logo RankiaIndonesia

Apa yang Harus Dilakukan Jika Nilai Investasi Turun 15%?

Nilai investasi turun 15%, jangan panic sell

Nilai investasi turun bisa saja membuat investor panik dan segera melakukan cut loss. Namun, apakah cara itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi modal investasi dari penurunan?

Dalam artikel ini, kami akan membahas mengapa nilai investasi bisa turun. Kemudian, kami juga akan menjelaskan langkah apa yang harus dilakukan jika nilai investasi turun sehingga tidak panic sell. Mari kita simak pembahasannya!

👉🏻 Sebelum melanjutkan membaca, kami punya informasi menarik. Rankia mengadakan Rankia Challenge, kompetisi investasi dengan aset global tanpa modal. DAFTAR SEKARANG, portofolio dengan return terbaik bisa dapat hadiah uang nyata 100 Euro tiap bulan: Rankia Challenge 2026: Buktikan Anda Investor Terbaik Tahun Ini!

Apa Arti dari Nilai Investasi?

nilai investasi adalah
(Sumber: DBS Bank)

Nilai investasi adalah jumlah nilai uang dari aset yang Anda miliki saat ini. Aset tersebut dapat berupa saham, reksa dana, obligasi, atau aset lain, berdasarkan harga pasar terbaru. Nilai ini bisa naik atau turun karena beberapa hal seperti kondisi pasar, kinerja aset, serta faktor ekonomi yang memengaruhi harganya. Anda dapat menilai perkembangan portofolio dan menentukan keputusan yang tepat dengan memantau nilai investasi.

Hal ini berbeda dengan harga investasi. Harga investasi adalah nilai atau harga suatu aset investasi pada saat tertentu. Permintaan dan penawaran menjadi salah satu mekanisme pasar yang menentukan harga investasi. Harga ini merupakan harga ketika Anda membeli atau menjual aset, misalnya harga saham per lembar atau NAB pada reksa dana.

Perubahan harga investasi akan memengaruhi nilai investasi serta potensi keuntungan maupun kerugian. Untuk memudahkan Anda dalam memahami perbedaan harga investasi dan nilai investasi, perhatikan contoh berikut:

  • Ketika Anda membeli saham seharga Rp 1.000 per lembar (ini adalah harga investasi) dan membeli 100 lembar, maka nilai investasi Anda saat membeli adalah Rp 100.000.
  • Kemudian, harga saham naik menjadi Rp 1.200 per lembar. Sehingga, harga investasinya berubah menjadi Rp 1.200 per lembar dan nilai investasi Anda juga ikut naik menjadi Rp 120.000.

👉Baca juga: Nilai Saham dan Harga Saham, Apa Perbedaannya?

Dalam investasi saham, harga sama terdiri dari beberapa aspek sepert harga dasar dan harga saham sekarang. Berikut penjelasannya:

  • Harga dasar saham
    • Merupakan harga yang pertama kali perusahaan tawarkan ketika IPO. Nilai awal ini menjadi acuan perhitungan indeks harga saham.
  • Harga sekarang (Current Market Price)
    • Harga saham terbaru di pasar yang terus berubah mengikuti pemintaan dan penawaran. Harga ini menentukan nilai investasi Anda saat ini dan bisa mengalami volatilitas.

Mengapa Nilai Investasi Bisa Turun?

Berinvestasi dalam suatu instrumen bukan hanya soal untung. Anda juga harus paham bahwa tidak ada satu pun instrumen investasi yang bebas dari risiko.

Ini karena dalam berinvestasi, ada beberapa faktor yang bisa membuat nilai investasi turun maupun naik, layaknya Anda naik roller coaster.

Lalu apa, saja penyebab nilai investasi turun? Berikut penjelasannya:

#1 Likuiditas Rendah - Penyebab Nilai Investasi Turun

Instrumen investasi dengan tingkat likuiditas yang rendah umumnya lebih cenderung berfluktuasi. Ini karena tidak adanya keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Investor yang berinvestasi di instrumen likuiditas rendah sangat berisiko dan sering menjadi target pelaku pasar yang sengaja memanipulasi harga aset.

Praktik ini kita kenal dengan sebutan saham gorengan. Para pelaku pasar akan membeli saham tertentu dalam jumlah besar untuk menciptakan kenaikan harga sehingga banyak investor juga tertarik untuk membelinya. Mereka juga bisa menjual saham tertentu dalam jumlah besar untuk membuat harga saham tersebut anjlok.

#2 Faktor Internal

Selanjutnya, ada beberapa faktor internal yang membuat nilai investasi turun maupun naik. Berikut penjelasannya dalam bentuk tabel di bawah ini:

Tujuan finansialPerbedaan nilai investasi dari masing-masing instrumen tergantung pada tujuan finansial Anda. Semakin panjang waktu Anda dalam berinvestasi, instrumen akan menawarkan keuntungan yang lebih besar daripada berinvestasi dalam jangka pendek.
Modal investasiDana awal yang Anda gunakan saat pertama kali membeli suatu instrumen dapat memengaruhi nilai investasi di masa depan. Semakin besar modalnya, keuntungan investasi Anda juga akan semakin besar.
Klasifikasi risikoPerbedaan klasifikasi risiko dari setiap instrumen investasi juga bisa memengaruhi nilai investasi Anda (konservatif, moderat, dan agresif).
Psikologis investorFaktor terlalu percaya diri, FOMO, atau takut rugi adalah hal yang bisa memengaruhi keputusan investasi dan nilai investasi Anda.
DiversifikasiDengan melakukan diversifikasi aset, Anda bisa mengurangi penurunan nilai investasi yang terlalu dalam.

#3 Faktor Eksternal

Selain faktor internal, ada juga faktor eksternal yang bisa memengaruhi nilai investasi Anda. Berikut kami berikan daftar faktor eksternal beserta penjelasannya:

Kondisi makroekonomiInflasi, suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi merupakan komponen dalam makroekonomi yang dapat memengaruhi nilai investasi. Tingkat inflasi yang tinggi menjadi musuh utama bagi investasi. Ini karena tingkat inflasi yang tinggi dapat membuat keuntungan investasi Anda menjadi semakin kecil.
Regulasi pemerintahRegulasi pemerintah dalam menetapkan kebijakan moneter, perpajakan, dan legalistas hukum dapat memengaruhi nilai investasi Anda.
Stabilitas politik dan keamananKondisi politik yang tidak stabil membuat investor enggan untuk berinvestasi. Hal ini akan memengaruhi kinerja investasi Anda.
Sentimen pasarPeristiwa penting yang terjadi bisa menjadi sentimen pasar yang dapat menaikkan atau menurunkan nilai investasi.

👉🏻 Ini 5 Sektor Defensif , Investasi Rendah Risiko saat Krisis Ekonomi

Nilai Investasi Turun 15% Bukanlah Kerugian, Asalkan Anda memahami Hal Ini!

Agar Anda tidak panik saat mengetahui portofolio investasi Anda minus 15%, Anda sebagai investor perlu memahami apa itu realized loss dan unrealized loss beserta contohnya di bawah ini.

Realized Loss

Istilah realized loss dalam dunia investasi mengacu pada kerugian investor yang sudah terealisasikan. Sederhananya, realized loss adalah kerugian investor setelah menjual aset seperti saham, crypto, dan aset lainnya di bawah harga beli.

Dalam posisi ini, uang yang Anda investasikan pada suatu instrumen investasi mengalami penurunan jumlah (capital loss). Ini akibat kerugian yang Anda alami ketika memutuskan untuk menjual aset di bawah harga beli. Misalnya, Anda membeli saham di harga Rp 1.000 per lembar kemudian menjualnya di harga Rp 800 per lembar.

Kerugian yang terealisasikan dari investasi Anda sebesar Rp 200 per lembar. Sehingga, jika Anda menjual 10 lot saham, maka nilai kerugiannya mencapai Rp 200 ribu. Hal ini belum kita tambahkan dengan fee jual dan biaya-biaya lainnya yang dapat semakin memperbesar nilai kerugian.

Unrealized Loss atau floating loss

Unrealized loss adalah gambaran nilai kerugian investasi namun belum mengurangi modal investasi Anda. Sehingga, berapa pun persentase kerugiannya di portofolio, ini hanya sekedar angka. Asalkan, Anda tidak menekan tombol "Sell" di aplikasi investasi Anda.

Nilai Investasi Turun 15%, Besar atau Kecil?

Penurunan nilai investasi sebesar 15% sering membuat investor bertanya-tanya, apakah kondisi tersebut masih tergolong wajar atau perlu mereka waspadai. Oleh karena itu, ada beberapa faktor penting yang bisa menjadi acuan sehingga kita mengambil keputusan secara rasional.

Berikut penjelasannya:

  • Jangka waktu penurunan
    • Turunnya nilai investasi perlu kita lihat dari seberapa cepat hal itu terjadi. Penurunan cepat wajar terjadi pada aset dengan volatilitas tinggi. Di sisi lain, kita perlu melakukan analisis lebih lanjut jika hal tersebut terjadi pada aset yang cenderung stabil.
  • Tujuan investasi
    • Umumnya, yang lebih sensitif terhadap penurunan nilai investasi adalah investor jangka pendek. Sebaliknya, investor jangka panjang lebih berfokus pada potensi pertumbuhan di masa depan.
    • Investor agresif umumnya lebih siap untuk menghadapi nilai investasi yang turun secara signifikan. Namun, investor moderat dan konservatif lebih berhati-hati terhadap fluktuasi pasar.
    • Kondisi mental dan pengalaman investasi memengaruhi cara pandang mereka dalam melihat penurunan nilai. Mereka yang berpengalaman cenderung lebih tenang daripada pemula.

👉Jenis-jenis Investor: Apa itu & Siapa Kamu di Dunia Investasi?

Strategi saat Investasi Turun: Evaluasi & Averaging

Apa yang Harus Dilakukan jika Nilai Investasi Turun 15%?
(Sumber: CNBC Indonesia)

Jika nilai investasi sudah turun 15%, kami menyarankan Anda untuk tetap tentang dan tidak langsung melakukan cut loss. Ini tergantung dari toleransi risiko, tujuan keuangan, dan kondisi pasar. Berikut beberapa cara menghadapi stres finansial saat nilai investasi turun.

Tetap Tenang dan Hindari Panic Selling

Tetap tenang adalah langkah pertama saat melihat nilai investasi turun karena pergerakan pasar menjadi hal yang wajar terjadi. Banyak orang melakukan keputusan berdasarkan emosi tanpa memahami apa itu panic selling, yaitu menjual aset secara cepat karena takut mengalami kerugian yang lebih besar. Tindakan ini justru bisa mengunci kerugian dan menghilangkan peluang pemulihan ketika pasar kembali naik.

Daripada menjual aset secara emosional, lebih baik lakukan evaluasi tujuan investasi saat turun. Sehingga, keputusan Anda tetap sesuai dengan rencana awal seperti jangka waktu, profil risiko, dan tujuan keuangan.

Dengan melakukan peninjauan kembali, memahami penyebab penurunan, serta memastikan apakah portofolio masih sesuai tujuan, Anda dapat mengambil keputusan yang lebih rasional. Bukan karena kepanikan yang Anda rasakan sementara.

Averaging Down

Strategi averaging down menjadi salah satu cara mencegah nilai investasi turun. Averaging down adalah strategi untuk menurunkan harga rata-rata pembelian aset. Dengan begitu, Anda berpotensi mendapatkan keuntungan ketiak harga aset kembali naik.

Dengan harga rata-rata pembelian yang lebih rendah serta jumlah aset yang lebih banyak, keuntungan akan jauh lebih besar ketika harga aset berbalik arah ke harga awal sebelum Anda melakukan averaging down. Metode populer yang investor gunakan ketika harga aset sedang turun adalah Dollar Cost Averaging (DCA). Dengan strategi ini, Anda bisa berinvestasi tanpa memedulikan harga aset sedang turun atau naik dan tidak perlu berfokus pada timing yang tepat.

Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi Anda sebaiknya menggunakan strategi DCA daripada Lump Sum guna menurunkan harga rata-rata pembelian aset. Ini karena kita tidak tahu sampai kapan penurunan nilai investasi akan terus terjadi. Namun, dalam menggunakan strategi averaging down Anda juga perlu mempertimbangkan fundamental perusahaan.

👉Ketahui perbedaan DCA dan lump sum selengkapnya: DCA vs Lump Sum, Mana yang Cocok untuk Investor?

Diversifikasi Aset

Selanjutnya, cara alokasi portofolio mencegah penurunan yang besar adalah melalui diversifikasi portofolio. Melalui cara ini, Anda tidak menempatkan seluruh uang di satu instrumen investasi saja. Strategi ini bertujuan menyeimbangkan risiko sehingga kerugian di satu instrumen dapat tertutup dengan keuntungan di instrumen investasi yang lain.

👉Apa itu Diversifikasi: Pengertian, Kriteria & Cara

Kapan Harus Cut Loss vs Hold?

Saat nilai investasi turun, banyak investor mulai bertanya kapan harus cut loss investasi dan apakah keputusan terbaik adalah keluar sekarang atau tetap bertahan. Dengan memahami apa bedanya cut loss vs hold saat investasi turun, investor tidak akan mengambil keputusan berdasarkan emosi, melainkan pada strategi, kondisi aset, dan tujuan investasi jangka panjang.

Mari kita lihat penjelasan dari keduanya!

Hold

Hold adalah strategi investasi dengan tetap mempertahankan aset meskipun nilainya sedang turun. Ini karena investor percaya pada potensi jangka panjang.

Umumnya, investor melakukan langkah ini ketika fundamental aset masih baik, tujuan investasi belum berubah, dan penurunan terjadi karena kondisi pasar sementara. Dengan melakukan hold, investor memberi waktu bagi aset untuk pulih sehingga terhindar dari kerugian akibat menjual aset di harga yang sangat rendah.

👉Strategi Investasi Buy and Hold: Pendekatan Cerdas untuk Investasi Saham

Cut Loss

Cut loss adalah strategi menjual aset investasi yang nilainya turun untuk membatasi kerugian sehingga tidak semakin besar. Langkah ini dapat Anda lakukan ketika fundamental aset memburuk, risiko sudah tidak sesuai, atau tren trun yang berpotensi terus berlanjut. Dengan melakukan cut loss, Anda dapat melindungi modal dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih sesuai.

👉🏻 Strategi HODL, Jurus Jitu Investasi Kripto Jangka Panjang

Berikut panduan langkah praktis yang mungkin bisa membantu Anda membuat keputusan kapan harus average down atau cut loss:

PertanyaanBuyHoldCut Loss
Alasan membeli masih relevan?
Fundamental memburuk laba turun, utang membengkak, manajemen bermasalah
hanya market panic
Penurunan terjadi karena koreksi global dan sentimen geopolitik✅ bertahap
Emiten mengalami kerugian besar, perusahaan bermasalah, produk mengalami kegagalan
Valuasi menurun dan berada di bawah rata-rata serta masih memiliki potensi pertumbuhan
Valuasi cenderung mahal namun tidak diikuti kinerja fundamental dan growth story
Kondisi finansial terbatas (pakai dana darurat, cashflow ketat, pakai utang)✅ Bisa kembali dipertimbangkan jika fundamental aset memburuk.

Apa yang harus dilakukan jika investasi turun?

Kita pernah menghadapi penurunan yang cukup dalam saat IHSG trading halt setelah MSCI memberikan pengumuman soal posisi pasar saham Indonesia terancam masuk ke frontier market. Banyak investor yang menanggapi penurunan ini secara berbeda. Namun pertanyaannya yang penting diajukan, apa yang harus dilakukan jika nilai investasi turun?

Investasi turun peluang membeli bagi investor yang memiliki strategi jangka panjang. Ketika harga menjadi lebih murah, Anda dapat menambah posisi pada instrumen dengan fundamental baik. Sehingga, potensi keuntungan di masa depan akan menjadi lebih besar jika pasar kembali pulih.

Namun tanyakan terlebih dahulu tiga hal di bawah ini:

  • Apakah penurunan terjadi karena kondisi global?
  • Apakah kinerja aset masih baik?
  • Apakah tujuan investasimu jangka panjang?

Selama fundamental aset masih sehat, maka penurunan hanya bersifat sementara. Dalam memberikan evaluasi secara fundamental, Anda perlu melihat laporan keuangan, pertumbuhan laba, utang perusahaan. Jika fundamental baik-baik saja, berarti ini terjadi karena koreksi pasar yang memberikan peluang pada kenaikan harga aset.

Namun apabila fundamental memburuk, Anda bisa mempertimbangkan cut loss. Demikian juga jika struktur pasar berubah dengan membentuk lower low terus-menerus dan Anda membelinya untuk trading bukan investasi.

Cara memanfaatkan kondisi setelah cut loss adalah melalui rebalancing portofolio. Langkah dapat Anda ambil untuk menyesuaikan kembali komposisi investasi sehingga tetap sesuai dengan target alokasi dan profil risiko.

Banyak yang bertanya apakah nilai investasi bisa kembali naik setelah turun, jawabannya "bisa". Ini dapat terjadi jika penurunan disebabkan oleh faktor pasar sementara. Selain itu, aset yang Anda miliki juga harus memiliki fundamental yang kuat.

Jadi, jangan panik ketika nilai investasi Anda turun.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) tentang Nilai Investasi Turun 15%

Iklan
Artikel terkait