Saham

Sepanjang tahun 2025 ada sejumlah saham yang pesta cuan dan menjadi penopang kenaikan IHSG, salah satunya adalah saham BUMI yang termasuk ke dalam daftar saham Bakrie Group. Berbicara soal Bakrie Grup, pasti Anda setuju bahwa group perusahaan ini memiliki diversifikasi bisnis yang sangat beragam sama seperti halnya dengan group perusahaan konglomerat lainnya seperti Djarum.
Dalam artikel ini, Rankia Indonesia akan mengulas sejumlah saham grup Bakrie di BEI yang mewakili bisnis pak ARB di Indonesia beserta fundamental perusahaannya. Mari kita simak pembahasan selengkapnya dalam artikel ini!
👉 10 Harga Saham Paling Mahal di Indonesia, Ini Daftarnya!

Sebelum kita membahas lebih jauh apa saja sektor bisnis grup Bakrie di Indonesia, kami ingin sedikit memberikan informasi terkait perjalanan dan sejarah grup Bakrie hingga bertransformasi menjadi salah satu grup perusahaan terbesar di Indonesia.
Saat ini grup Bakrie dipimpin oleh generasi ketiga keluarga Bakrie yang merupakan anak-anak dari Aburizal Bakrie atau kita kenal dengan sebutan Pak ARB. Group Bakrie pertama kali didirikan oleh Ayah Aburizal Bakrie, H. Achmad Bakrie, melalui perusahaan utamanya PT Bakrie & Brother Tbk yang didirikan pada 10 Februari 1942.
Di awal berdirinya grup Bakrie, perusahaan tersebut memiliki bisnis sebagai perusahaan dagang serta agen komisi yang menjual hasil bumi seperti lada dan kopi. Kemudian, seiring berjalannya waktu grup Bakrie terus berekspansi ke berbagai sektor bisnis, serta mendaftarkan anak perusahaan dan perusahaan induknya sebagai perusahaan publik di Indonesia
Ekspansi dan diversifikasi bisnis dilakukan group Bakrie secara besar-besaran pada tahun 1990-an sampai pertengahan 2000-an. Terutama, ketika Indonesia belum mengalami krisis finansial global 2008.
👉 Cara Investasi di Komoditas: Panduan Lengkap Investasi
| 1 | PT Bakrie & Brothers Tbk | BNBR | Manufaktur dan Infrastruktur | ||||
| 2 | PT Bumi Resources Tbk | BUMI | Energi (batu bara) | ||||
| 3 | PT Energi Mega Persada Tbk | ENRG | Energi (minyak dan gas) | ||||
| 4 | PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk | UNSP | Produk Makanan Pertanian | ||||
| 5 | PT Bakrieland Development Tbk | ELTY | Properti dan perumahan | ||||
| 6 | PT Darma Henwa Tbk | DEWA | Energi (Pendukung Minyak, gas, dan batu bara) | ||||
| 7 | PT Bakrie Telecom Tbk | BTEL | Jasa Telekomunikasi Nirkabel | ||||
| 8 | PT Visi Media Asia Tbk | VIVA | Media | ||||
| 9 | PT Bumi Resources Minerals Tbk | BRMS | Barang baku (logam dan mineral) | ||||
| 10 | PT Ancara Logistic Indonesia Tbk | ALII | Energi (batu bara) | ||||
| 11 | PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk | JGLE | Pariwisata dan rekreasi | ||||
| 12 | PT Intermedia Capital Tbk | MDIA | Media |
| No | Nama Perusahaan | Ticker | Sektor Bisnis |
|---|---|---|---|
| 1 | PT Bakrie & Brothers Tbk | BNBR | Manufaktur dan Infrastruktur |
| 2 | PT Bumi Resources Tbk | BUMI | Energi (batu bara) |
| 3 | PT Energi Mega Persada Tbk | ENRG | Energi (minyak dan gas) |
| 4 | PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk | UNSP | Produk Makanan Pertanian |
| 5 | PT Bakrieland Development Tbk | ELTY | Properti dan perumahan |
| 6 | PT Darma Henwa Tbk | DEWA | Energi (Pendukung Minyak, gas, dan batu bara) |
| 7 | PT Bakrie Telecom Tbk | BTEL | Jasa Telekomunikasi Nirkabel |
| 8 | PT Visi Media Asia Tbk | VIVA | Media |
| 9 | PT Bumi Resources Minerals Tbk | BRMS | Barang baku (logam dan mineral) |
| 10 | PT Ancara Logistic Indonesia Tbk | ALII | Energi (batu bara) |
| 11 | PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk | JGLE | Pariwisata dan rekreasi |
| 12 | PT Intermedia Capital Tbk | MDIA | Media |
Dari banyaknya gurita bisnis milik group Bakrie di Indonesia, setidaknya ada 12 perusahaan Bakrie yang sudah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mulai dari perusahaan yang bergerak di sektor energi, telekomunikasi, hingga media.

Perusahaan satu ini adalah perusahaan induk dari seluruh anak perusahaan Bakrie. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) adalah perusahaan yang didirikan oleh ayah Aburizal Bakrie, H. Achmad Bakrie pada tahun 1941.
Saat ini, emiten BNBR berfokus pada sektor manufaktur dan infrastruktur. Di mana, penopang pendapatan setiap tahunnya berasal dari penjualan pipa baja melalui PT Bakrie Pipe Industries, konstruksi, dan bisnis VKTR.
| Aset | Rp 7,19 triliun | ||
| Utang | Rp 3, 04 triliun | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 2,65 triliun (+2,64% yoy) | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 11,7 miliar (+ 2.148%) | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,73 | ||
| Interest Coverage Ratio | 1,25x |
| Aspek Fundamental BNBR Kuartal III-2025 | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 7,19 triliun |
| Utang | Rp 3, 04 triliun |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 2,65 triliun (+2,64% yoy) |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 11,7 miliar (+ 2.148%) |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,73 |
| Interest Coverage Ratio | 1,25x |
Secara YoY, pendapatan BNBR mengalami penurunan 2,5%. Kami menyajikan data laba bersih di atas merupakan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Laba melonjak signifikan yang menandakan bisnis inti di level holding membaik secara signifikan.
Nilai DER BNBR relatif rendah karena masih di bawah 1, ini menunjukkan bahwa perusahaan induk dari saham Bakrie Group ini memiliki utang yang lebih kecil daripada modal. Di sisi kesehatan keuangan, investor perlu berhati-hati karena penurunan laba BNBR rentan terjadi apabila anak usaha yang tidak 100% dimiliki mengalami kerugian yang sangat besar.
👉 Bagaimana menilai perusahaan berdasarkan Analisis Fundamental?

Mungkin Anda salah satu investor yang mendapatkan keuntungan besar dari saham BUMI di sepanjang tahun 2025. Bagaimana tidak? Saham BUMI adalah salah satu saham Bakrie Group yang "naik daun" di tahun 2025 karena nilainya melonjak secara signifikan. Kenaikan signifikan saham ini terjadi pada periode September 2025 hingga Desember 2025, di mana saham ini naik lebih dari 300%.
Dari sisi bisnis, BUMI populer sebagai salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia dan menjadi saham milik dua group yaitu Salim dan Bakrie.
| Aset | US$ 3,95 miliar | ||
| Utang | US$ 1,14 miliar | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | US$ 1,04 miliar | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | US$ 29,41 juta | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,41 | ||
| Interest Coverage Ratio | 6,65 |
| Aspek Fundamental BUMI | Nilai |
|---|---|
| Aset | US$ 3,95 miliar |
| Utang | US$ 1,14 miliar |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | US$ 1,04 miliar |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | US$ 29,41 juta |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,41 |
| Interest Coverage Ratio | 6,65 |
Pendapatan BUMI hingga kuartal 3 2025 mengalami kenaikan hingga 11,9% secara YoY, namun BUMI mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 76%. Penurunan harga jual rata-rata batu bara dan menurunnya volume produksi BUMI menjadi penyebab dari merosotnya laba bersih perusahaan ini.
Perusahaan BUMI memiliki utang yang lebih kecil dari modal, hal ini bisa kita lihat dari rasio nilai DER BUMI yang berada di bawah 1. Secara keuangan, emiten BUMI sangat sehat karena labanya berkali-kali lipat dari beban bunga yang memiliki nilai ICR di atas 5x.
👉🏻 Bagaimana cara kerja pasar saham?

PT Energi Mega Persada Tbk atau ENRG adalah salah satu saham minyak Indonesia terbaik yang kami rekomendasikan untuk Anda. Perusahaan ini sudah melantai di BEI sejak tahun 2004 dan mengelola sejumlah proyek minyak mentah di Indonesia seperti Bentu, Korinci Baru, Malacca Strait, Kangena, Sengkang dan Buzi (Mozambik).
| Aset | US$ 1,680 miliar | ||
| Utang | US$ 947,46 juta | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | US$ 361,38 juta | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | US$ 55,65 juta | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 1,29 | ||
| Interest Coverage Ratio | 8,21 |
| Aspek Fundamental ENRG | Nilai |
|---|---|
| Aset | US$ 1,680 miliar |
| Utang | US$ 947,46 juta |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | US$ 361,38 juta |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | US$ 55,65 juta |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 1,29 |
| Interest Coverage Ratio | 8,21 |
EMP mencatatkan pertumbuhan pendapatan karena kontribusi yang kuat dari Bentu, Sengkang, Siak dan Kampar. Dengan pertumbuhan moderat tersebut, EBITDA tercatat naik 26% YoY menjadi US$ 217 juta.
Kenaikan laba bersih dari ENRG juga mendapatkan dukungan dari kenaikan output minyak sebesar 6% meskipun harga minyak global sedang turun. Selain itu pendapatan dari gas juga naik 7% YoY meskipun output-nya mengalami sedikit penurunan.
Berdasarkan nilai DER dan ICR dari ENRG, kondisi keuangan perusahaan sangatlah solid. ENRG memiliki rasio utang yang rendah dan kemampuan bayar bunga utang yang cukup tinggi. Serta arus kas yang solid yakni 11%.

Bakrie Grup juga terjun ke bisnis lain selain mendiversifikasi bisnisnya ke sektor energi. Melalui PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), Grup Bakrie terjun ke bisnis perkebunan. Fokus bisnis perkebunan milik Bakrie ini berada di wilayah Sumatera, Jambi, Bengkulu, dan Kalimantan Selatan.
Produk perkebunan dari PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk adalah kelapa sawit dan karet. Di mana, perkebunan kelapa sawit terbesar berada di Sumatera Barat seluas 10.906 Ha (BPP - Pasaman dan CCI - Pesisir Selatan).
| Aset | Rp 3,502 triliun | ||
| Utang | Rp 8,864 triliun | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 1,869 triliun | ||
| Rugi Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 63,468 miliar (Rugi) | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | -1,66 |
| Aspek Fundamental UNSP | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 3,502 triliun |
| Utang | Rp 8,864 triliun |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 1,869 triliun |
| Rugi Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 63,468 miliar (Rugi) |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | -1,66 |
Hingga kuartal 3 2025, pendapatan UNSP naik 4,6% secara YoY menjadi Rp 1,869 triliun. Namun perusahaan ini mencetak rugi bersih sebesar Rp 63,468 miliar atau turun 103,1% secara YoY. Penurunan laba bersih UNSP ini karena adanya lonjakan beban operasional dan keuangan, serta penurunan pendapatan dari produk karet.
Nilai DER UNSP yang minus menunjukkan bahwa perusahaan sedang mengalami masalah keuangan yang serius.

Gurita bisnis milik saham Bakrie Group selanjutnya adalah PT Bakrieland Development Tbk, sebuah perusahaan yang bergerak di sektor bisnis properti dan perumahan. Portofolio properti dan perumahan yang perusahaan ini kembangkan di antaranya adalah Rasuna Office Park, Bakrie Tower, Epicentrum Walk, dan Bogor Nirwana Residence.
PT Bakrieland Development Tbk sendiri telah melantai di BEI sejak tahun 1995 dan kini menjelma menjadi salah satu pengembang properti besar di Indonesia.
| Aset | Rp 8,83 triliun | ||
| Utang | Rp 2,79 triliun | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 1,07 triliun | ||
| Rugi Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 14,2 miliar (Rugi) | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,46 |
| Aspek Fundamental ELTY | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 8,83 triliun |
| Utang | Rp 2,79 triliun |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 1,07 triliun |
| Rugi Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 14,2 miliar (Rugi) |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,46 |
Secara YoY, pendapatan emiten Bakrieland hingga kuartal 3 2025 naik sebesar 18,3%. Namun, perusahaan ini mencetak rugi bersih sebesar Rp14,2 miliar atau turun 83,9% dari periode yang sama di tahun 2024.
Perusahaan Bakrieland memiliki utang lebih kecil daripada modal dan punya kemampuan bayar utang yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari rasio nilai DER di bawah 1.

Emiten DEWA adalah saham Bakrie Group yang punya kinerja yang baik sepanjang tahun 2025. Kenaikan harga saham DEWA terjadi pada semester 1 2025 dengan dukungan meroketnya laba bersih perusahaan dan kinerja operasional yang baik.
PT Darma Henwa Tbk adalah perusahaan jasa kontraktor pertambangan batu bara di Indonesia yang sudah melantai di BEI sejak tahun 2007. Emiten DEWA sendiri diketahui banyak mengerjakan proyek pertambangan dari salah satu grup Astra, PT Kaltim Prima Coal.
| Aset | Rp 10,04 triliun | ||
| Utang | Rp 5,16 triliun | ||
| Pendapatan (hingga Q2 2025) | Rp 3,108 triliun | ||
| Laba Bersih (hingga Q2 2025) | Rp 168 miliar | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 1,05 | ||
| Interest Coverage Ratio | 6,78 |
| Aspek Fundamental DEWA | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 10,04 triliun |
| Utang | Rp 5,16 triliun |
| Pendapatan (hingga Q2 2025) | Rp 3,108 triliun |
| Laba Bersih (hingga Q2 2025) | Rp 168 miliar |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 1,05 |
| Interest Coverage Ratio | 6,78 |
Secara YoY, pendapatan emiten DEWA naik 6,9% dan laba bersih perusahaan naik 1.083,1%. Kenaikan drastis laba bersih DEWA ini karena adanya efisiensi operasional, manajemen biaya yang baik, dan peningkatan produktivitas.
NIlai DER DEWA di atas 1,menunjukkan bahwa perusahaan milik Bakrie ini punya utang yang lebih besar daripada modal yang mereka miliki. Namun, investor jangan terlalu khawatir karena perusahaan ini mamiliki kemampuan membayar bunga yang baik dan keuangan yang sehat.
👉🏻 10 Orang Terkaya di Indonesia Terbaru, Segini Kekayaannya!

Grup Bakrie melakukan diversifikasi bisnis ke sektor telekomunikasi melalui PT Bakrie Telecom Tbk. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir kinerja emiten ini mengalami banyak tekanan karena adanya transformasi ke bisnis digital, namun perlahan tapi pasti emiten ini sudah mulai bisa beradaptasi dengan transformasi tersebut.
PT Bakrie Telecom Tbk sudah melantai di BEI sejak tahun 2006 dan pernah memproduksi merek HP Esia yang populer pada rentang waktu tahun 2007-2011.
| Aset | Rp 57,772 miliar | ||
| Utang | Rp 6,022 triliun | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 85,9 miliar | ||
| Rugi Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 3,1 miliar (Rugi) | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | -1,01 |
| Aspek Fundamental BTEL | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 57,772 miliar |
| Utang | Rp 6,022 triliun |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 85,9 miliar |
| Rugi Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 3,1 miliar (Rugi) |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | -1,01 |
Pendapatan emiten BTEL hingga kuartal 3 2025 mengalami penurunan hingga 12,8% secara YoY dan mencetak rugi bersih Rp 3,1 miliar atau turun 94,3% secara YoY.
Emiten BTEL sedang mengalami masalah keuangan yang serius, ini dapat kita lihat dari rasio nilai DER yang minus. Sementara ICR BTEL yang besar menunjukkan bahwa perusahaan milik Bakrie ini memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membayar beban bunga.

VIVA adalah saham Grup Bakrie selanjutnya yang bergerak pada sektor media. Perusahaan media ini membawahi beberapa stasiun TV nasional seperti TvOne dan ANTV. Selain itu, VIVA juga memiliki bisnis portal media yang populer di masyarakat yang kita kenal dengan nama Viva.co.id.
Ketika IPO pada tahun 2011 lalu, saham VIVA mengalami oversubscribed hingga 5,12x. Ini menunjukkan tingginya antusiasme investor untuk membeli saham VIVA saat IPO.
| Aset | Rp 6,5 triliun | ||
| Utang | Rp 6,12 triliun | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 713,86 miliar | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 1,155 triliun | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 16,03 | ||
| Interest Coverage Ratio | 15,02 |
| Aspek Fundamental VIVA | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 6,5 triliun |
| Utang | Rp 6,12 triliun |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 713,86 miliar |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 1,155 triliun |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 16,03 |
| Interest Coverage Ratio | 15,02 |
Sepanjang Januari-September 2025, VIVA mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,155 triliun atau naik lebih dari 5.000% dari periode yang sama di tahun 2024. Sementara itu, pendapatan VIVA tercatat turun 17% secara YoY dari Rp 806,3 miliar menjadi Rp713,86 miliar. Kenaikan laba bersih VIVA didorong oleh implementasi PKPU (restrukturisasi keuangan)
Dengan nilai DER VIVA yang sangat tinggi, menunjukkan bahwa saham VIVA memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap utang. Namun, kabar baiknya emiten VIVA memiliki ketahanan finansial yang baik dengan nilai ICR saham yang tinggi.

PT Bumi Resources Minerals Tbk atau BRMS adalah perusahaan milik Bakrie Grup yang memiliki usaha di bidang eksplorasi pertambangan mineral seperti tembaga, emas, seng, dan timah hitam. Sepanjang tahun 2025, saham BRMS menjadi salah satu primadona bagi para investor asing.
Sejak awal tahun 2025 hingga Oktober, harga saham BRMS meroket hingga 167,34% dan masuk indeks MSCI untuk periode November 2025.
| Aset | US$ 1,22 miliar | ||
| Utang | US$ 185,41 juta | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | US$ 183,58 juta | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | US$ 37,91 juta | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,18 | ||
| Interest Coverage Ratio | 8,1 |
| Aspek Fundamental BRMS | Nilai |
|---|---|
| Aset | US$ 1,22 miliar |
| Utang | US$ 185,41 juta |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | US$ 183,58 juta |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | US$ 37,91 juta |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,18 |
| Interest Coverage Ratio | 8,1 |
Pendapatan BRMS hingga kuartal 3 2025 naik 86,5% jika kita bandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 dan laba bersih BRMS juga ikut naik 166,8% secara YoY. Kenaikan pendapatan dan laba bersih BRMS ini akibat naiknya produksi emas dan harga jual emas.
Emiten BRMS memiliki utang lebih kecil daripada modal dan punya kemampuan membayar utang yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari rasio nilai DER di bawah 1 dan Nilai ICR di atas 5x.
👉🏻 10 Orang Terkaya di Dunia Menurut Forbes, Ini Urutannya!

Group Bakrie menjalankan bisnis logistik di Indonesia melalui PT Ancara Logistic Indonesia Tbk. Perusahaan logistik ini didirikan grup Bakrie pada tahun 2019 dan punya fokus bisnis sebagai jasa pengangkutan untuk tambang batu bara. Emiten satu ini adalah salah satu perusahaan Bakrie Grup yang baru saja melantai di BEI pada tahun 2024.
PT Ade Putra Tanranjeng dan PT Guruh Putra Bersama adalah pelanggan utama dari emiten ALII, yang notabene merupakan perusahaan terafiliasi dengan group Bakrie.
| Aset | Rp 2,77 triliun | ||
| Utang | Rp 688,84 miliar | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 767,71 miliar | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 291,24 miliar | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,33 | ||
| Interest Coverage Ratio | 12,67 |
| Aspek Fundamental ALII | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 2,77 triliun |
| Utang | Rp 688,84 miliar |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 767,71 miliar |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 291,24 miliar |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,33 |
| Interest Coverage Ratio | 12,67 |
Secara tahunan, pendapatan emiten ALII naik 8,7% dari periode yang sama di tahun 2024. Sementara laba bersih ALII tercatat naik 40,3% jika kita bandingkan dengan kuartal 3 2024.
Emiten ALII memiliki utang lebih kecil daripada modal dan punya kemampuan bayar utang yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari rasio nilai DER di bawah 1 dan Nilai ICR saham yang tinggi.

Selain Bakrieland, Pak ARB juga memiliki perusahaan properti lainnya yaitu PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. Perusahaan properti ini memiliki fokus bisnis dalam mengembangkan taman hiburan atau tempat rekreasi, serta real estat.
Jungleland Adventure Theme Park adalah salah satu portofolio proyek dari JGLE yang terkenal sebagai tempat hiburan yang menarik untuk kita kunjungi ketika mengajak keluarga dan anak-anak.
| Aset | Rp 1,57 triliun | ||
| Utang | Rp 439,35 miliar | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 107,33 miliar | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 9,07 miliar (Rugi) | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,39 | ||
| Interest Coverage Ratio | 1,82 |
| Aspek Fundamental JGLE | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 1,57 triliun |
| Utang | Rp 439,35 miliar |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 107,33 miliar |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 9,07 miliar (Rugi) |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,39 |
| Interest Coverage Ratio | 1,82 |
Secara YoY, pendapatan dan laba bersih JGLE mengalami penurunan masing-masing 3,2% dan 69,6%. Penurunan pendapatan dan laba bersih emiten JGLE ini akibat menurunnya pendapatan dari taman rekreasi, hotel dan condotel, dan real estate.
Nilai DER JGLE yang berada di bawah level 1, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki modal yang lebih besar daripada utang. Sementara itu, kondisi keuangan perusahaan mungkin mengalami kesulitan dalam membayar utang.

Saham Grup Bakrie yang terakhir listing di BEI adalah MDIA, sebuah perusahaan media yang kita kenal sebagai ANTV di dunia pertelevisian. Emiten MDIA telah melantai di BEI sejak tahun 2014 dan berada di bawah naungan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), yang menjadi perusahaan induknya.
Fakta menariknya adalah MDIA mendapatkan penghasilan besar dari penayangan film India di ANTV dan menjadi mesin pencetak uang bagi perusahaan satu ini.
| Aset | Rp 4,33 triliun | ||
| Utang | Rp 3,35 triliun | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 465,3 miliar | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 10,94 miliar (Rugi) | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 3,42 | ||
| Interest Coverage Ratio | 17,49 |
| Aspek Fundamental JGLE | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 4,33 triliun |
| Utang | Rp 3,35 triliun |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 465,3 miliar |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | - Rp 10,94 miliar (Rugi) |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 3,42 |
| Interest Coverage Ratio | 17,49 |
Secara tahunan, laba bersih MDIA merosot hingga 110,7% jika kita bandingkan dengan kuartal 3 2024 Kemudian, pendapatan MDIA juga mengalami penurunan sebesar 3,8%.
Berdasarkan nilai DER dan ICR dari MDIA, perusahaan media milik grup Bakrie ini memiliki utang yang lebih besar daripada modal, namun memiliki kemampuan membayar bunga yang baik.

VKTR adalah salah satu saham milik grup Bakrie yang bergerak di bidang transportasi rendah emisi. VKTR fokus ke kendaraan listrik. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2007 dengan nama PT Bakrie Steel Industries yang mendistribusikan kendaraan komersial dan komponen logam. Kemudian berubah nama menjadi PT VKTR Tekonologi Mobilitas pada Maret 2022.
| Aset | Rp 1,85 triliun | ||
| Utang | Rp 686,22 miliar | ||
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 716,91 miliar | ||
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 1,17 miliar ( - 88,9% yoy) | ||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,59 |
| Aspek Fundamental JGLE | Nilai |
|---|---|
| Aset | Rp 1,85 triliun |
| Utang | Rp 686,22 miliar |
| Pendapatan (hingga Q3 2025) | Rp 716,91 miliar |
| Laba Bersih (hingga Q3 2025) | Rp 1,17 miliar ( - 88,9% yoy) |
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,59 |
Pendapatan VKTR saat ini utamanya masih berasal dari perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas pada pihak ketiga yakni sebesar Rp 623,03 miliar. Sementara itu penjualan kendaraan bermotor listrik sebesar Rp 97,7 miliar. Penjualan VKTR ini paling besar kepada PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian dan PT Hino Motors Manufacturing.
Meski penjualan kendaraan bermotor masih berkontribusi sedikit, namun pertumbuhannya cukup signifikan. Pendapatan dari penjualan kendaraan listrik naik 150% secara tahunan. Ini juga mendorong kenaikan pendapatan 11% yoy.
Namun laba VKTR anjlok signifikan. Penurunan laba karena tekanan biaya produksi, peningkatan biaya penjualan dan administrasi. Di sisi lain penurunan pendapatan bunga dan kenaikan beban keuangan turut membebani kinerja.
👉🏻 Siapa Saja 9 Naga Indonesia? Ini Profil dan Bisnis Para Konglomerat
Berdasarkan laporan kinerja terakhir, apa rekomendasi saham bakrie group terbaik? Kami tekankan kembali, bahwa rekomendasi ini bukan ajakan beli. Melainkan hasil analisis fundamental tiap perusahaan.
Di urutan pertama, saham grup Bakrie dengan kinerja paling solid adalah BRMS. Pendapatan tumbuh 86,5% yoy dan laba bersih naik 166,8% yoy. Perusahaan ini diuntungkan oleh harga emas dan peningkatan produksi. Selain itu BRMS juga masuk MSCI pada November 2025.
Selanjutnya, saham ENRG juga menarik dengan EBITDA yang tumbuh 26% secara tahunan dan ICR yang sehat. ENRG mencatat kenaikan produksi minyak rata-rata 6% menjadi 8.381 barel per hari.
Ketiga adalah saham grup Bakrie DEWA. PT Darma Henwa mencatatkan kenaikan laba bersih yang tinggi yakni lebih dari 1000% di kuartal I-2025. Selain itu DEWA juga mendapatkan perpanjangan kontrak senilai Rp 10,5 triliun dengan Arutmin untuk proyek Asamasam dan Kintap. Sehingga bisa memberikan kepastian pendapatan jangka panjang untuk DEWA sebagai kontraktor jasa pertambangan.
Apabila Anda ingin memanfaatkan momentum, saat ini BUMI juga cukup menarik namun valuasinya cukup mahal. Dengan kenaikan saham yang signifikan saham BUMI dapat Anda jadikan pilihan menarik untuk berinvestasi. Di sisi lain, masuknya BUMI ke dalam indeks LQ45 menjadi bukti bahwa saham Bakrie Group yang satu ini memiliki fundamental perusahaan yang baik dan likuiditas yang sangat tinggi. Bahkan, saham BUMI juga digadang-gadang akan menjadi salah satu kandidat terkuat yang akan masuk ke dalam MSCI Global Standard Index untuk periode Februari 2026.
👉Ini cara menganalisis fundamental perusahaan dari nol: Panduan Lengkap Analisis Fundamental untuk Investor Pemula