Uang
Inflasi Maret 2026 tercatat 0,41%, laju kenaikan harga melambat

Daftar Isi
Inflasi di Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41% secara bulanan atau 3,48% secara tahunan (yoy). Dengan kondisi tersebut, maka inflasi sejak Januari-Maret 2026 tercatat sebesar 0,94% menurut BPS.
Adapun nilai inflasi di Indonesia mengalami sedikit penurunan secara bulanan dari Februari 2026 yang tercatat 0,68% bulanan dan inflasi tahunan 3,55%.
Inflasi adalah situasi di mana harga-harga barang dan jasa di suatu negara terus meningkat dalam jangka waktu tertentu dan memengaruhi sejumlah besar barang dan jasa. Dalam inflasi, nilai uang turun, dan untuk mengukurnya kita gunakan CPI (Indeks Harga Konsumen). Ini merupakan kondisi yang berlawanan dengan deflasi. Dalam artikel ini, kami akan menyajikan tren inflasi di Indonesia pada tahun 2026.
Indonesia alami Inflasi 0,41% per Maret 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya inflasi Maret 2026 sebesar 0,41% secara bulanan. Sebelumnya, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 0,68%.
Penyebab utama penurunan inflasi secara bulanan antara lain:
- Penurunan harga emas dari US$ 5.019,97 pada Februari 2026 menjadi US$ 4881,13
- Basis yang tinggi pada Maret 2026 karena momen Ramadan dan Lebaran
- Program diskon tiket transportasi pada Maret 2026
Sementara itu, pendorong inflasi pada Maret 2026 adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada Maret 2026.
- Pertamina Dex naik 7-8 persen
- Pertamax naik sekitar 4%
- Dexlite naik sekitar 7%
- Pertamax Turbo naik sekitar 3%

Pendorong inflasi secara bulanan adalah pada kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi 1,07% dengan andil 0,32%.
Serta kelompok transportasi yang mengalami inflasi 0,41% dengan andil 0,05%.
BPS menjelaskan dari kelompok tersebut komoditas yang menyumbang inflasi adalah minyak goreng, nasi dengan laik, bensin, tarif angkutan antarkota, Sigaret Kretek Mesin (SKM), daging ayam, beras, telur ayam ras, cabai rawit dan daging sapi.
Sehingga apabila dilihat berdasarkan komponennya:
- Komponen inti: mengalami inflasi 0,13% secara bulanan dengan andil 0,08%
- Komponen harga yang diatur pemerintah: mengalami inflasi 0,31% dengan andil 0,06%
- Komponen harga bergejolak: mengalami inflasi 1,58% dengan andil 0,27%
Penurunan kondisi inflasi Maret 2026 secara bulanan menunjukkan adanya perlambatan laju kenaikan harga. Terutama karena penurunan harga emas, intervensi pemerintah dan bagian dari efek pembanding dari bulan sebelumnya. Selain itu inflasi inti yang rendah menunjukkan daya beli belum kuat.
👉🏻 Sepanjang 2025, inflasi di Indonesia didorong oleg kenaikan harga emas. Baca artikel menarik: Cuan dari Emas, Ini 5 Aplikasi Investasi Emas Digital Terpercaya
Data inflasi bulanan di Indonesia Januari-Desember 2025
Berikut kami sajikan data inflasi secara bulanan sepanjang Januari-Desember 2025 dan Januari-Maret 2026:
| Bulan | Inflasi 2025 | Inflasi 2026 | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Januari | -0,76% | - 0,15% | |||
| Februari | -0,48% | 0,68% | |||
| Maret | 1,65% | 0,41% | |||
| April | 1,17% | ||||
| Mei | -0,37% | ||||
| Juni | 0,19% | ||||
| Juli | 0,30% | ||||
| Agustus | -0,08% | ||||
| September | 0,21% | ||||
| Oktober | 0,28% | ||||
| November | 0,17% | ||||
| Desember | 0,64% |
| Bulan | Inflasi 2025 | Inflasi 2026 |
| Januari | -0,76% | - 0,15% |
| Februari | -0,48% | 0,68% |
| Maret | 1,65% | 0,41% |
| April | 1,17% | |
| Mei | -0,37% | |
| Juni | 0,19% | |
| Juli | 0,30% | |
| Agustus | -0,08% | |
| September | 0,21% | |
| Oktober | 0,28% | |
| November | 0,17% | |
| Desember | 0,64% |
Indonesia catat inflasi 3,48% yoy pada Maret 2026
Penurunan inflasi Maret 2026 secara bulanan membuat inflasi tahunan juga tercatat turun dari 4,76% ke 3,48%.
BPS mengungkapkan angka inflasi Maret 2026 secara tahunan merupakan pengaruh low base effect. Pada Januari-Februari 2025 pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menekan inflasi pada periode tersebut. Kemudian terjadi lonjakan inflasi pada Maret 2025 karena diskon tarif listrik prabayar berakhir.
Sehingga, inflasi Maret 2026 secara tahunan lebih rendah dari Januari-Februari 2026 karena kondisi tersebut.

Adapun pendorong inflasi Maret 2026 secara tahunan antara lain kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 3,34% dan andil 0,99%. Serta kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga inflasi 7,24% dengan andil 1,08%. Terakhir kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya inflasi 15,32% dengan andil 1,02%.
Komoditas yang memberikan andil inflasi tahunan Maret 2026 adalah emas perhiasan, biaya akademi perguruan tinggi, minyak goreng, sewa rumah, nasi dengan lauk dan mobil. Kemudian tarif listrik, SKM dan Sigaret Kretek Tangan (SKT). Serta daging ayam ras, beras dan telur ayam ras.
Apabila dilihat dari komponennya:
- Inflasi komponen inti: 2,52% dengan andil 1,62%
- Inflasi harga diatur pemerintah: 6,08% dengan andil 1,14%
- Inflasi harga bergejolak: 4,24% dengan andil 0,72%
Dari data tersebut maka inflasi Maret 2026 secara tahunan menunjukkan bahwa biaya hidup dasar masih naik.
Data inflasi Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 secara tahunan
Berikut data inflasi sepanjang Januari-Desember 2025 secara tahunan (yoy):
| Bulan | Inflasi secara tahunan | Inflasi sejak awal tahun (year-to-date) | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Januari | 0,76% | -0,76% | |||
| Februari | -0,09% | -1,24% | |||
| Maret | 1,03% | 0,39% | |||
| April | 1,95% | 1,56% | |||
| Mei | 1,6% | 1,19% | |||
| Juni | 1,87% | 1,38% | |||
| Juli | 2,37% | 1,69% | |||
| Agustus | 2,31% | 1,60% | |||
| September | 2,65% | 1,82% | |||
| Oktober | 2,86% | 2,10% | |||
| November | 2,72% | 2,27% | |||
| Desember | 2,92% | 2,92% |
| Bulan | Inflasi secara tahunan | Inflasi sejak awal tahun (year-to-date) |
| Januari | 0,76% | -0,76% |
| Februari | -0,09% | -1,24% |
| Maret | 1,03% | 0,39% |
| April | 1,95% | 1,56% |
| Mei | 1,6% | 1,19% |
| Juni | 1,87% | 1,38% |
| Juli | 2,37% | 1,69% |
| Agustus | 2,31% | 1,60% |
| September | 2,65% | 1,82% |
| Oktober | 2,86% | 2,10% |
| November | 2,72% | 2,27% |
| Desember | 2,92% | 2,92% |
👉🏻 Deflasi Beruntun di Indonesia, Ungkap Sebab & Bahayanya
Jenis Inflasi
Kita bisa membedakan berbagai jenis inflasi berdasarkan asalnya dan inflasi berdasarkan tingkat keparahannya.
Jenis inflasi berdasarkan asalnya
- Inflasi dalam negeri: terjadi karena faktor-faktor dalam negeri seperti defisit APBN dan gagal panen.
- Inflasi dari luar negeri: terjadi karena adanya inflasi dari luar negeri seperti kenaikan harga barang impor. Inflasi ini biasanya terjadi di negara-negara berkembang karena modal produksi biasanya berasal dari luar negeri karena adanya perdagangan internasional.
Inflasi berdasarkan penyebabnya
Penyebab inflasi adalah sebagai berikut:
- Inflasi permintaan: Terjadi ketika permintaan umum untuk barang dan jasa meningkat, tetapi pasokan tidak bertambah seimbang. Hal ini menyebabkan kenaikan harga karena ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan.
- Inflasi biaya: Terjadi ketika biaya-biaya, seperti upah tenaga kerja atau bahan baku naik. Perusahaan kemudian menaikkan harga produk mereka untuk menjaga margin keuntungan.
- Inflasi ekspektasi: Terjadi karena prediksi bahwa harga akan terus naik pada masa depan. Dengan harapan ini, konsumen meningkatkan permintaan mereka atau produsen menaikkan harga mereka dalam antisipasi bahwa biaya produksi akan meningkat.
Jenis inflasi berdasarkan tingkat keparahannya
- Inflasi rendah: Ciri-cirinya adalah pertumbuhan lambat dan bisa diprediksi. Biasanya mencatat tingkat pertumbuhan tahunan satu digit.
- Inflasi galop: Terjadi ketika tingkat inflasi fluktuatif antara 20%, 100%, atau bahkan 200% per tahun. Dalam situasi ini, nilai uang merosot dengan cepat.
- Hiperinflasi: Tidak ada definisi yang pasti, tetapi umumnya hiperinflasi terjadi ketika tingkat inflasi melampaui 50% per bulan. Standar ini dikemukakan oleh Profesor Philip Cagan dari Universitas Columbia pada tahun 1956. Kondisi ini sering terkait dengan masa perang, krisis politik, atau depresi ekonomi yang mengakibatkan runtuhnya sistem keuangan suatu negara.

Apa Penyebab Inflasi di Indonesia?
Penyebab inflasi adalah tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut:
- Meningkatnya permintaan (inflasi permintaan): Ini terjadi ketika permintaan atas barang dan jasa melebihi pasokan yang tersedia sehingga menyebabkan harga naik.
- Kenaikan biaya bahan baku (inflasi biaya): Hal ini terjadi ketika biaya produksi meningkat, seperti kenaikan harga bahan baku, tenaga kerja, atau biaya produksi lainnya, yang kemudian menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa.
- Peningkatan ekspektasi inflasi oleh konsumen dan/atau perusahaan (inflasi yang dibangun sendiri): Ketika konsumen dan perusahaan mengharapkan bahwa harga akan terus meningkat di masa depan, mereka cenderung menaikkan harga barang dan jasa mereka saat ini.
- Meningkatnya pasokan uang: Hal ini terkait dengan kebijakan ekonomi, di mana bank sentral meningkatkan jumlah uang beredar dalam perekonomian. Ini bisa dilakukan dengan menurunkan suku bunga, menggunakan program pelonggaran kuantitatif (QE) untuk meningkatkan likuiditas, atau dengan mencetak lebih banyak uang. Namun, tindakan ini harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan hiperinflasi.
👉🏻 Dampak Kebijakan Tarif Trump di Pasar Saham Eropa, AS & Indonesia
Dampak Inflasi
Inflasi memiliki dampak sebagai berikut:
- Penurunan daya beli: Sejumlah uang yang sama tidak akan mampu membeli barang dan jasa yang sama pada masa depan seperti yang dapat dilakukan saat ini. Ini terutama mempengaruhi individu dengan penghasilan rendah, karena mereka mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan dasar.
- Keinginan untuk melindungi nilai: Selama periode inflasi tinggi, orang mungkin cenderung berinvestasi dalam aset yang nilainya stabil karena uang tunai atau investasi likuid lainnya kehilangan nilainya.
- Dorongan konsumsi: Konsumen mungkin cenderung untuk membeli barang dan jasa lebih banyak hari ini sebelum harga naik besok sehingga mengurangi tabungan mereka.
- Penurunan nilai hutang: Hutang seperti hipotek, dalam istilah riil, kehilangan nilai karena nilai nominalnya tetap stabil seiring waktu. Namun, bagi pemberi pinjaman, pembayaran yang diterima hari ini bernilai lebih rendah secara riil dibandingkan pembayaran pada masa depan.
- Kemungkinan distorsi pajak: Inflasi dapat menyebabkan perubahan dalam pendapatan nominal, yang dapat menggeser individu ke kategori pajak yang lebih tinggi tanpa peningkatan pendapatan riil yang sesuai. Jika pendapatan naik 10% dan inflasi juga meningkat sebesar itu, pendapatan riil sebenarnya tidak mengalami peningkatan.
- Penurunan investasi: Tingkat inflasi yang tinggi dapat menghambat keputusan investasi karena sulit untuk memprediksi nilai riil dari pendapatan pada masa depan.
stasi yang lebih baik dan menyesuaikan portofolio mereka dengan kondisi pasar yang sedang berubah.
👉🏻 Cara Terbaik Investasi Saham Saat Krisis Ekonomi
Bagaimana Cara Menghitung Inflasi?
Ada 3 indeks yang biasanya untuk menghitung inflasi. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya:
- Indeks Harga Konsumen (CPI): CPI mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen. Ini adalah salah satu metrik inflasi yang paling sering digunakan untuk menilai daya beli dan tingkat inflasi.
- Indeks Harga Produsen (PPI): PPI mengukur perubahan harga dari perspektif penjual atau produsen. Indikator ini memberikan gambaran tentang tekanan inflasi di tingkat produksi sebelum mencapai konsumen.
- Indeks Pengeluaran Konsumen Pribadi (PCE): PCE mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga. Indikator ini mempertimbangkan substitusi antar barang oleh konsumen dan memberikan gambaran yang lebih luas tentang inflasi konsumen.
Ketiga indikator ini berperan penting dalam mengukur perubahan harga dan pengaruhnya terhadap inflasi, yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter dan keputusan ekonomi.
Inflasi Inti
Apa itu inflasi inti? Secara sederhana, inflasi inti adalah konsep yang menghilangkan pengaruh harga barang-barang yang rentan terhadap fluktuasi harga, seperti makanan yang mudah rusak, energi, dan bahan bakar, karena sifat volatilitasnya yang tinggi. Hal ini dilakukan untuk mencegah gangguan pada gambaran keseluruhan inflasi. Sebagai gantinya, perhatian difokuskan pada kategori barang yang lebih stabil dalam harga, seperti perumahan, transportasi, dan rekreasi. Konsep ini memberikan pemahaman yang lebih akurat tentang perubahan harga yang bersifat lebih permanen, sehingga menjadi alat yang berharga dalam mengevaluasi efek dari kebijakan moneter.
Sebagai contoh, harga minyak atau jenis makanan tertentu dapat mengalami fluktuasi yang signifikan karena faktor-faktor, seperti peristiwa geopolitik atau kondisi cuaca. Namun, fluktuasi ini tidak selalu mencerminkan tren ekonomi yang lebih luas. Dengan demikian, konsep inflasi mendasar membantu kita memahami kondisi sebenarnya dari perekonomian, yang lebih dipengaruhi oleh permintaan domestik dan sentimen konsumen daripada perubahan harga yang tidak stabil di sektor-sektor yang volatil.
Apakah Inflasi di Indonesia Buruk?
Pemerintah dan Bank Indonesia memiliki kebijakan untuk menargetkan inflasi yang rendah dan stabil. Meskipun inflasi dapat mengurangi daya beli, strategi ini penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang sehat. Dengan menjaga inflasi tetap rendah dan stabil, harapannya masyarakat akan terus menghabiskan uang mereka, perusahaan akan lebih percaya diri dalam berinvestasi, dan ekonomi akan terus tumbuh.
Tujuannya adalah menemukan keseimbangan di mana inflasi cukup tinggi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak terlalu tinggi sehingga menyebabkan efek negatif yang merugikan. Dalam konteks Indonesia, sedikit inflasi tidak hanya diharapkan tetapi diinginkan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Berapa rata-rata inflasi Indonesia 10 tahun terakhir?

Rata-rata inflasi Indonesia selama 10 tahun terakhir mengalami penurunan. Jika kita melihat data di atas, inflasi tertinggi pernah terjadi di Indonesia pada Juni-Juli 2015. Pada dua bulan tersebut inflasi tercatat 7,26%. Tingkat inflasi tahunan Indonesia menjadi 1,57% pada Desember 2024 dari 1,55% pada bulan sebelumnya, yang merupakan level terendah sejak Juli 2021.
Jika melihat laju inflasi, terjadi penurunan signifikan dalam 10 tahun terakhir. Adapun pada Januari 2015 inflasi tercatat 6,96% dan Desember 2024 tercatat 1,54%. Sehingga laju inflasi sebesar - 77,87%.
Baca juga : Obligasi Terkait Inflasi atau TIPS: Apa itu dan Bagaimana Cara Kerjanya?
FAQs - Pertanyaan Yang Sering Diajukan
Setelah memahami tentang inflasi, Anda dapat melakukan langkah pertama dengan berinvestasi di berbagai instrumen. Karena itu, kami menyiapkan artikel tentang berinvestasi di obligasi khusus untuk Anda.