat berdasarkan komponennya:
Berikut juga komponen energi mengalami deflasi 0,33% dan bahan makanan deflasi 1,55%.
👉🏻 Sepanjang 2025, inflasi di Indonesia didorong oleg kenaikan harga emas. Baca artikel menarik: Cuan dari Emas, Ini 5 Aplikasi Investasi Emas Digital Terpercaya
Berikut kami sajikan data inflasi secara bulanan sepanjang Januari-Desember 2025:
| Bulan | Inflasi | ||
| Januari | -0,76% | ||
| Februari | -0,48% | ||
| Maret | 1,65% | ||
| April | 1,17% | ||
| Mei | -0,37% | ||
| Juni | 0,19% | ||
| Juli | 0,30% | ||
| Agustus | -0,08% | ||
| September | 0,21% | ||
| Oktober | 0,28% | ||
| November | 0,17% | ||
| Desember | 0,64% |
| Bulan | Inflasi |
| Januari | -0,76% |
| Februari | -0,48% |
| Maret | 1,65% |
| April | 1,17% |
| Mei | -0,37% |
| Juni | 0,19% |
| Juli | 0,30% |
| Agustus | -0,08% |
| September | 0,21% |
| Oktober | 0,28% |
| November | 0,17% |
| Desember | 0,64% |
Namun demikian, tingkat inflasi secara tahunan sedikit meningkat. Inflasi Indonesia adalah 3,55% secara tahunan pada Januari 2026. Meningkat dari inflasi pada Desember 2025 yang tercatat 2,92% secara tahunan (yoy).

Pendorong inflasi ini terjadi pada kelompok pengeluaran untuk perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga. Pada kelompok pengeluaran ini terjadi inflasi 11,93% dengan andil 1,72% terhadap inflasi umum.
Kelompok pengeluaran lain yang mendorong inflasi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi 15,22% dengan andil 1% pada inflasi umum.
Komoditas yang memberikan andil inflasi Indonesia Januari 2026 adalah beras, ikan segar, daging ayam ras, bawang merah, kopi bubuk, sigaret kretek tangan, sigaret kretek mesin, sigaret putih mesin, nasi dengan lauk, tarif listrik, sewa rumah, kontrak rumah, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, upah asisten rumah tangga, sepeda motor, mobil, uang sekolah SD, uang kuliah dan emas perhiasan.
Berdasarkan sub kelompok, inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 30,34% secara tahunan. Disusul oleh sub kelompok perawatan pribadi lainnya 43,11% dan sub kelompok rokok dan tembakau yaitu 3,17%.
Apabila dilihat dari komponennya:

Lebih lanjut, komponen energi mengalami inflasi 14,94% secara tahunan. Sementara itu inflasi bahan makanan tercatat 1,19%.
Dari data di atas dapat kita simpulkan bahwa deflasi bulanan terjadi karena efek musiman. Sementara inflasi tahunan yang meningkat menunjukkan meningkatnya biaya hidup dasar yang terasa langsung ke masyarakat.
Inflasi energi secara tahunan juga menunjukkan adanya tekanan pada biaya produksi masih tinggi.
Jika dilihat dari komponennya, inflasi inti masih terkendali secara tahunan. Namun inflasi harga diatur pemerintah menunjukkan kenaikan signifikan. Artinya inflasi Indonesia secara tahunan terjadi bukan karena kenaikan konsumsi masyarakat yang signifikan.
Berikut data inflasi sepanjang Januari-November 2025 secara tahunan (yoy):
| Bulan | Inflasi secara tahunan | Inflasi sejak awal tahun (year-to-date) | |||
| Januari | 0,76% | -0,76% | |||
| Februari | -0,09% | -1,24% | |||
| Maret | 1,03% | 0,39% | |||
| April | 1,95% | 1,56% | |||
| Mei | 1,6% | 1,19% | |||
| Juni | 1,87% | 1,38% | |||
| Juli | 2,37% | 1,69% | |||
| Agustus | 2,31% | 1,60% | |||
| September | 2,65% | 1,82% | |||
| Oktober | 2,86% | 2,10% | |||
| November | 2,72% | 2,27% | |||
| Desember | 2,92% | 2,92% |
| Bulan | Inflasi secara tahunan | Inflasi sejak awal tahun (year-to-date) |
| Januari | 0,76% | -0,76% |
| Februari | -0,09% | -1,24% |
| Maret | 1,03% | 0,39% |
| April | 1,95% | 1,56% |
| Mei | 1,6% | 1,19% |
| Juni | 1,87% | 1,38% |
| Juli | 2,37% | 1,69% |
| Agustus | 2,31% | 1,60% |
| September | 2,65% | 1,82% |
| Oktober | 2,86% | 2,10% |
| November | 2,72% | 2,27% |
| Desember | 2,92% | 2,92% |
👉🏻 Deflasi Beruntun di Indonesia, Ungkap Sebab & Bahayanya
Kita bisa membedakan berbagai jenis inflasi berdasarkan asalnya dan inflasi berdasarkan tingkat keparahannya.
Penyebab inflasi adalah sebagai berikut:

Penyebab inflasi adalah tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut:
👉🏻 Dampak Kebijakan Tarif Trump di Pasar Saham Eropa, AS & Indonesia
Inflasi memiliki dampak sebagai berikut:
Setelah mengamati volatilitas aset keuangan dan mempertimbangkan beberapa indikator volatilitas, serta ketegangan geopolitik, pertanyaannya adalah dapatkah Anda menemukan peluang di tengah-tengah volatilitas?
Apakah volatilitas sama dengan risiko? Dalam dunia pasar keuangan yang kompleks, memahami volatilitas adalah kuncinya. Berikut adalah penjelasan tentang pentingnya jenis risiko yang terlibat dan bagaimana investor dapat menavigasi tantangan ini:

Berbagai jenis risiko yang memengaruhi portofolio:
Ketika inflasi meningkat, pasar sering bereaksi dengan volatilitas yang lebih tinggi. Ini dapat terjadi karena investor khawatir tentang dampak inflasi terhadap nilai aset dan kinerja ekonomi secara keseluruhan. Namun, seperti yang sudah kami jelaskan dalam bagian tersebut, periode volatilitas tinggi juga dapat menyediakan peluang.
Dalam konteks inflasi di Indonesia, volatilitas tinggi mungkin terjadi setelah pengumuman kebijakan moneter, penyesuaian harga bahan bakar, atau faktor-faktor lain yang memengaruhi pasar keuangan. Di tengah volatilitas ini, terutama setelah penurunan pasar atau peristiwa geopolitik, ada potensi untuk menemukan aset yang undervalued, yang mungkin menawarkan peluang pembelian jika pasar siap untuk pemulihan.
Jadi, sementara volatilitas dapat mencerminkan ketidakpastian dan kekhawatiran tentang inflasi, juga bisa menjadi momen bagi investor untuk memanfaatkan harga yang rendah dan potensi pemulihan pasar.
Volatilitas IHSG adalah fluktuasi harga saham di pasar modal Indonesia. Fluktuasi ini bisa menjadi indikator penting terkait dengan inflasi karena inflasi dapat memengaruhi nilai tukar mata uang, suku bunga, dan kondisi ekonomi secara umum. Jika inflasi meningkat, volatilitas IHSG cenderung meningkat juga karena investor mencoba menyesuaikan portofolio investasi mereka dengan kondisi ekonomi yang berubah.
Dengan demikian, pemahaman tentang volatilitas IHSG dan bagaimana itu terkait dengan inflasi dapat membantu investor mengembangkan strategi investasi yang lebih baik dan menyesuaikan portofolio mereka dengan kondisi pasar yang sedang berubah.
👉🏻 Cara Terbaik Investasi Saham Saat Krisis Ekonomi
Bank Indonesia bertindak dengan mengatur kebijakan, seperti tingkat suku bunga dan menggunakan instrumen seperti swap mata uang untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar. Tujuannya adalah untuk mengurangi permintaan dan mengendalikan laju inflasi. Namun, tindakan ini juga bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi dengan memperlambatnya.
Oleh karena itu, Bank Indonesia harus menemukan keseimbangan antara mengendalikan inflasi dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Mereka juga terus memantau pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan nilai tukar serta menyesuaikan pendekatan mereka dengan kebutuhan khusus negara.
Ada 3 indeks yang biasanya untuk menghitung inflasi. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya:
Ketiga indikator ini berperan penting dalam mengukur perubahan harga dan pengaruhnya terhadap inflasi, yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter dan keputusan ekonomi.
Apa itu inflasi inti? Secara sederhana, inflasi inti adalah konsep yang menghilangkan pengaruh harga barang-barang yang rentan terhadap fluktuasi harga, seperti makanan yang mudah rusak, energi, dan bahan bakar, karena sifat volatilitasnya yang tinggi. Hal ini dilakukan untuk mencegah gangguan pada gambaran keseluruhan inflasi. Sebagai gantinya, perhatian difokuskan pada kategori barang yang lebih stabil dalam harga, seperti perumahan, transportasi, dan rekreasi. Konsep ini memberikan pemahaman yang lebih akurat tentang perubahan harga yang bersifat lebih permanen, sehingga menjadi alat yang berharga dalam mengevaluasi efek dari kebijakan moneter.
Sebagai contoh, harga minyak atau jenis makanan tertentu dapat mengalami fluktuasi yang signifikan karena faktor-faktor, seperti peristiwa geopolitik atau kondisi cuaca. Namun, fluktuasi ini tidak selalu mencerminkan tren ekonomi yang lebih luas. Dengan demikian, konsep inflasi mendasar membantu kita memahami kondisi sebenarnya dari perekonomian, yang lebih dipengaruhi oleh permintaan domestik dan sentimen konsumen daripada perubahan harga yang tidak stabil di sektor-sektor yang volatil.
Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki kebijakan untuk menargetkan inflasi yang rendah dan stabil. Meskipun inflasi dapat mengurangi daya beli, strategi ini penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang sehat. Dengan menjaga inflasi tetap rendah dan stabil, harapannya masyarakat akan terus menghabiskan uang mereka, perusahaan akan lebih percaya diri dalam berinvestasi, dan ekonomi akan terus tumbuh.
Tujuannya adalah menemukan keseimbangan di mana inflasi cukup tinggi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak terlalu tinggi sehingga menyebabkan efek negatif yang merugikan. Dalam konteks Indonesia, sedikit inflasi tidak hanya diharapkan tetapi diinginkan untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Rata-rata inflasi Indonesia selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan. Jika kita melihat data di atas, inflasi tertinggi pernah terjadi di Indonesia pada Juni-Juli 2015. Pada dua bulan tersebut inflasi tercatat 7,26%. Tingkat inflasi tahunan Indonesia menjadi 1,57% pada Desember 2024 dari 1,55% pada bulan sebelumnya, yang merupakan level terendah sejak Juli 2021.
Jika melihat laju inflasi, terjadi penurunan signifikan dalam 10 tahun terakhir. Adapun pada Januari 2015 inflasi tercatat 6,96% dan Desember 2024 tercatat 1,54%. Sehingga laju inflasi sebesar - 77,87%.
Baca juga : Obligasi Terkait Inflasi atau TIPS: Apa itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Setelah memahami tentang inflasi, Anda dapat melakukan langkah pertama dengan berinvestasi di berbagai instrumen. Karena itu, kami menyiapkan artikel tentang berinvestasi di obligasi khusus untuk Anda.