Perdagangan Komoditas

Perang AS vs Iran terus memicu ketegangan di pasar keuangan. Setiap kali terjadi konflik di Timur Tengah, minyak kembali menjadi perhatian utama bagi sebagian besar analis.
Peristiwa baru-baru ini juga bukan pengecualian, menandai volatilitas harga minyak terbesar dalam satu sesi perdagangan dalam sejarah.
Semua terjadi di hari yang sama, tanpa ada fluktuasi sama sekali.
Ini jelas mematahkan kebiasaan trader manapun, dan tampaknya indikator teknis terbaik bukan lagi RSI, MACD atau Bollinger Bands. Melainkan Twitter Trump.
Dalam artikel ini, kami akan merenungkan mengapa, sebagai investor, penting untuk menjauhkan diri dari kebisingan pasar, yang sangat umum terjadi setiap kali konflik dimulai, dan menilai situasi dengan sedikit lebih objektif.
Sebab betul, memang setiap ada masalah, ada keuntungan bagi sebagian orang. Namun bagi sebagian lainnya, mungkin lebih mirip ikan yang akan mengikuti arus air.
Ada beberapa alasan untuk percaya bahwa konflik ini akan berakhir lebih cepat dari yang kita perkirakan. Dan di tengah peringatan "kepanikan resesi" di media keuangan , kita pasti akan terus menyaksikan hari-hari dengan volatilitas luar biasa, yang akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tahu bagaimana cara memanfaatkannya.
Sepanjang sejarahnya, pasar saham telah menunjukkan bahwa setelah sebagian besar konflik militer besar sejak tahun 1940, indeks seperti S&P 500 cenderung pulih dalam beberapa bulan.

Polanya cukup jelas:
Artinya pasar tidak mengabaikan perang, melainkan hanya cepat memperhitungkannya. Dan jika kita juga tidak memasukkan konflik yang bersifat ekspansif regional atau berdampak langsung pada energi dan rantai pasokan (Yom Kippur, Terusan Suez dan lainnya), maka bentrokan kecil akan berakhir dengan indeks yang positif dalam beberapa bulan.
Dan, dari apa yang kita lihat sejauh ini, Rusia sibuk menghadapi konfliknya dengan Ukraina, China tidak banyak menunjukkan perlawanan, sepertinya perang Iran vs AS ini tidak akan menjadi konflik yang berkepanjangan.
👉🏻 Ini lo Perbandingan Return S&P 500 vs Big Banks Indonesia
Unsur lain yang sangat membatasi kemungkinan perang berkepanjangan adalah kerangka hukum di mana Amerika Serikat beroperasi.
Sejak tahun 1973, setiap kali presiden memerintahkan intervensi militer tanpa deklarasi perang resmi yang disetujui oleh Kongres, aturan Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution) mulai berlaku. Undang-undang ini menetapkan bahwa presiden dapat mengerahkan angkatan bersenjata segera, tetapi dengan batasan yang jelas:
Dalam praktiknya, ini berarti bahwa tanpa persetujuan kongres , operasi militer memiliki tenggat waktu, jangka waktu terbatas selama dua bulan.
Oleh karena itu, mengabaikan kerangka hukum ini sepenuhnya akan menyebabkan konflik kelembagaan yang serius. Hal itu berarti mengabaikan salah satu mekanisme yang dirancang justru untuk mencegah perang berkepanjangan tanpa pengawasan kongres. Maka dari perspektif pasar, banyak analis menafsirkan jenis operasi ini lebih sebagai intervensi terbatas atau demonstrasi kekuatan dan bukan sebagai awal dari perang yang berkepanjangan.
New York Times melaporkan beberapa hari yang lalu, tetapi Trump sendiri, untuk menenangkan kepanikan yang terjadi di pasar minyak mentah, menekankan:
Perang praktis sudah berakhir... Amerika Serikat telah menang dalam banyak hal, tetapi kita belum menang sepenuhnya.
Tentu saja ini tidak menjamin apapun. Bahkan mungkin tampak sedikit kontradiktif, tetapi ini membangun retorika yang lebih mengarah pada deeskalasi.
Kepanikan sesungguhnya terletak pada kemungkinan hancurnya Selat Hormuz, jalur maritim sempit yang dilalui 20% produksi minyak dunia setiap hari.

Anggap saja ini satu-satunya 'senjata negosiasi' yang dimiliki Iran. Namun menggunakannya juga bisa membuat Iran menderita dan akan menyebabkan ekonomi global terhambat.
Menutup atau memasang ranjau di Selat Hormuz bukan hanya tentang merugikan negara-negara Barat. Menciptakan krisis energi global akan memengaruhi semua orang, termasuk para mitranya. Hal itu berarti membuat ekonomi Iran dan negara minyak lainnya seperti Bahrain, Qatar dan Dubai benar-benar terisolasi.
Selain itu, sejak teknik shale/fracking meningkat secara eksponensial pada tahun 2014, pasar telah memperoleh kemampuan untuk mendapatkan minyak dari negara-negara di luar organisasi OPEC.
Faktanya AS dengan produksi minyak mentah lebih dari 13 juta barel per hari adalah produsen minyak terbesar di dunia dan salah satu negara pengekspor terkemuka secara global.

Dan ini bukan pertama kalinya kita melihat kejadian menakutkan di daerah tersebut. Selain itu, meskipun harga minyak meroket tak terkendali, harga secara bertahap pulih dalam beberapa minggu.
| Peristiwa | Keterangan | ||
| Serangan terhadap tanker minyak di Teluk Oman (Juni 2019) | Harga Brent naik lebih dari 4% | ||
| Konflik di jalur Laut Merah (Januari 2024) | Peningkatan lebih dari 4% | ||
| Perang 12 hari (Juni 2025) | Harga minyak mentah Brent naik 15% |
| Peristiwa | Keterangan |
| Serangan terhadap tanker minyak di Teluk Oman (Juni 2019) | Harga Brent naik lebih dari 4% |
| Konflik di jalur Laut Merah (Januari 2024) | Peningkatan lebih dari 4% |
| Perang 12 hari (Juni 2025) | Harga minyak mentah Brent naik 15% |
Kita bisa melihat kilas balik mengenai penangkapan Nicolas Maduro dan kepentingan AS di minyak Karibia.
AS sebenarnya tidak menginginkan minyak Persia untuk keperluannya sendiri, sama seperti mereka tidak terlalu tertarik pada minyak mentah Karibia (yang kualitasnya lebih rendah).
Trump tidak ingin pesaing terbesarnya, China, memiliki akses mudah ke sana
Dan coba tebak, hampir 90% ekspor minyak Iran ditujukan ke China, raksasa Asia.

Seperti yang kita tahu, China memiliki keunggulan strategis dalam keseluruhan isu transisi energi, dan pengembangan AI - yang akan mengatur perekonomian masa depan - karena monopoli atas logam tanah jarang. Sehingga AS tidak mau memberikan akses mudah kepada China terhadap minyak mentah yang menentukan nasib masa kini.
Dan untuk mencapai upaya tersebut, cukup dengan mengendalikan pangkalan-pangkalan tertentu di Selat Hormuz yang memungkinkan kapal-kapal untuk lewat, sehingga secara militer mengendalikan kepentingan strategis di wilayah tersebut.
Sayangnya, tuntutan potensial penduduk Iran cukup sekunder (demokrasi, keterbukaan budaya, dll.), dan jika rezim Ayatollah akhirnya jatuh, itu hanya manfaat sampingan bukan tujuan utama. Sama seperti apa yang tampaknya perlahan mulai terjadi dengan Chavismo di Venezuela.
Namun, mungkin kita masih akan sering melihat hari-hari dengan serangan balik, bentrokan kecil, dan pernyataan yang kurang antusias untuk mencapai perdamaian melalui negosiasi, yang akan terus menyebabkan harga minyak di pasar berjangka berfluktuasi.
Anda bisa mulai investasi pada saham minyak Indonesia. Cara investasi minyak di Indonesia lainya dengan mengakses kontrak berjangka minyak mengingat volatilitas yang cukup tinggi ini.
Sebagai contoh, Anda bisa membuka posisi short dengan eksposur yang lebih rendah jika Anda yakin harga minyak mulai turun secara bertahap beberapa minggu ke depan.
Anda bisa melihat micro oil futures contract pada broker internasional atau COFU100 maupun COFU10 yang memiliki tick minimun US$ 0,01 per barel yang setara dengan US$ 1 per kontrak di pasar micro oil futures. Masa kadaluarsa kontrak ini adalah bulanan dan perdagangan berakhir beberapa hari sebelum tanggal 25 setiap bulannya sebelum masa pengiriman.
👉🏻 Strategi Trading Terbaik untuk Pemula yang Aman dan Populer
Singkatnya, jika Anda seorang trader, mungkin Anda dapat memanfaatkan pergerakan pasar minyak yang fluktuatif, memanfaatkan volatilitas yang tinggi. Namun jika Anda hanya berinvestasi di pasar saham untuk jangka panjang, hal yang bisa Anda lakukan adalah tetap diam dan menunggu badai berlalu. Seperti yang telah kita lihat, pasar pada akhirnya akan menyerap guncangan ini lebih cepat dari yang kita kira.