Saham

Berinvestasi dalam saham nikel terbaik memberikan peluang yang menarik bagi Anda di tengah tren kendaraan listrik. Nikel menjadi salah satu komoditas yang banyak orang buru karena meningkatnya permintaan global terhadap kendaraan listrik dan energi terbarukan. Oleh karena itu, saham-saham nikel menjadi semakin menarik untuk Anda lirik sebagai peluang investasi jangka menengah hingga panjang.
Namun apa itu nikel? Nikel adalah logam mineral yang banyak digunakan sebagai bahan baku utama stainless steel dan baterai kendaraan listrik (EV). Logam tersebut memiliki sifat yang kuat, tahan karat, dan mampu menyimpan energi.
Dalam artikel ini kami akan memberikan penjelasan terkait kenapa saham nikel menjadi menarik. Kemudian kami juga akan memberikan rekomendasi saham nikel Indonesia dan caranya berinvestasi. Yuk, simak untuk tahu lebih jelas!
👉 Cara Investasi Nikel untuk Pemula: Saham, ETF, dan Derivatif
Saham nikel adalah saham perusahaan yang memiliki bisnis utama yang berkaitan dengan penambangan, pengolahan, maupun hilirisasi nikel. Perusahaan-perusahaan ini umumnya tercatat di Bursa Efek Indonesia dan kinerjanya dipengaruhi harga nikel, kebijakan pemerintah, serta permintaan dari sektor industri.
Saham nikel menarik bagi investor karena Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Sehingga, memiliki peran strategis dalam rantai pasok global, terutama untuk baterai EV. Penjelasan secara lebih detailnya akan kami berikan di bawah ini.
Tidak heran jika nikel menjadi primadona di 2025, karena Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Kemudian, negara kita juga menjadi eksportir utama nikel global.

Namun, saat ini tren ekspor pada bahan mentah tersebut sudah berubah. Pemerintah Indonesia mendorong hilirisasi industri nikel dengan melarang ekspor nikel mentah. Sehingga, hal tersebut dapat mendorong investasi dalam pembangunan smelter dan fasilitas produksi baterai dalam negeri.
Di sisi lain, proyeksi permintaan global pada nikel akan terus meningkat. Ini karena pertumbuhan pesat pada pasar electric vehicle (EV) yang menggunakan nikel sebagai komponen utama untuk membuat baterai lithium-ion.
Melansir International Energy Agency, total penjualan kendaraan listrik di tingkat global mencapai 17 juta unit sepanjang 2024. Kemudian, pada tahun ini proyeksi penjualan kendaraan listrik bisa mencapai 20 juta unit. China masih menjadi negara produsen EV terbesar di dunia yang berhasil memasarkan produknya ke berbagai negara.

Dengan pertumbuhan pasar EV yang pesat, saham emiten nikel di Indonesia juga berpotensi mencetak keuntungan dalam jangka panjang.
👉 10 Sektor Industri Paling Menguntungkan untuk Investasi
Mari kita lihat daftar saham nikel terbaik pada bagian selanjutnya!
Pada 2025, harga nikel global masih bergerak dalam fase tekanan akibat oversupply. Pergerakan ini berada di kisaran yang relatif rendah dari beberapa tahun sebelumnya. Peningkatan kapasitas produksi (terutama Indonesia) membuat pasokan global melimpah sementara permintaan belum cukup kuat untuk menyerapnya.
Di tengah tekanan harga tersebut, pemerintah menerapkan moratorium smelter nikel Indonesia sebagai langkah untuk mengendalikan pasokan. Sehingga, dapat menahan ekspansi fasilitas pengolahan konvensional dan mendorong fokus ke hilirisasi bernilai tambah tinggi. Moratorium ini bertujuan menyeimbangkan pasar nikel dalam jangka menengah sekaligus menjaga daya saing industri nasional.
Sentimen moratorium ini memberikan dampak yang relatif positif di pasar saham, khususnya bagi emiten nikel yang sudah terintegrasi dan efisien. Ini karena kebijakan tersebut berpotensi mengurangi tekanan persaingan dan meningkatkan stabilitas harga di masa depan.
Di sisi lain, investor juga mulai lebih selektif. Mereka memprioritaskan perusahaan nikel Indonesia dengan eksposur hiliriasai baterai, struktur biaya rendah, dan neraca keuangan yang kuat. Sehingga, mereka dapat menghindari emiten yang hanya bergantung pada volume produksi.
Pada bagian ini, kita akan melihat emiten-emiten unggulan yang ada pada sektor ini. Daftar saham nikel terbaik 2025 berikut mencakup perusahaan yang tidak hanya aktif dalam eksplorasi dan produksi. Namun, mereka juga memiliki fundamental yang kuat.
Perusahaan-perusahaan tersebut juga masuk dalam indeks LQ45 dan IDX HighDiv20. Sehingga, menjadikan mereka sebagai saham dengan likuiditas tinggi dan potensi dividen yang menarik bagi investor.
Berikut masing-masing penjelasan dari daftar saham nikel BEI tersebut:
ANTM adalah satu-satunya emiten nikel terbaik yang masuk dalam indeks LQ45 dan IDX HighDiv20. Sehingga, saham perusahaan tersebut menawarkan likuiditas yang tinggi dan pembagian dividen secara konsisten.

Oleh karena itu, Aneka Tambang menjadi representasi ideal dari saham nikel Indonesia yang terlibat dalam hilirisasi baterai EV. Selain itu, mereka juga menjadi saham tambang nikel dengan dividen tinggi di BEI.
Perusahaan ini memiliki rantai bisnis yang terintegrasi mulai dari eksplorasi bijih nikel (di Konawe Utara, Pomalaa, dan Buli) hingga produksi feronikel serta pengolahan baterai EV. Ini mereka lakukan melalui kerja sama joint venture dengan CBL/CATL dan LG melalui perusahaan Indonesia Battery Corporation.
Berikut tabel yang menunjukkan kinerja produksi dan penjualan dari PT Aneka Tambang pada tahun 2024:
| Produksi Bijih Nikel (wmt) | Penjualan Bijih Nikel (wmt) | Produksi Feronikel (TNi) | Penjualan Feronikel (TNi) | ||||
| 9,935 juta (-26% YoY) | 8,354 juta (-27% YoY) | 20.103 (-6,4% YoY) | 19.452 (-3,4% YoY) |
| Produksi Bijih Nikel (wmt) | Penjualan Bijih Nikel (wmt) | Produksi Feronikel (TNi) | Penjualan Feronikel (TNi) |
| 9,935 juta (-26% YoY) | 8,354 juta (-27% YoY) | 20.103 (-6,4% YoY) | 19.452 (-3,4% YoY) |
Penurunan ini karena keterlambatan perizinan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) dan kondisi ekonomi makro skala global yang kurang mendukung. Selain itu, harga rata-rata penjualan nikel juga mengalami penurunan menjadi US$ 41,1 per wmt. Namun, pada tahun ini mereka menargetkan stabilisasi dan pertumbuhan.

Jika, kita melihat tahun sebelumnya, pendapatan dan laba bersih dari segmen nikel di tahun 2024 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Nikel menyumbang 14% dari total pendapatan perusahaan dengan nilai sebesar Rp 9,5 triliun. Kemudian, segmen nikel juga menyumbang 17% dari laba bersih, yaitu sebesar Rp 800 miliar.
Mari kita melihat beberapa rasio keuangan utama dari PT Aneka Tambang yang sudah kami rangkum dalam tabel di bawah ini.
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,5% | ||
| Interest Coverage Ratio | -21,9x |
| Rasio Keuangan | Besaran |
|---|---|
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,5% |
| Interest Coverage Ratio | -21,9x |
Dengan DER yang rendah menunjukkan bahwa ANTM memiliki kas yang lebih besar daripada total hutang perusahaan. Kemudian Interest Coverage Ratio yang sangat rendah menunjukkan bahwa laba operasional perusahaan sangat melimpah daripada beban bunga.
Singkatnya, ANTM merupakan perusahaan yang memiliki cadangan nikel terbesar di Indonesia (mencapai 494 juta wmt). Kemudian, prospek jangka menengah hingga panjang pada perusahaan tersebut tetap kuat karena ekspansi dan proyek hilirisasi.
Oleh karena itu, dengan valuasi yang murah, struktur modal yang sehat, dan komitmen akan dividen secara penuh, ANTM tetap menjadi pilihan menarik untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
👉 Saham dengan Dividen Terbesar IHSG 2025, Proyeksi!
PT Vale Indonesia (INCO) adalah salah satu emiten nikel yang termasuk ke dalam indeks LQ45. Oleh karena itu, saham nikel Indonesia ini menawarkan likuiditas yang tinggi dan memiliki daya tarik bagi investor institusional.

Vale Indonesia merupakan perusahaan yang pendapatan utamanya bersumber dari bijih nikel. Lebih lanjut, perusahaan tersebut memiliki model bisnis yang terintegrasi. Mulai dari eksplorasi nikel yang ada di Sorowako hingga pengembangan smelter HPAL/feronikel yang ada di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Selain itu, perusahaan juga memiliki mitra global seperti Huayou, Ford, dan GEM.
Berikut tabel yang menunjukkan kinerja produksi dan penjualan dari PT Vale Indonesia di tahun 2024:
| 71.311 (+0,8% YoY) | 72.625 (+2,1% YoY) |
| Produksi Bijih Nikel (ton) | Penjualan Bijih Nikel (ton) |
|---|---|
| 71.311 (+0,8% YoY) | 72.625 (+2,1% YoY) |
Jika kita melihat tabel di atas, produksi mengalami peningkatan sebesar 0,8% YoY. Ini karena mereka berhasil melakukan ekspansi kapasitas produksi dari tahun sebelumnya.
Kemudian, jumlah penjualan nikel dari INCO juga naik 2,1% YoY, namun mereka harus menghadapi harga jual nikel yang turun secara signifikan.

Oleh karena itu, hal tersebut berdampak pada kinerja keuangan dari INCO. Pada tahun 2024, perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan sebesar US$ 950,4 juta. Angka ini mengalami penurunan sebesar 22,9% akibat harga nikel yang turun sehingga marginnya juga ikut melemah.
Selanjutnya, kita akan melihat rasio keuangan utama yang ada pada INCO yang ada pada tabel di bawah ini.
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0% | ||
| Interest Coverage Ratio | -1,8x |
| Rasio Keuangan | Besaran |
|---|---|
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0% |
| Interest Coverage Ratio | -1,8x |
Vale Indonesia menjadi emiten nikel yang nyaris tanpa hutang dengan Debt-to-Equity Ratio 0%. Mereka memegang kas sebesar US$ 601 juta dan ekuitas sebesar US$ 2,8 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki fundamental yang kuat.
Kemudian, besar Interest Coverage Ratio perusahaan mencapai -1,8x. Ini karena adanya kerugian dari kegiatan operasional bukan karena biaya bunga yang tinggi.
Kesimpulannya, saham INCO menarik untuk Anda pertimbangkan karena mereka memiliki cadangan bijih nikel yang sangat besar di wilayah Sorowako (107 juta ton). Selain itu, segmen nikel menyumbang hampir seluruh kinerja perusahaan. Ini karena perusahaan masih bergantung sepenuhnya pada nikel matte.
Saham INCO juga menjadi pilihan yang solid bagi Anda yang mencari emiten nikel yang masuk indeks LQ45 dan memiliki strategi hilirisasi. Mereka juga menawarkan potensi pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang. Kemudian, keuangan yang sehat dan DER yang minimal, membuat perusahaan memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi volatilitas harga.
👉 Bagaimana menilai perusahaan berdasarkan Analisis Fundamental?
Merdeka Battery Materials adalah perusahaan Indonesia yang berfokus pada industri nikel terintegrasi. Bisnis utama dari perusahaan ini mulai dari pertambangan hingga pengolahan nikel menjadi bahan baku kendaraan listrik. Kemudian, MBMA juga menjalankan bisnis hilirisasi nikel melalui beberapa proyek seperti smelter RKEF, konversi nikel matte, hingga pengembangan fasilitas HPAL.

Perusahaan ini merupakan anak perusahaan dari MDKA (PT Merdeka Copper Gold Tbk), salah satu perusahaan tambang terkemuka di Indonesia. MDKA sendiri bergerak di sektor pertambangan emas, tembaga, dan nikel.
Mari kita melihat kinerja produksi dan penjualan nikel dari perusahaan ini di bagian selanjutnya!
Berikut tabel yang menunjukkan tingkat produksi bijih nikel dan penjualan yang berhasil dilakukan oleh MBMA di tahun 2024:
| 15 juta (+135% YoY) | 15,9 juta (+839% YoY) |
| Produksi Bijih Nikel (wmt) | Penjualan Bijih Nikel (wmt) |
|---|---|
| 15 juta (+135% YoY) | 15,9 juta (+839% YoY) |
Berdasarkan tabel di atas, kita dapat melihat ada peningkatan produksi bijih nikel yang mencapai 135% YoY. Ini karena tambang SCM milik MBMA berhasil meningkatkan dan memperluas operasi penambangan beserta infrastrukturnya. Kemudian, MBMA juga berhasil menembus target penjualan bijih nikel tahun 2024 (9,5 hingga 10,5 juta wmt) dengan berhasil menjual 15,9 juta wmt bijih nikel.

Kinerja produksi dan penjualan yang signifikan tersebut berdampak pada kinerja keuangan Merdeka Battery Materials. Di tahun 2024 kemarin, mereka berhasil mencatatkan pendapatan sebesar US$ 1,84 miliar (+39% YoY).
Kemudian, laba bersih MBMA juga mengalami kenaikan signifikan sebesar US$ 22,8 juta (+228% YoY). Ini karena mereka berhasil melakukan efisiensi operasional.
👉 Prospek Saham Pertambangan di Indonesia, Masih Menarik?
Selanjutnya, kita akan melihat rasio keuangan utama yang ada pada MBMA yang ada pada tabel di bawah ini.
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 32,84% | ||
| Interest Coverage Ratio | 37x |
| Rasio Keuangan | Besaran |
|---|---|
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 32,84% |
| Interest Coverage Ratio | 37x |
Dengan DER sebesar 32,84%, MBMA memiliki tingkat hutang yang masih relatif wajar untuk perusahaan tambang yang sedang melakukan ekspansi. Hal ini juga memberikan ruang untuk melakukan pendanaan tanpa harus membebani neraca.
Di sisi lain, nilai Interest Coverage Ratio perusahaan yang mencapai 37x menunjukkan bahwa mereka memiliki kesehatan keuangan yang sangat kuat. Artinya EBIT perusahaan dapat membayar 37 kali beban bunga. Ini karena perusahaan tidak mengalami tekanan dari sisi hutang berbunga.
Selain itu, risiko gagal bayar juga sangat rendah karena pendapatan operasional jauh melampaui kebutuhan pembayaran bunga.
Singkatnya, MBMA adalah emiten nikel yang terlibat dalam hilirisasi baterai EV sehingga patut untuk Anda lirik. Mereka juga menjadi salah satu perusahaan yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, mencapai 13,8 juta ton nikel. Selain itu, ekspansi yang masih berlangsung dari MBMA menunjukkan bahwa perusahaan memiliki strategi hilirisasi yang agresif.
Namun, jika lebih ingin berinvestasi secara lebih terdiversifikasi, Anda dapat memilih saham MDKA. Ini karena saham tersebut memungkinkan Anda untuk mendapatkan eksposur dari emas, bauksit, maupun nikel.
PT Central Omega Resources adalah emiten tambang nikel yang memiliki kinerja bagus di tahun 2024. Perusahaan ini berdiri sejak 1995 dan sebelumnya bernama PT Duta Kirana Finance.

DKFT sendiri secara khusus melakukan eksplorasi dan pengambangan bijih nikel di berbagai konsesi di Sulawesi seperti Morowali dan Konawe Utara. Selain tambang nikel, DKFT juga terlibat dalam perdagangan bijih nikel dan produk tambang lainnya. Mereka juga memiliki fasilitas smelter feronikel sehingga dapat meningkatkan nilai tambah hasil tambangnya.
Berikut tabel yang menunjukkan tingkat produksi bijih nikel dan penjualan dari MBMA di tahun 2024:
| 2,953 juta (+129,83% YoY) | 2,598 juta (+188% YoY) |
| Produksi Bijih Nikel (ton) | Penjualan Bijih Nikel (ton) |
|---|---|
| 2,953 juta (+129,83% YoY) | 2,598 juta (+188% YoY) |
Dari tabel di atas kita dapat melihat peningkatan signifikan dari produksi bijih nikel sebesar 129,83% YoY. Peningkatan ini mencerminkan perluasan kapasitas produksi dan efisiensi operasional yang terjadi di lapangan. Kemudian, penjualan bijih nikel juga mengalami peningkatan signifikan karena berhasil menjual 2,59 juta ton (naik 188% YoY).

Kinerja yang solid ini juga diikuti oleh kinerja keuangan perusahaan dengan kenaikan pendapatan sebesar 80% menjadi Rp 1,46 triliun. Kemudian laba bersih perusahaan juga meningkat sebesar 1.329% menjadi Rp 414 miliar. Sehingga, semua target tahunan perusahaan berhasil mereka lampaui.
Selanjutnya, kita akan melihat rasio keuangan utama yang ada pada DKFT yang ada pada tabel berikut:
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 200% | ||
| Interest Coverage Ratio | 27x |
| Rasio Keuangan | Besaran |
|---|---|
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 200% |
| Interest Coverage Ratio | 27x |
Berdasarkan data di atas, struktur permodalan DKFT di tahun 2024 tergolong agresif. Nilai DER yang mencapai 200% mengartikan bahwa total utang perusahaan dua kali lipat dari ekuitasnya. Rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan masih sangat bergantung pada pendanaan berbasis utang.
Namun, perusahaan ini memiliki kemampuan dalam membayar bunga yang sangat kuat. Ini terlihat dari Interest Coverage Ratio yang sebesar 27x, menandakan arus kas operasional yang solid dan risiko gagal bayar yang relatif rendah dalam jangka pendek.
Kondisi menunjukkan kesehatan finansial dari DKFT di tahun 2024 yang masih berada di level aman meskipun leverage-nya tinggi.
Untuk lebih mempermudah Anda dalam melihat analisis fundamental saham tambang nikel yang telah kami sebutkan di atas, kami sudah membuat rangkuman pada tabel berikut:
| Aspek Fundamental | ANTM | INCO | MBMA | DKFT | |||||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,5% | 0% | 32,84% | 200% | |||||
| Nilai Hutang | Rp 12,32 triliun | US$ 443,75 juta | US$ 378 juta | Rp 1,693,5 miliar | |||||
| Jumlah Arus Kas Bebas | Rp 2,71 triliun | -US$ 83,98 juta | US$ -3,43 miliar | Rp 594,35 miliar | |||||
| Operation Cash Flow | Rp 3,681 triliun | US$ 207,49 juta | US$ 309 juta | Rp 646 miliar |
| Aspek Fundamental | ANTM | INCO | MBMA | DKFT | |||||
| Debt-to-Equity Ratio (DER) | 0,5% | 0% | 32,84% | 200% | |||||
| Nilai Hutang | Rp 12,32 triliun | US$ 443,75 juta | US$ 378 juta | Rp 1,693,5 miliar | |||||
| Jumlah Arus Kas Bebas | Rp 2,71 triliun | -US$ 83,98 juta | US$ -3,43 miliar | Rp 594,35 miliar | |||||
| Operation Cash Flow | Rp 3,681 triliun | US$ 207,49 juta | US$ 309 juta | Rp 646 miliar |
Selain itu, ada beberapa emiten nikel Indonesia yang terdaftar BEI. Berikut daftarnya:
| PT PAM Mineral Tbk | NICL | ||
| PT Ifishdeco Tbk | IFSH | ||
| PT Trimegah Bangun Persada Tbk | NCKL | ||
| PT Harum Energy Tbk | HRUM |
| Nama Perusahaan | Ticker |
|---|---|
| PT PAM Mineral Tbk | NICL |
| PT Ifishdeco Tbk | IFSH |
| PT Trimegah Bangun Persada Tbk | NCKL |
| PT Harum Energy Tbk | HRUM |
👉 Analisis keuangan: Cara Menghitung, dan Jenis-Jenisnya
Saham ANTM menjadi emiten nikel yang masuk dalam indeks LQ45 dan IDX HighDiv20 sehingga cocok bagi investor yang mencari dividen dan saham likuid. Kemudian, saham ini juga memiliki keunggulan diversifikasi karena tidak hanya bergantung pada nikel saja. Singkatnya saham ini cocok untuk investor moderat maupun konservatif yang menginginkan eksposur nikel namun tetap aman dari fluktuasi harga komoditas.
Untuk entry masuk yang tepat, pastikan Anda masuk ketika harga mendekati area support historis atau ketika Price Book Value nilainya <1. Selain itu, Anda juga bisa mulai memantau saham ini ketika ada kabar baik terkait proyek hilirisasi atau kenaikan harga emas maupun nikel karena menjadi sinyal akumulasi.
Selanjutnya, ada saham nikel Indonesia INCO dengan keuangan yang sangat solid (DER 0%) yang menandakan bahwa perusahaan tidak punya hutang sehingga membuat perusahaan aman secara fundamental. Di sisi lain, proyek hilirisasi di Pomalaa dan Morowali membuka peluang pertumbuhan produksi bijih nikel dalam jangka menengah. Saham ini cocok untuk investor dengan profil konservatif hingga moderat yang berfokus pada nikel.
Sebaiknya Anda mulai mengamati saham INCO ketika harga nikel global mulai naik. Ini karena INCO menjadi saham yang paling sensitif terhadap pergerakan harga komoditas. Anda juga bisa menambahkan MBMA ke watchlist saat harganya terkoreksi atau saat ada pengumuman kesepakatan baru dengan mitra global mereka.
Selanjutnya, ada saham MBMA yang paling agresif dan berfokus pada hilirisasi nikel EV (NPI, HGNM, dan target MHP). Saham emiten nikel ini juga memiliki pertumbuhan produksi dan pendapatan yang cukup signifikan. Selain itu perusahaan juga memilik struktur keuangan yang kuat meskipun sedang melakukan ekspansi secara masif.
Saham ini cocok bagi investor agresif yang ingin bertaruh pada masa depan hilirisasi nikel dan baterai EV di Indonesia. Selain itu, mereka juga harus bersiap menghadapi volatilitas jangka pendek demi potensi keuntungan dalam jangka panjang. Anda bisa menambahkan MBMA ke dalam watchlist saat perusahaan mengumumkan kesepakatan smelter baru, penjualan MHP, atau pengembangan ekspor ke mitra global mereka.
Terakhir, ada saham DKFT yang memiliki pertumbuhan secara operasional yang sangat kuat. Di tengah tekanan harga nikel global, DKFT mampu meningkatkan volume produksinya. Selain itu, DKFT berada pada posisi strategis sebagai emitan nikel hulu yang diuntungkan oleh kebijakan
Kesimpulannya, tidak ada saham tambang nikel terbaik Indonesia yang cocok bagi semua investor. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan analisis lebih dalam pada ketiga saham nikel tersebut dan menyesuaikannya dengan profil risiko serta strategi investasi Anda.
👉 Analisis Saham bagi Investor Pemula