Perdagangan Komoditas
Cara Investasi Minyak di Indonesia: Saham & Futures

Perang AS-Israel vs Iran yang baru-baru saja terjadi telah membuat pasar minyak ikut bergejolak. Perang yang memanas antara Amerika Serikat, Israel dan Iran sekali lagi memicu volatilitas di minyak mentah. Semua mata tertuju pada jalur perdagangan yang lebarnya 30 kilometer: Selat Hormuz.

Oleh karena itu, pada artikel ini kami akan membahas konteks terbaru yang bisa memengaruhi pasar dan berbagai cara untuk investasi di sektor minyak di Indonesia. Kalau kamu merasa ada peluang menguntungkan dengan investasi di minyak, simak artikel ini!
Kenapa harga minyak dunia kembali naik?
Kita akan membahas kondisi pasar minyak baru-baru ini. Saat harga minyak kembali normal, konflik bersenjata kembali meletus. Pada tahun 2025 kita melihat harga minyak mentah (crude oil) kembali ke harga normal, ke level yang belum pernah kita lihat sejak akhir 2021. Konflik ini tentu membuat harga minyak dunia kembali bergejolak.
Serangan AS terhadap Iran, di Ibu Kota Negara Iran Teheran, telah mengakhiri hidup Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kemudian tentara Iran membalas dengan melakukan serangan ke negara-negara sekutu Amerika Serikat seperti Dubai atau Arab Saudi. Perang Iran vs AS-Israel ini, sekali lagi, menyebabkan guncangan pada harga minyak mentah di pasar berjangka, dengan kenaikan 15% meski akhirnya kembali normal menjadi 10%.

Hal yang menjadi titik kritis adalah keberadaan Selat Hormuz. Sebuah jalur yang lebarnya tidak lebih dari 40 kilometer, yang menjadi jalur lewat sekitar seperlima minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari.
Jika jalur Selat Hormuz ditutup baik karena serangan AS atau aksi sabotase dari Iran, harga minyak dunia pasti akan meningkat. Kenapa? karena tidak akan ada jalur alternatif untuk semua minyak yang berasal dari Irak, Iran, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain dan beberapa wilayah Arab Saudi yang berupaya mengelilingi semenanjung Arab untuk mengakses Terusan Suez.

Tentu saja sudah ada informasi mengenai gangguan logistik seperti kapal tertahan, perusahaan menghentikan pengiriman, hingga penutupan atau penghentian fasilitas. Gangguan yang tidak menjadi penyebab krisis pasokan yang parah, akan meningkatkan volatilitas sampai ada kepastian geopolitik yang lebih besar dari Iran, Israel dan AS.
Untuk memahami konteks yang memengaruhi harga minyak mentah dunia, mari kita lihat lebih dekat industri yang membentuknya!
👉🏻 Kronologi dan Dampak Perang Iran – Amerika & Israel ke Indonesia

Bagaimana Cara Kerja Industri Minyak?
Industri minyak terbagi menjadi tiga segmen utama: hulu, tengah dan hilir. Masing-masing segmen memiliki peran penting dalam pertambahan nilai minyak. Mulai dari ekstraksi hingga transformasinya menjadi produk akhir yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Upstream (Hulu)
Segmen hulu minyak adalah yang berhubungan dengan eksplorasi serta produksi minyak mentah dan gas. Perusahaan yang bergerak di hulu minyak akan mencari cadangan minyak mentah dengan teknik geofisika dan geologi. Kemudian mengekstraksinya dengan mengebor sumur-sumur.
Mereka memiliki tanggung jawab utama atas tahap awal produksi, seperti pengeboran serta pengangkatan minyak dan gas ke permukaan. Bagian hulu minyak ini biasanya memiliki ciri investasi modal yang tinggi, jangka waktu yang lama, risiko yang tinggi, dan penggunaan teknologi yang intensif.
Midstream (tengah)
Segmen midstream memiliki fokus utama pada segala sesuatu terkait mengangkut dan menyimpan minyak mentah untuk diproses di kilang. Perusahaan mengangkut minyak dari sumur produksi ke kilang melalui pipa, kapal tanker atau kereta api. Di kilang, mereka akan mengolah minyak mentah menjadi berbagai produk seperti bensin, solar, bahan bakar jet dan petrokimia.
Midstream biasanya memiliki ciri yaitu transportasi jalan raya, pelayaran, dan penyimpanan bahan mentah, serta jaringan pipa. Pada rantai Midstream cirinya adalah dengan risiko modal yang rendah dan regulasi yang tinggi.
Midstream sangat bergantung pada perusahaan hulu.
Downstream (Hilir)
Bagian terakhir adalah perusahaan hilir yaitu perusahaan yang bertanggung jawab mendistribusikan dan menjual produk olahan minyak bumi. Produk-produk tersebut didistribusikan melalui jaringan stasiun layanan, SPBU, bandara dan titik penjualan lainnya.

Industri minyak adalah industri global, dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di seluruh dunia. Perusahaan minyak dapat berpartisipasi dalam satu atau lebih segmen rantai industri minyak.
Jenis-jenis minyak yang diperdagangkan
Minyak bukanlah produk tunggal dan homogen. Minyak terdiri dari berbagai jenis dengan karakteristik dan harga yang berbeda. Di antara berbagai jenis minyak, ada dua minyak yang paling populer yaitu minyak WTI dan minyak Brent.
- Minyak WTI (West Texas Intermediate)
- Adapun minyak WTI adalah minyak mentah yang ringan dengan kandungan sulfur rendah yang pengekstraksiannya di Amerika Serikat.
- Merupakan tolok ukur utama untuk pasar AS
- Perdagangannya di pasar berjangka New York (NYMEX)
- Minyak Brent
- Adapun minyak brent adalah campuran dari 15 jenis minyak mentah ringan yang pengekstraksiannya di Laut Utara, Afrika dan Timur Tengah.
- Merupakan tolok uku utama untuk pasar minyak internasional
- Perdagangan di pasar berjangka Intercontinental Exchange (ICE)
- Jenis minyak lainnya
- Dubai: minyak mentah ringan dengan kandungan sulfur rendah yang pengekstraksiannya di Uni Emirat Arab.
- Urals: minyak mentah berat dengan kandungan sulfur tinggi yang pengekstaksiannya di Rusia.
- OPEC Basket: keranjang acuan yang mencakup minyak mentah dari negara-negara OPEC.
Apa yang mempengaruhi harga minyak?
Setelah kita memahami rantai produksi minyak, kita juga harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhi harga bahan baku tersebut. Harga minyak bervariasi tergantung pada jenis minyak mentah, penawaran dan permintaan, situasi geopolitik dan faktor-faktor lainnya:
Penawaran & permintaan
- Penawaran atau pasokan: jumlah minyak yang tersedia di pasar. Hal yang mempengaruhi adalah faktor produksi negara anggota OPEC, produksi AS, teknologi ekstraksi dan ketersediaan cadangan.
- Permintaan: jumlah minyak yang bersedia dibeli oleh konsumen. Hal yang mempengaruhi adalah pertumbuhan ekonomi, jumlah konsumsi, harga bahan bakar alternatif dan kebijakan lingkungan.
Kondisi ekonomi global
- Pertumbuhan ekonomi dunia yang kuat umumnya menyebabkan peningkatan perminyaak minyak dan bisa mendorong harga minyak dunia untuk naik.
- Sebaliknya saat terjadi resesi ekonomi maka permintaan minyak bisa turun dan membuat harga minyak dunia turun ke bawah juga.
Konflik geopolitik dengan negara-negara produsen
- Ketidakstabilan politik di negara-negara penghasil minyak mentah dapat mengganggu pasikan dan menciptakan ketidakpastian di pasar. Ini bisa menyebabkan harga minyak naik.
- Contoh: Perang Ukraina, Ketegangan di Timur Tengah dan sanksi terhadap Venezuela telah memberikan dampak signifikan pada harga minyak dalam beberapa tahun terakhir.
Faktor-faktor lain penentu pergerakan harga minyak
- Spekulasi: aktivitas spekulatif di pasar berjangka dapat memengaruhi harga minyak dalam jangka pendek.
- Bencana alam: memengaruhi infrastruktur minyak yang bisa mengganggu pasokan dan menyebabkan kenaikan harga minyak.
- Kemajuan teknologi: dalam hal ekstraksi, kemajuan teknologi bisa meningkatkan pasokan minyak dan menekan harga.
Negara utama penghasil minyak di dunia
Berikut adalah peringkat negara-negara penghasil minyak utama pada akhir tahun 2025 dan data gabungan untuk 2026:
| Negara | Produksi dunia 2026 (dalam juta barel per hari) | ||
|---|---|---|---|
| AS | 13,6 | ||
| Arab Saudi | 9,35 | ||
| Rusia | 9 | ||
| Kanada | 6 | ||
| Irak | 4,3 |
| Negara | Produksi dunia 2026 (dalam juta barel per hari) |
| AS | 13,6 |
| Arab Saudi | 9,35 |
| Rusia | 9 |
| Kanada | 6 |
| Irak | 4,3 |
Adapun Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Nigeria (US$ 2.446,11 juta) , Arab Saudi (US$ 1649,21 juta) dan Angola (US$ 1.941,01 juta) pada tahun 2025 menurut data BPS.
Dalam memahami industri minyak ada dua hal utama yang perlu kalian ketahui yaitu perbedaan antara produksi minyak dan jumlah cadangan minyak. Adapun, cadangan minyak adalah minyak yang belum diekstraksi.
Dalam hal ini, Amerika sebagai negara dengan cadangan 36.500 juta barel berada jauh di belakang negara produsen lainnya seperti Venezuela (266.000 juta barel), Iran (158.000 juta barel), Irak (143.000 juta barel), dan Kuwait (102.000 juta barel). Rusia dan Arab Saudi masing-masing memiliki cadangan sebesar 98.000 juta dan 80.000 juta. Informasi ini penting untuk menentukan kapasitas pasokan di masa depan serta arus impor dan ekspor pada 2021.
Kini, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak alias Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC), yang berdiri pada tahun 60an, sebagian besar beranggotakan Arab Saudi, Kuwait, Iran, Irak, dan Venezuela, memainkan peran mendasar dalam sisi pasokan minyak mentah. Meskipun anggaran dasar organisasi tidak menyatakan secara eksplisit, mereka merupakan penentu harga di pasar. Jika OPEC memutuskan untuk membatasi produksi, hal ini dapat memaksa kenaikan harga minyak.
Berinvestasi pada “emas hitam” berarti bersplekulasi pada tingkat risiko yang tinggi karena pada dasarnya negara-negara produsen minyak merupakan zona perang dan konflik politik, sehingga fluktuasinya bisa sangat besar.
Singkatnya, inilah yang membuat bensin yang kita beli saat ini lebih mahal dari beberapa tahun lalu, tetapi juga jauh lebih murah dari tahun 2022.
Masalah minyak akhir dekade ini
Masa depan minyak berada dalam skenario yang kompleks. Ditandai dengan serangkaian tantangan yang dapat berdampak signifikan pada pasar di akhir dekade ini.
Gerakan anti-minyak di negara-negara Barat:
- Kebijakan lingkungan dan iklim: negara-negara Barat mendorong transisi ke sumber energi terbarukan, yang berarti adanya pengurangan konsumsi minyak secara bertahap. Adanya subsidi untuk energi terbarukan telah merugikan energi konvensional.
- Larangan dan pembatasan: beberapa negara telah menetapkan tenggat waktu untuk penjualan kendaraan bermotor, yang akan memengaruhi permintaan bensin dan solar.
Pertumbuhan kesadaran ekologis
- Tekanan sosial: masyarakat menuntut langkah-langkah untuk memerangi perubahan iklim, yang memberikan tekanan pada pemerintah dan perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.
- Pengembangan alternatif: investasi dalam energi terbarukan dan teknologi bersih semakin meningkat, yang berpotensi menggantikan minyak di masa depan.
Puncak produksi minyak
- Teori: merujuk pada titik puncak produksi minyak global, setelah itu produksi mulai menurun.
- Dampak: jika puncak produksi minyak tercapai, pasokan minyak dapat berkurang dan menyebabkan kenaikan harga minyak
Investasi ulang dalam struktur modal
- Tingkat rendah: industri minyak telah mengurangi investasi dalam eksplorasi dan pembukaan ladang baru, yang dapat memengaruhi produksi di masa depan.
- Fokus pada dividen: perusahaan minyak besar memprioritaskan pembayaran dividen kepada para pemegang saham mereka.
- Kurangnya investasi pada teknologi baru: kurangnya investasi pada teknologi ekstraksi baru dapat membatasi kemampuan untuk meningkatkan produksi di masa depan.
Penuaan dan penurunan produksi
- Penuaan: sebagian besar deposit dan pabrik pengolahan ditemukan dan dibangun pada abad ke-20, yang berarti fasilitas tersebut telah mencapai akhir masa pakainya.
- Penurunan produksi: produksi dari ladang dan pabrik-pabrik ini dapat secara bertahap menurun, yang akan memengaruhi pasokan minyak global.
Jika kita gabungkan, tantangan-tantangan ini dapat menciptakan skenario kekurangan minyak pada akhir dekade ini. Menyebabkan harga lebih tinggi dan tekanan lebih besar untuk menemukan sumber energi alternatif.
Penting untuk ditekankan bahwa ini adalah skenario yang kompleks dan tidak pasti. Masa depan minyak akan bergantung pada perkembangan kebijakan lingkungan, pengembangan teknologi baru, geopolitik dan keputusan investasi perusahaan minyak. Namun jelas bahwa industri minyak menghadapi masa depan yang penuh tantangan dan transisi menuju dunia dengan emisi karbon yang lebih rendah adalah sesuatu yang tak terhindarkan.
Bagaimana cara investasi minyak di Indonesia?
Sekarang saatnya membicarakan cara memperdagangkan bahan mentah ini. Berikut akan kami jelaskan secara mendalam cara berinvestasi minyak bagi investor Indonesia melalui 4 instrumen yaitu secara fisik, futures, CFD dan memegang saham perusahaan minyak.
Selain itu, ada intrumen investasi lain di minyak yaitu melalui ETF dan pendanaan bersama (investment funds). Namun, untuk berinvestasi di kedua instrumen ini Anda harus mendaftarkan diri di broker internasional seperti Interactive Brokers yang akan kami jelaskan di bawah ini.
Melakukan Jual Beli Minyak Secara Fisik
Pertama, adanya pilihan jual beli minyak secara fisik, di Indonesia ketika akan menjual minyak secara fisik dapat dengan menjadi agen SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Namun tidak disarankan bagi investor perorangan dengan modal terbatas, karena harus mencari tempat untuk menyimpannya dengan sangat hati-hati dan harus memperhatikan tingkat bahayanya dan lain-lain.
Berinvestasi di Minyak Berjangka (Oil Futures)
Saat berbicara investasi minyak berjangka alias oil futures kita akan fokus pada kontrak minyak mentah WTI, dengan simbol utama CL yang diperdagangkan di Chicago Mercantile Exchange (MCE).
Investasi pada kontrak minyak mentah atau oil futures memungkinkan Anda mendapatkan eksposur langsung ke minyak tanpa perlu membelinya secara fisik. Trading kontrak berjangka minyak memungkinkan Anda terhindar dari biaya penyimpanan minyak secara fisik.
Nah, dalam perdagangan oil futures, setiap kontrak berjangka terdiri dari 1.000 barel minyak mentah dan tick atau variasi kuotasi minimumnya adalah 0,01 dolar per barel, yaitu 10 dolar per kontrak.
Melalui kontrak ini, produk-produk ini dijamin penjualan barelnya dan pembeli dijamin menerima barel dengan harga yang disepakati saat ini. Namun, ada juga spekulan yang mencoba menghasilkan uang melalui kontrak jenis ini, mencoba menjualnya sebelum habis masa berlakunya, karena yakin harga minyak mentah akan naik.
Berikut merupakan contoh operasi jual beli yang disederhanakan, antara dua orang disepakati kontrak 1.000 barel dengan harga 50 dolar per barel dengan berakhirnya X. Maka dua kasus dapat terjadi:
- Bahwa harga per barel turun sebelum habis masa berlakunya. Jika misalnya harga turun menjadi 49 dolar per barel, maka $1.000 akan hilang (1$ x 1.000 barel).
- Bahwa harga per barel naik sebelum habis masa berlakunya. Jika misalnya harga naik menjadi 51 dolar per barel, maka diperoleh $1.000 (1$ x 1.000 barel).
Untuk dapat berinvestasi kontrak berjangka minyak dengan aman, Anda juga harus memilih broker resmi yang ada di Indonesia seperti MIFX, Finex dan Dupoin.
Investasi Minyak dengan CFD (Contract for Differences)
Baik futures maupun CFD (Contract for Differences) merupakan perdagangan derivatif yang menawarkan manfaat leverage yang sama. Futures memiliki tanggal kedaluwarsa dan CFD tidak memiliki tanggal kedaluwarsa, sehingga CFD lebih fleksibel. Pada perdagangan futures yang memiliki tanggal kedaluwarsa, likuiditas mungkin tidak mencukupi untuk melepas posisi dengan biaya yang dapat diterima.
Berdasarkan struktur pembiayaan, komisi, dan tarif pembukaan, CFD lebih cocok untuk perdagangan pada posisi kecil dan dalam jangka waktu yang pendek, sedangkan futures adalah pilihan yang lebih sesuai untuk posisi perdagangan lebih besar dengan jangka waktu yang panjang.
Jika Anda tertarik dengan CFD, Anda bisa melihat broker yang menawarkan produk ini. Salah satunya Valbury Asia Futures dengan kode produk USOIL.
Investasi Saham Perusahaan Minyak
Anda juga mempunyai pilihan untuk berinvestasi melalui perusahaan yang mengeksplorasi, memproduksi, mengangkut, memurnikan, dan menjual minyak mentah dengan membeli saham minyak Indonesia terbaik. Beberapa perusahaan tersebut memiliki korelasi langsung antara harga sahamnya dengan harga minyak.
Namun tingkat sensitivitasnya bisa berbeda terhadap fluktuasi harga minyak mentah, tergantung seberapa besar aktivitas bisnis perusahaan berhadapan langsung dengan minyak mentah. Berikut peringkat sensitivitas saham minyak terhadap harga minyak mentah:
- Saham minyak yang paling sensitif karena korelasi yang kuat dengan minyak mentah:
- Saham perusahaan minyak yang fokus pada kegiatan eksplorasi dan produksi: perusahaan ini mencari, mengekstraksi dan memproduksi minyak mentah dan gas alam. Pendapatan perusahaan sangat bergantung langsung pada harga minyak mentah.
- Contoh: PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
- Saham minyak dengan sensitivitas menengah:
- Perusahaan jasa: perusahaan yang menyediakan jasa kepada perusahaan eksplorasi dan produksi seperti pengeboran, pembangunan anjungan dan pembangunan pipa. Saham ini juga sensitif terhadap harga minyak tetapi tidak setinggi perusahaan eksplorasi.
- Contoh: PT Elnusa Tbk (ELSA)
- Saham minyak yang cenderung stabil dengan korelasi rendah terhadap harga minyak mentah:
- Perusahaan penyulingan: perusahaan ini membeli minyak dan mengubahnya menjadi produk olahan seperti bensin, solar dan lainnya. Saham mereka kurang sensitif terhadap harga minyak, karena pendapatan mereka sebagian besar bergantung pada margin penyulingan.
- Contoh: Valero Energy (VLO) dan Marathon Petroleum (MPC)
- Saham minyak yang terintegrasi:
- Perusahaan ini terlibat di semua aktivitas rantai industri minyak, mulai dari eksplorasi dan produksi hingga penyulingan dan distribusi. Saham minyak ini tidak terlalu sensitif dengan harga minyak dunia dari pada dengan perusahaan eksplorasi atau jasa minyak karena terdiversifikasi.
- Contoh: PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
Kita juga bisa melihat bagaimana tingkat sensitivitas harga saham terhadap harga minyak mentah melalui indikator Beta. Nah indikator Beta adalah variabel yang mengukur volatilitas relatif terhadap pasar, mengkorelasikan bagaimana harga suatu aset bervariasi dibandingkan dengan pasar tertentu. Indikator ini biasanya kita gunakan untuk membandingkan dengan pasar secara keseluruhan seperti indeks IHSG atau S&P 500.
Namun kali ini kita akan melihat bagaimana 10 saham minyak dunia terkait dengan harga minyak dunia. Semakin tinggi angka Beta maka semakin tinggi korelasinya.
| Emiten/Perusahaan | Kapitalisasi pasar | Beta | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Exxon Mobil | US$ 347 miliar | 1,24 | |||
| Chevron | US$ 312 miliar | 1,18 | |||
| ConocoPhillips | US$ 132 miliar | 1,31 | |||
| Occidental Petroleum | US$ 56 miliar | 1,45 | |||
| Marathon Petroleum | US$ 47 miliar | 1,29 | |||
| Phillips 66 | US$ 43 miliar | 1,07 | |||
| EOG Resources | US$ 68 miliar | 1,37 | |||
| Pioneer Natural Resources | US$ 50 miliar | 1,34 | |||
| Diamondback Energy | US$ 29 miliar | 1,41 | |||
| Valero Energy | US$ 43 miliar | 1,07 |
| Emiten/Perusahaan | Kapitalisasi pasar | Beta |
| Exxon Mobil | US$ 347 miliar | 1,24 |
| Chevron | US$ 312 miliar | 1,18 |
| ConocoPhillips | US$ 132 miliar | 1,31 |
| Occidental Petroleum | US$ 56 miliar | 1,45 |
| Marathon Petroleum | US$ 47 miliar | 1,29 |
| Phillips 66 | US$ 43 miliar | 1,07 |
| EOG Resources | US$ 68 miliar | 1,37 |
| Pioneer Natural Resources | US$ 50 miliar | 1,34 |
| Diamondback Energy | US$ 29 miliar | 1,41 |
| Valero Energy | US$ 43 miliar | 1,07 |
Investasi Minyak Melalui ETF Minyak
Anda juga dapat berinvestasi pada minyak melalui ETF Minyak. Namun sangatlah penting untuk memahami cara kerjanya karena dalam beberapa kasus. ETF jarang memiliki kepemilikan fisik atas minyak, kinerjanya akan bergantung pada berakhirnya kontrak berjangka.
Masalah utama dengan menggunakan ETF kontrak berjangka adalah kinerja bulan ini cenderung lebih rendah dari kontrak bulan-bulan mendatang. Akibatnya, dana tersebut biasanya mengalami kerugian kecil setiap bulan karena proses reinvestasi dan seiring berjalannya waktu, kerugian tersebut dapat terakumulasi menjadi penurunan yang besar bahkan ketika harga minyak stabil atau meningkat.
ETF didasarkan pada kontrak derivatif yang diperdagangkan di pasar future, didasarkan pada konvergensi antara nilai masa depan dan nilai yang diharapkan. Di sinilah konsep 'Contango' dan 'Backwardation' berperan. 'Contango' adalah ketika harga masa depan berikutnya lebih tinggi dari harga saat ini dan 'Backwardation' adalah kebalikannya.
Ada beberapa jenis ETF Minyak:
- ETF kontrak berjangka minyak (oil futures): ETF berinvestasi pada kontrak berjangka minyak, yang artinya membeli hak untuk mendapatkan sejumlah minyak pada harga yang sudah ditentukan di masa depan.
- ETF perusahaan minyak: berinvestasi pada saham perusahaan minyak yang melakukan kegiatan ekplorasi, produksi, penyulingan hingga transportasi minyak.
- ETF Komoditas: berinvestasi pada beberapa komoditas termasuk minyak.
Berikut beberapa contoh ETF yang bisa dibeli oleh investor Indonesia:
| ETF | Ticker | TER | |||
|---|---|---|---|---|---|
| SDPR Energy Select ETF | XLE | 0,09% | |||
| United States Commodity Funds LLC | USO | 0,6% |
| ETF | Ticker | TER |
| SDPR Energy Select ETF | XLE | 0,09% |
| United States Commodity Funds LLC | USO | 0,6% |
Investasi Minyak melalui ETF ini bisa Anda lakukan dengan membuat akun di GoTrade, Pluang, Ajaib, Phillip Futures maupun Triv.
Beberapa ETF bisa Anda perdagangkan dengan pilihan options trading.
Kesimpulan investasi di minyak mentah
Dalam berinvestasi, ada baiknya untuk tidak berkomitmen penuh pada satu aset saja. Mencari peluang dan mengeksplorasi ide-ide baru adalah hal yang menarik dalam investasi. Jika ada peluang bagus di sektor minyak, maka cobalah untuk mencapainya.
Industri minyak masih jauh dari kata selesai, dan kita harus hidup berdampingan selama bertahun-tahun ke depan. Sebagai sektor siklikal, wajar jika terus terjadi fluktuasi harga, yang dapat Anda manfaatkan sebagai peluang investasi.
Perusahaan minyak besar biasanya juga menawarkan dividen, dan dengan berinvestasi di waktu yang tepat, Anda bisa menikmati bagian siklus yang menguntungkan dengan imbal hasil dividen yang menarik.
Pertanyaan Yang Sering Disampaikan (FAQ)
Berapa biaya berinvestasi minyak?
Biaya investasi minyak tergantung pada metode yang Anda pilih. Membeli saham di perusahaan minyak sama dengan membeli saham lainnya, namun membeli minyak berjangka atau CFD memerlukan deposit margin yang dipegang oleh broker. Persyaratan margin bervariasi tergantung pada broker dan jenis instrumen yang Anda perdagangkan.
Apa cara terbaik untuk berinvestasi minyak?
Jika Anda mencari keuntungan tinggi, Anda dapat mempertimbangkan untuk membeli kontrak berjangka minyak atau CFD. Namun instrumen tersebut lebih berisiko dari membeli saham perusahaan minyak. Jika Anda mencari investasi yang lebih konservatif, Anda mungkin dapat mempertimbangkan untuk membeli saham perusahaan minyak.