Bursa

Memahami dampak perang Iran Amerika dan Israel merupakan langkah penting bagi investor untuk melindungi portofolionya. Ketegangan geopolitik perang AS Israel vs Iran kembali terjadi. Bagaimana dampak perang Iran vs Israel terhadap pasar keuangan dalam negeri?
Presiden AS Donald Trump dan Israel menyerang Iran kembali membuat panas situasi geopolitik. Setelah gagal mengakuisisi Greenland milik Denmark akibat tantangan Uni Eropa dan NATO, AS dan Israel mengalihkan invasinya ke Iran di Timur Tengah. Kondisi konflik Iran Israel bisa berdampak luas mengingat Iran menguasai Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan minyak dunia.
Dalam artikel ini saya akan membahas bagaimana dampak perang AS Israel dan Iran ini terhadap harga minyak dunia, harga emas dan pasar saham. Dampak perang tentu sangat terpengaruh oleh lama perang dan apakah ini berpotensi membesar dan menjadi perang dunia ke tiga?
Tanda-tanda perang Israel dan Iran sudah terlihat sejak akhir Januari setelah AS mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempurnya ke Timur Tengah. Biaya operasi kapal induk yang mahal membuat pergerakan ini tentu punya tujuan tertentu. Kira-kira tujuan awal AS adalah memaksa Iran masuk ke meja perundingan dan membatasi negara tersebut dalam program memperkaya uranium (dapat menjadi senjata Nuklir) dan rudal balistik.
AS telah mempersiapkan kemungkinan kampanye militer apabila perundingan tersebut gagal mencapai kesepakatan. Garda Revolusi Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS jika terjadi serangan di wilayah Iran.
Iran dan Amerika Serikat (AS) telah melakukan serangkaian perundingan terkait program nuklir. Para pejabat AS mengajukan tiga tuntutan utama kepada Iran yakni penghentian permanen semua pengayaan uranium, pembatasan ketat terhadap program rudal balistik Iran, dan penghentian total dukungan terhadap kelompok proksi regional seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi.
Pemerintah Iran mengajukan tiga syarat untuk bisa mencapai kesepakatan:
Harga minyak naik lebih tinggi selama pembicaraan berlangsung, setelah info menyebut diskusi terhenti akibat desakan AS agar Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium. Melihat tuntutan AS yang berbeda dengan usulan Iran tentu pelaku pasar khawatir terkait potensi kesepakatan.
Kekhawatiran sedikit mereda setelah mediator Oman mengatakan kedua pihak telah membuat kemajuan dalam pembicaraan mengenai program nuklir Teheran, tetapi negosiasi berjam-jam berakhir tanpa terobosan yang dapat mencegah potensi serangan AS di tengah pengerahan militer besar-besaran.
AS dan Iran berencana melanjutkan negosiasi dengan pembahasan tingkat teknis yang rencananya pekan depan di Wina. Putaran pembicaraan terbaru memang memberi harapan terhadap peluang resolusi damai, namun serangan militer sama sekali belum keluar dari opsi.

Pada 19 Februari 2026, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan bahwa "hal buruk" akan terjadi jika Iran tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklir dalam 10 sampai 15 hari. AS merencanakan serangan terarah terhadap Iran, dan serangan lebih besar dengan tujuan menggulingkan Pemimpin Tertinggi Iran.
Premi risiko geopolitik sebesar US$8 hingga US$10 per barel telah tercermin dalam harga minyak akibat kekhawatiran konflik akan mengganggu pasokan Timur Tengah melalui Strait of Hormuz.
Konflik semakin nyata di pertengahan Februari setelah Departemen Luar Negeri AS menarik personel pemerintah yang tidak penting dan keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut. Sebelumnya ada pejabat AS, menyatakan Amerika Serikat telah menarik sebagian personilnya dari pangkalan militer di Timur Tengah. Langkah ini bertujuan untuk meminimalisasi potensi kerugian dan korban jiwa bila terjadi perang dengan Iran. Tentu ini mengkonfirmasi bahawa ada potensi pecah perang dalam waktu dekat.
Selain itu kapal induk terbesar di dunia milik Amerika Serikat (AS), USS Gerald R Ford telah merapat di Israel di akhir Februari. Kapal induk ini bertenaga nuklir dan mengindikasikan perang semakin nyata. Nampaknya kapal Gerald R Ford ini memang AS persiapkan untuk melindungi Israel dari serangan rudal-rudal Iran bila terjadi perang.
Selanjutnya, Iran juga melakukan manuver di pertengahan Februari. Iran menutup sementara sebagian wilayah Selat Hormuz dalam beberapa jam, demi alasan keamanan saat Garda Revolusi Iran melakukan latihan militer bersama Rusia.
Tidak berhenti di sana Iran juga hampir mencapai kesepakatan dengan China untuk membeli rudal anti kapal supersonik.
Info dari China Aerospace Science and Industry Corporation, rudal ini dapat melaju hingga empat kali kecepatan suara, membawa seperempat ton bahan peledak, dan melakukan manuver menghindar zig-zag pada fase akhir penerbangan untuk membingungkan pertahanan kapal. Dapat menembus sistem pertahanan kapal induk dengan terbang rendah dan cepat.
Kemudian pada Minggu siang, 28 Februari 2026 AS dan Israel melakukan serangan mendadak untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran dan mengganti pimpinan tertinggi Iran. Pemerintah Israel sebelumnya telah secara resmi mengkonfirmasi pelaksanaan operasi militer berskala besar dengan sandi "Rising Lion".
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa operasi ini untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, menargetkan para ilmuwan, program rudal balistik, serta fasilitas pengayaan uranium. Pejabat militer Israel mengklaim bahwa Iran telah memiliki cukup material untuk memproduksi hingga 15 bom nuklir dalam hitungan hari.
Perang ini berpotensi mendorong harga minyak dunia naik tinggi sampai 80 USD per Barel dalam jangka pendek dan 100 -120 USD per Barrel bila perang berlangsung lama.
Setelah serangan gabungan dari AS dan Israel, citra satelit menunjukkan ada kerusakan pada kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi di Tehran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan AS dan Israel sebenarnya melanggar piagam PBB dan dikabarkan menyebabkan Ayatollah Ali Khamenei pemimpin tertinggi Iran meninggal di kediamannya bersama putri, menantu dan cucunya.

Serangan Israel ini memang menarget Khamenei karena awalnya rencana Israel serang Iran pada malam hari dan dipindahkan ke pagi hari karena adanya informasi intelijen CIA mengenai keberadaan pimpinan tertinggi Iran. Iran berdasarkan piagam PBB pasal 51, segera membalas dengan menargetkan Pangkalan AS di timur tengah dan Iran menyerang Israel.

Konflik Iran dan Israel meluas. Serangan Iran meluncurkan rudal dan drone ke 5 pangkalan militer AS di Timur Tengah yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi. Iran memberikan peringatan kepada kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dan dikabarkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) akan segera menutup Selat tersebut.
Iran memproduksi sekitar 3,1 juta barel minyak mentah per hari dengan cadangan minyak terbukti nomor 3 terbesar di dunia dan masuk 10 besar negara penghasil minyak global saat ini.
Tapi masalahnya utamanya adalah Selat Hormuz, yang terletak di seberang Semenanjung Arab kaya minyak berada di wilayah Iran.
Bila terjadi konflik atau perang AS dan Iran maka selat ini tidak dapat dilewati kapal. Selat Hormuz menjadi jalur transit sekitar 26% pasokan minyak mentah dunia dan 20 % LNG global. Nilai minyak yang lewat sekitar US $600 miliar per tahun.
Pupuk dunia juga dapat terganggu karena 45 % ekspor urea dunia melewati selat Hormuz. Pupuk membutuhkan nitrogen yang bergantung pada gas dan energi, biaya produksi pupuk bisa naik. Bila harga pupuk naik maka biaya tanam juga akan naik yang berimbas pada harga pangan naik dan akhirnya berimbas pada beban subsidi pemerintah meningkat. Dengan jalur pelayaran sekitar 3 km per arah, perang ini akan sangat mengganggu pasokan. Perang di kawasan ini bisa membatasi suplai ke pasar global dan mendorong harga naik tinggi.
👉🏻 WTI vs Brent: Ini Perbedaan Minyak Mentah yang Wajib Diketahui Trader & Investor
Perang Israel Iran juga memiliki dampak ke pasar saham Indonesia. Ada beberapa sektor saham yang mendapatkan katalis positif, namun ada juga yang bisa terpukul dampak negatif konflik Iran vs Israel.
Beberapa sektor yang diuntungkan adalah energi. Sektor ini bisa terdorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan gas karena perang Iran - Amerika & Israel.
| Saham Energi | Kinerja YTD | PER | |||
| MEDC | 37,59% | 16,52 x | |||
| RAJA | - 25,4% | 49,66 x | |||
| RATU | - 26,1% | 70,32 x | |||
| ELSA | 96,08% | 10,59 x | |||
| ENRG | 34,15% | 41,3 x | |||
| AKRA | 7,03% | 11,24 x | |||
| PGAS | 26,94% | 11,29 x |
| Saham Energi | Kinerja YTD | PER |
| MEDC | 37,59% | 16,52 x |
| RAJA | - 25,4% | 49,66 x |
| RATU | - 26,1% | 70,32 x |
| ELSA | 96,08% | 10,59 x |
| ENRG | 34,15% | 41,3 x |
| AKRA | 7,03% | 11,24 x |
| PGAS | 26,94% | 11,29 x |
Lalu sektor logam mulia, karena emas merupakan aset safe-haven saat risiko geopolitik meningkat tajam.
| Saham Emas | Kinerja YTD | PER | |||
| ANTM | 43,61% | 14,93 x | |||
| MDKA | 69,10% | ||||
| BRMS | - 14,41% | 182,72 x | |||
| ARCI | 21,28% | 34,93 |
| Saham Emas | Kinerja YTD | PER |
| ANTM | 43,61% | 14,93 x |
| MDKA | 69,10% | |
| BRMS | - 14,41% | 182,72 x |
| ARCI | 21,28% | 34,93 |
👉🏻 Saham Nikel Terbaik Indonesia 2025: Rekomendasi & Analisis
Sektor pelayaran dan tanker juga diuntungkan karena gangguan jalur maritim seperti di Selat Hormuz berpotensi meningkatkan tarif angkutan kargo energi global.
| Saham Pelayaran & Tanker | Kinerja YTD | PER | |||
| SOCI | 12,93% | 35,88 x | |||
| BULL | - 6,93% | 28,34 x | |||
| SMDR | - 3,17% | 7,99 x | |||
| HUMI | - 36,65% | 20,64 x | |||
| GTSI | - 16,25% | 47,06 x | |||
| LEAD | - 21,36% | 18,6 x |
| Saham Pelayaran & Tanker | Kinerja YTD | PER |
| SOCI | 12,93% | 35,88 x |
| BULL | - 6,93% | 28,34 x |
| SMDR | - 3,17% | 7,99 x |
| HUMI | - 36,65% | 20,64 x |
| GTSI | - 16,25% | 47,06 x |
| LEAD | - 21,36% | 18,6 x |
Beberapa sektor lain berpotensi dirugikan akibat tekanan biaya dan sentimen negatif lainnya. Sektor penerbangan cenderung tertekan oleh kenaikan harga bahan bakar avtur serta gangguan rute operasional akibat penutupan bandar udara. Emiten seperti GIAA cenderung dirugikan.
Sektor konsumsi dan ritel juga mendapatkan tekanan karena kenaikan harga energi dapat memicu inflasi yang berisiko menekan daya beli konsumen. Juga terdampak kenaikan bahan baku akibat inflasi dan gangguan pasokan. Emiten seperti ICBP, INDF, AMRT, UNVR, MYOR cenderung dirugikan.
Lalu sektor logistik dan transportasi karena naiknya biaya bahan bakar non-subsidi berpotensi menggerus margin keuntungan operasional. Emiten yang terkait antara lain ASSA, BIRD. Selain itu emiten big cap karena rentan terhadap capital outflow seiring pergeseran modal ke aset yang lebih aman. Emiten seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, TLKM dan ASII cenderung tertekan.
Dampak Perang Iran Israel ini memang sangat tergantung lama perang dan eskalasi yang terjadi. Tujuan serangan AS dan Israel vs Iran adalah untuk mengganti rezim yang saat ini ada. Tapi kita perlu tahu beberapa latar belakangnya!
👉🏻 Emas vs Bitcoin: Mana yang Cocok untuk Investasi Jangka Panjang?
Pada akhir tahun 2025 tepatnya 28 Desember pemilik toko turun ke jalan Teheran untuk melakukan demo akibat pelemahan mata uang rial Iran terhadap dollar AS. Ini mendorong naiknya harga kebutuhan sehari-hari dan menyebabkan inflasi mencapai 40%.
Salah satu penyebabnya adalah sanksi atas program nuklir yang membuat ekonomi Iran tertekan. Mahasiswa dari berbagai universitas juga ikut turun dalam aksi demo yang meluas ke kota-kota lain. Tuntutan masa mulai meluas ke perubahan politik dan menentang pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ada indikasi bahwa demo ini tidak organik tetapi sudah ada campur tangan oleh Mossad Badan intelijen Israel.
Usai berhasil mengendalikan demo, ada korban jiwa mencapai 2.571 orang. Serta kembali ada indikasi Agen intelijen Mossad (Israel) dan CIA (Amerika Serikat) telah menyusup ke tengah massa dan menyamar sebagai demonstran untuk menggulingkan rezim.
Hal ini di konfirmasi Mantan Direktur CIA, Mike Pompeo, yang mengirimkan pesan melalui media sosialnya. "Selamat Tahun Baru untuk setiap warga Iran di jalanan. Juga untuk setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka. Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, juga mengakui secara implisit bahwa aset-aset intelijen Israel memang sudah tertanam di tanah Iran. Dia menyebut bahwa Israel "tahu bagaimana cara meletakkan dasar untuk serangan" langsung dari dalam wilayah Iran. Nampaknya momentum demonstrasi ini yang ingin digunakan Trump dan Israel untuk mengganti rezim di Iran.
AS dan Israel menyerang Iran memang menyasar Ayatollah Ali Khamenei dan petinggi Iran dengan tujuan menghilangkan pimpinan tertinggi Iran dan mendorong warga sipil menggulingkan pemerintah Iran.
Ini mengindikasikan AS dan Israel tidak akan mengerahkan pasukan darat ke Iran dan berharap dapat memobilisasi penduduk sipil Iran mengganti rezim yang ada saat ini. Perang dengan memasukan pasukan darat akan membutuhkan banyak biaya dan tentu korban jiwa yang dapat berujung pada kekalahan AS dan Israel.
Apakah rencana AS dan Israel berhasil pasca wafatnya Ayatullah Ali Khamenei? Nampaknya tidak karena di pertengahan Januari massa aksi tandingan pendukung pemerintah Khamenei yang turun ke jalan pada Senin 12 Januari 2026 jauh lebih besar dari pada demonstran anti-pemerintah.
Selain itu jutaan warga Iran turun ke jalan di berbagai kota besar seperti Teheran, Isfahan, Mashhad, Qom, dan Zanjan pada Minggu 1 Maret 2026. Massa meratapi kepergian tokoh yang telah memimpin Iran selama beberapa dekade tersebut dan menunjukkan penghormatan publik yang luas.
Aksi itu menjadi bukti bahwa mayoritas rakyat Iran tidak terpengaruh oleh provokasi dan campur tangan asing. AS dan Israel salah perhitungan karena Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya pimpinan negara, militer tertinggi, pengambil keputusan utama tetapi juga pemimpin agama dan ulama bagi rakyat Iran.
Posisi tersebut membuat keinginan AS dan Israel untuk mengganti rezim Iran akan gagal. Sepertinya, Pemimpin Iran yang baru adalah penerus Khamenei yang akan tetap membela Palestina dan menentang penjajahan Israel di Timur Tengah.
👉🏻 Inflasi Februari 2026 adalah 0,68% menurut BPS
Tapi apakah serangan Udara AS dan Israel akan mampu menghancurkan Iran? Militer Israel mengeluarkan pernyataan mengklaim telah menghancurkan “ratusan target militer Iran”, termasuk peluncur rudal, saat melakukan serangan udara di Iran dan angkatan udara Israel sedang berupaya mencegah serangan balasan yang datang dari Iran.
Nampaknya klaim Israel ini juga tidak berdasar, Iran terlihat masih mampu mengirimkan serangan Roket dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah. Rusia dan China tentu tidak ingin kehilangan mitra strategisnya di Timur Tengah dan membiarkan rezim berkuasa di Iran saat ini jatuh ke pemerintah yang pro AS. Bantuan senjata dan teknologi sangat mungkin di supply kedua negara tersebut.
Kalau ini yang terjadi maka perang Iran Israel bisa berlangsung cukup panjang dan terbukti pada perang jilid 12 hari pada 13 Juni 2025, pertahanan udara Israel ternyata gagal menghalang serangan rudal Iran. Saat ini Israel mendapatkan bantuan kapal Induk Gerald R Ford dari AS untuk melindungi Israel dari serangan rudal-rudal Iran. Tetapi nampaknya tidak cukup efektif karena banyak rudal Iran masih berhasil menembus pertahanan Israel.
👉🏻 Saham Cuan Ramadan: rekomendasi & daftar sektor unggulannya!
Bila perang US Israel Iran berlangsung harga minyak dan emas pasti naik lebih tinggi. Laporan terbaru, sebuah kapal tanker minyak telah tenggelam setelah menerima hantaman rudal Iran saat melewati Selat Hormuz. Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengancap menutup Selat Hormuz. Ini akan sangat merugikan negara-negara net importir minyak termasuk Indonesia.
AS juga sepertinya tidak siap dengan perang Israel Iran jangka panjang dan harus menerjunkan pasukan angkatan darat masuk ke Wilayah Iran. Selain biaya yang terlalu tinggi, Trump juga belum mendapatkan persetujuan Kongres AS. Masuknya pasukan angkatan darat akan menelan banyak korban jiwa selain bisa mengulang kegagalan AS di Perang Vietnam (1955-1975), Afghanistan (2001 – 2021), Korea (1950) Suriah dan Irak. Selain itu di AS ada Pemilu Sela pada Selasa, 3 November 2026.
Bila AS terlibat dalam perang Israel dan Iran jangka panjang yang memakan anggaran besar, maka partai Republik Trump akan kalah menghadapi partai Demokrat dalam perebutan 435 kursi House of Representatives dan 35 dari 100 kursi di Senat AS. Arti kekalahan Partai Republik Trump adalah ke depan kebijakan Trump akan banyak mendapatkan gangguan dari partai Demokrat. Hal ini yang menyebabkan AS dan Trump pasti menginginkan perang cepat berakhir dan mendorong Iran kembali ke meja perundingan.
Kelanjutan dan hasil akhir perang Iran - Amerika & Israel memang sangat sulit diprediksi. Apakah kita akan melihat perang ini berakhir dengan perundingan damai, atau perang yang lebih besar sampai potensi perang dunia ke 3.
Tidak ada yang akan tahu berapa lama konflik terjadi dan bagaimana hasil akhirnya. Apakah kapal Induk AS akan tenggelam, atau rezim Iran akan berganti. Kami perkirakan perang tidak akan berlangsung lama, sekitar 1-2 pekan karena AS tidak menginginkan konflik Iran-Israel berkepanjangan dan amunisi rudal Iran terbatas.
Tentu kita semua berharap konflik Israel vs Iran bisa berakhir cepat. Perang akan mendorong harga minyak naik akibat gangguan pasokan & perdagangan dunia. Harga minyak yang bisa naik tajam sangat merugikan negara net importir minyak seperti Indonesia. Kondisi ini bisa mendorong subsidi yang lebih tinggi dan menyebabkan defisit APBN terhadap GDP melewati batas 3%. Serta risiko tekanan pada nilai tukar Rupiah akibat penguatan USD yang dianggap lebih aman dan AS sebagai net exportir minyak.
Emas berpotensi naik di tengah konflik dan pasar saham berpotensi menghadapi volatilitas tinggi, tetapi cenderung tertekan turun. Gangguan pasukan urea membuat harga pupuk meningkat yang berimbas pada biaya tanam dan harga pangan naik, sehingga akan berimbas pada beban subsidi pemerintah meningkat.