logo RankiaIndonesia

Apa itu Denominasi Uang, Dampak & Bedanya dengan Redenominasi?

Denominasi uang dan pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat

Denominasi uang adalah suatu hal yang tidak bisa kita jadikan sebagai tolok ukur daya beli masyarakat di suatu negara.

Anda pasati sudah sering mendengar bahwa banyak turis asing yang kebingungan ketika melakukan transaksi dengan mata uang Rupiah. Ini karena adanya perbedaan denominasi Rupiah dengan mata uang negara lainnya. Pecahan Rupiah memiliki angka nol yang lebih banyak jika kita bandingkan dengan mata uang Euro maupun USD.

Misalnya, pecahan 100.000 Rupiah tidak dapat kita temukan dalam mata uang USD. Sepanjang sejarah, nominal terbesar yang pernah ada pada mata uang USD adalah 10.000, namun nominal ini sudah dihentikan peredarannya.

Mungkin Anda sudah sering mendengar istilah ini, namun apa arti denominasi sebenarnya? Dalam artikel ini kami akan membahas arti denominasi dengan bahasa yang sederhana. Kemudian, kami juga akan memberikan penjelasan apakah jumlah nol yang banyak tersebut sebanding dengan daya beli atau hanya sekedar "pemanis"?

Mari kita mulai pembahasannya!

👉Ketahui USD vs USDT, Apa Bedanya untuk Investor Pemula?

Apa itu Denominasi Uang?

Secara sederhana, denominasi uang adalah nilai nominal atau pecahan dari mata uang yang tercantum pada uang kertas maupun uang logam. Penentuan pecahan nominal di suatu mata uang harus melalui berbagai pertimbangan yang matang. Sehingga, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lebih efisien untuk transaksi harian.

apa itu denominasi uang
(Sumber: CNBC Indonesia)

Bank sentral menjadi lembaga keuangan yang bertanggung jawab menerbitkan dan menetapkan pecahan nominal uang. Di Indonesia, Bank Indonesia (BI) menjadi lembaga yang memiliki tugas dan wewenang dalam mengelola mata uang Rupiah.

Berikut landasan hukum yang mengatur tugas dan wewenang Bi dalam mengelola Rupiah:

  • Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dalam undang-undang ini, Bank Indonesia (BI) memiliki tugas dan wewenang dari pemerintah Indonesia untuk merencanakan, mencetak, mengeluarkan, mengedarkan, mencabut dan menarik, sampai memusnahkan uang Rupiah.

Ini juga termasuk rencana menentukan jumlah nominal uang yang ingin diterbitkan. Pada tahapan pencetakan dan penentuan jumlah nominal uang, Bank Indonesia(BI) harus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia untuk memutuskannya.

Setelah proses denominasi dan pencetakan uang selesai, uang Rupiah siap untuk mereka terbitkan dan edarkan ke seluruh wilayah Indonesia. Kemudian, BI akan menarik uang edisi lama dan menggantinya dengan uang edisi terbaru dengan nominal yang sama atau setara.

Contoh Denominasi Uang Rupiah

Apa saja bentuk mata uang Rupiah?

Bank Indonesia menerbitkan 2 jenis uang Rupiah, yaitu uang kertas dan uang logam. Berikut daftar nominal pecahannya:

Pecahan Nominal Uang Kertas Rupiah

Rp1.0002022, 2016, 2000
Rp2.0002022, 2016, 2009
Rp5.0002022, 2016, 2001
Rp10.0002022, 2016, 2005
Rp20.0002022, 2016, 2004
Rp50.0002022, 2016, 2005
Rp75.0002020
Rp100.0002022, 2016, 2014, 2004

Nominal uang rupiah terkecil untuk uang kertas adalah Rp1.000 dan nominal terbesarnya adalah Rp100.000. Namun, pecahan Rp75 ribu adalah uang kertas edisi khusus yang terbit tahun 2020 dalam rangka memperingati HUT RI ke-75.

Pecahan Nominal Uang Logam Rupiah

Rp50 1999
Rp5002016, 2003
Rp2002016, 2003
Rp1002016, 1999
Rp1.0002016, 2010

Selain uang logam Rupiah di atas, masih ada beberapa uang logam lainnya yang masih berlaku di Indonesia. Contohnya adalah uang logam edisi khusus tahun 2001 "Peringatan100 Tahun Bung Karno" yang memiliki nominal Rp500.000 dan Rp25.000.

Ada juga uang logam Rp150 ribu dan Rp10 ribu yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) secara khusus dengan seri "For The Children of The World" pada tahun 1999.

Untuk informasi lebih detail terkait peredaran uang rupiah yang sudah tidak berlaku dan sudah ditari dari peredaran, Anda bisa mencari informasi lengkap di situs resmi Bank Indonesia (BI).

Cara Kerja Denominasi Uang

Dalam ekonomi, cara kerja denominasi adalah hal yang sangat mudah untuk kita pahami. Sebagai pengguna uang Rupiah, Anda hanya cukup melihat nilai nominal uang yang ada di uang kertas maupun uang logam. Misalnya Anda memiliki uang kertas Rp100 ribu, ini berarti nilai uang tersebut adalah seratus ribu Rupiah.

Namun, saat berbicara tentang daya beli dari uang Rp100 ribu tersebut, tentu saja memiliki perbedaan antara saat ini dengan jaman dulu. Penurunan nilai uang tersebut karena adanya beberapa faktor ekonomi seperti inflasi yang membuat harga barang dan jasa di pasar mengalami kenaikan.

Sehingga, denominasi uang tidak bisa kita jadikan tolok ukur daya beli. Masih ada beragam faktor lainnya yang memengaruhi daya beli dari suatu mata uang.

Sejarah Denominasi Uang Rupiah di Indonesia

Tahukah Anda berapa usia rupiah saat ini? Mari kita sejenak melihat sejarahnya!

Denominasi uang pertama kali diperkenalkan di Indonesia melalui Oeang Republik Indonesia (ORI), yang saat itu menjadi cikal bakal mata uang Rupiah nasional dan hingga saat ini masih kita gunakan sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Di awal pasca kemerdekaan RI (Agustus 1945 - Oktober 1946), ada 3 mata uang yang saat itu masih berlaku di Indonesia:

  • Uang NICA
  • Gulden Hindia Belanda
  • Uang Jepang

Kemudian, pemerintah Indonesia menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) pada 30 Oktober 1946 dan menjadikan ORI sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia. Tujuan utama pemerintah Indonesia menerbitkan ORI adalah untuk menghentikan peredaran uang Jepang dan uang NICA yang tidak terkendali.

Menurut informasi yang kami kutip dari Kementerian Keuangan, saat itu nilai 10 rupiah ORI sama denga nilai 5 gram emas murni. Sementara nilai tukar ORI terhadap uang Jepang sebesar 1:50 untuk daerah Pulau Jawa dan Madura, serta 1:100 untuk wilayah lainnya.

👉🏻 Cara Investasi Rutin Setiap Bulan dengan Modal Kecil

Kapan Mata Uang Rupiah Resmi Berlaku di Indonesia?

Mata uang Rupiah sebenarnya sudah menjadi alat pembayaran yang sah di Indonesia sejak 2 November 1949, saat Konferensi Meja Bundar (KMB). Namun, sebelum Bank Indonesia (BI) resmi berdiri pada 1 Juli 1953, ORI masih menjadi mata uang resmi Indonesia.

Sebelum berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI) hingga sekarang, BI dulunya adalah De Javasche Bank. Bank ini mengeluarkan uang kertas pertamanya di tahun 1953.

Dengan begitu, jika kita lihat dari perjalanan sejarah Oeang Republik Indonesia (ORI) hingga bertransformasi menjadi mata uang Rupiah seperti sekarang, di tahun 2026 ini usianya sudah memasuki 80 tahun.

Indonesia Pernah Melakukan Redenominasi Rupiah

Dalam rentang waktu dari 1946 sampai sekarang, Bank Indonesia (BI) sendiri pernah mengambil kebijakan redenominasi rupiah pada tahun 1965 di era kepemimpinan Presiden Soeharto. Redenominasi adalah penyederhanaan nilai nominal mata uang dengan cara mengurangi jumlah digit angka nol.

Pada saat itu, BI memotong tiga nol di uang Rupiah (Rp1.000 menjadi Rp1). Namun, realisasinya mengalami kegagalan dan semakin memperburuk ekonomi Indonesia di tengah kondisi hiperinflasi (naik lebih dari 600%). Hal ini menciptakan kondisi politik yang tidak stabil oleh karena masyarakat yang belum siap dengan perubahan tersebut.

Pemotongan tinga digit nol pada saat itu sebenarnya bukanlah redenominasi, melainkan kebijakan sanering. Kebijakan ini tidak hanya menghilangkan tiga digit nol di mata uang, tetapi juga mengurangi daya beli dan memotong nilai riil dari uang tersebut.

Pada masa-masa selanjutnya, wacana redenominasi Rupiah juga pernah terjadi di era kepemimpinan Presiden SBY (2013) dan Presiden Jokowi (2017). Namun, kedua wacana tersebut belum pernah terealisasikan.

Kemudian, wacana ini kembali muncul di era Presiden Prabowo Subianto pada tahun 2025. Kabarnya, RUU redenominasi akan menjadi prioritas utama pemerintah di tahun 2026.

Apa itu Perbedaan Denominasi dan Redenominasi?

Dalam konteks ekonomi, istilah denominasi dan redenominasi uang tidaklah sama. Berikut daftar perbedaannya:

DefinisiDenominasi adalah satuan atau nilai nominal uang yang berlaku.Redenominasi adalah proses penyederhanaan nilai nominal uang yang dianggap terlalu banyak nol dan memotong angka nol tersebut. Misalnya, Rp1.000 menjadi Rp1.
FungsiMengatur nilai nominal dan bentuk uang yang diterbitkan.Menyederhanakan nilai nominal uang, meningkatkan efisiensi untuk transaksi harian, meningkatkan citra mata uang di dunia internasional, dan mendukung modernisasi di sistem pembayaran.
DampakNilai nominal yang tercantum di uang dapat dijadikan sebagai alat tukar yang sah.Perubahan nilai nominal uang tidak mengubah nilai riil dan daya beli dari mata uang.

Apa Efek Denominasi Uang?

Kebijakan denominasi oleh bank sentral pada tahapan pencetakan uang memiliki dampak dalam ekonomi dan dapat mempengaruhi kebiasaan transaksi harian di masyarakat. Berikut beberapa efek denominasi uang dalam kehidupan nyata:

  • Kebiasaan belanja
    • Kebijakan denominasi bank sentral yang menerbitkan nilai pecahan nominal lebih kecil bisa membuat masyarakat lebih berhemat. Ini karena masyarakat cukup membawa uang belanja secukupnya dengan pecahan uang nominal kecil. Misalnya Anda cukup membawa pecahan uang kertas Rp20 ribu untuk belanja di pasar.
  • Membangun kebiasaan menabung
    • Masyarakat pada umumnya pasti merasa sayang untuk membelanjakan uang nominal besar yang mereka miliki dan cenderung lebih memilih untuk menyimpannya. Kebiasaan ini bisa membantu Anda lebih rajin dalam menabung dan investasi.
  • Memudahkan pedagang kecil memberi kembalian
    • Adanya denominasi untuk nilai nominal uang yang lebih kecil, tentu bisa memudahkan pedagang kecil dalam memberi kembalian.

Pada dasarnya penentuan denominasi uang harus mempertimbangkan efisiensi dan kemudahan transaksi harian bagi masyarakat. Penukaran uang di masyarakat bisa mengalami kenaikan karena dipengaruhi faktor musiman dan budaya.

Contohnya uang pecahan Rp2.000 akan banyak dicari masyarakat saat momen lebaran untuk "salam tempel". Sementara di momen Imlek akan ada banyak masyarakat Tionghoa yang menukarkan uang lama ke uang baru yang lebih bersih untuk angpao.

Faktor-faktor yang Menentukan Daya Beli dari Suatu Uang

Anda pasti pernah mendengar berita heboh terkait mata uang suatu negara yang nominalnya bisa mencapai triliunan, namun uang tersebut sama sekali tidak memiliki nilai. Kondisi ini pernah terjadi di Zimbabwe, salah satu negara yang terkenal sebagai negara termiskin di dunia.

Pemerintah negara ini pernah menerbitkan mata uang dolar Zimbabwe (Z$) dengan nominal terbesar mencapai 100 triliun dolar Zimbabwe. Namun, nilai mata uang yang paling tinggi ini bahkan tidak bisa membeli 1 roti. Ini karena Zimbabwe sempat mengalami hiperinflasi mencapai 231 juta persen per tahun pada tahun

Pemerintah di negara tersebut sendiri pernah menerbitkan mata uang dolar Zimbabwe (Z$) yang nilai nominal terbesarnya mencapai 100 triliun dolar Zimbabwe. Namun, tingginya nilai nominal uang tersebut bahkan tidak bisa membeli 1 roti. Ini karena pada tahun 2008 lalu, negara Zimbabwe dilanda hiperinflasi yang mencapai 231 juta persen.

Saat ini, banyak masyarakat Zimbabwe yang lebih memilih menggunakan dolar Amerika Serikat dan rand Afrika Selatan sebagai alat pembayaran. Belajar dari negara Zimbabwe, ternyata ada beberapa faktor yang dapat menentukan dan memengaruhi daya beli dari suatu mata uang. Berikut penjelasannya:

1. Hiperinflasi

Penurunan daya beli dari suatu mata uang dapat dipicu oleh gejolak ekonomi yang sedang terjadi. Di mana, gejolak ekonomi tersebut dapat menyebabkan hiperinflasi. Hiperinflasi adalah kondisi ekonomi di suatu negara yang mengalami inflasi lebih dari 50% per bulan.

Negara yang mengalami hiperinflasi, harga barang dan jasa akan naik secara drastis tapi tidak dengan daya bel masyarakatnya. Nilai uang di tengah hiperinflasi akan terus turun secara dratsis dan bisa sampai sangat ekstrim ketika uang benar-benar tidak ada harganya.

👉Inflasi Januari-November 2,27% Didorong oleh Harga Emas!

2. Suku Bunga

Pada saat suku bunga tinggi, daya beli uang bisa menurun karena banyak masyarakat yang enggan untuk membelanjakan uangnya dan lebih memilih menabung. Hal ini secara tidak langsung bisa menekan harga barang dan jasa, namun menurunkan daya beli uang di masyarakat.

👉Anda bisa mengetahui suku bunga BI terbaru selengkapnya di artikel berikut: Suku bunga Bank sentral Indonesia, BI Rate November Tetap 4,75%

3. Kebijakan Moneter

Faktor lainnya yang juga bisa memengaruhi daya beli uang di masyarakat adalah kebijakan moneter. Kebijakan moneter yang dilakukan bank sentral dapat mempengaruhi suku bunga, inflasi, dan jumlah uang yang beredar. Misalnya jumlah uang yang beredar di sebuah negara terlalu banyak akan menyebabkan inflasi dan membuat harga barang/jasa naik, serta menekan nilai uang di masyarakat.

👉Apa itu Quantitative Easing dan Dampaknya di Pasar?

4. Kepercayaan Masyarakat

Suatu mata uang yang mendapatkan kepercayaan secara global membuat mata uang tersebut memiliki nilai tukar yang kuat dibanding mata uang lainnya. Salah satu faktor yang memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap suatu mata uang adalah kestabilan dari nilai tukar uang tersebut dan juga kondisi ekonomi di negara penerbit uang tersebut.

👉Baca juga: 10 Mata Uang Terkuat di Dunia & Pengaruhnya Terhadap Ekonomi 2025

Bagaimana Denominasi Uang Dapat Memengaruhi Pasar Saham?

Denominasi uang bukanlah faktor yang secara langsung mempengaruhi pasar saham. Namun menjadi salah satu hal di dalam kebijakan moneter bank sentral yang dapat membentuk sentimen pasar dan mempengaruhi valuasi saham melalui hal berikut:

  • Persepsi inflasi yang terjadi di suatu negara.
  • Stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor.
  • Likuiditas dan kemudahan transaksi.
  • Suku bunga dan kebijakan moneter.
  • Nilai tukar.

Ketika Anda menggunakan aplikasi saham terbaik di Indonesia, denominasi uang dalam rupiah dapat mengubah nilai investasi Anda mengikuti nilai nominal uang yang berlaku saat itu.

Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ)

.

Iklan
Artikel terkait