Bursa
Bank Indonesia (BI) Tahan Suku Bunga 4,75% pada Maret 2026

Bank Indonesia (BI) tahan suku bunga acuan Maret 2026 tetap di level 4,75%. Sejalan dengan konsensus ekonom yang memproyeksikan BI akan mempertahankan suku bunga BI rate.
Kebijakan suku bunga BI rate adalah salah satu yang paling dinanti oleh para pelaku pasar. Selain karena memberikan dampak langsung ke pasar keuangan, kebijakan suku bunga acuan BI juga akan mempengaruhi ekonomi Indonesia secara lebih luas.
Beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian investor:
- BI menahan suku bunga untuk ketiga kalinya selama tahun 2026
- BI memberikan sinyal tidak hawkish namun juga tidak dovish, sehingga cenderung wait and see
- Hasil rapat BI menunjukkan bahwa Bank Indonesia kini fokus pada stabilisasi Rupiah
- Perang Timur Tengah menjadi game changer pada kondisi perekenomian emerging markets, termasuk Indonesia
Untuk itu penting bagi kita untuk memperhatikan jadwal keputusan suku bunga acuan BI, bagaimana arah kebijakan BI dan dampaknya terhadap perekonomian.
Sepanjang 2025 Bank Indonesia telah memangkas suku bunga BI rate sebanyak lima kali yaitu pada Januari, Mei, Juli, Agustus dan September 2025. Penurunan suku bunga BI rate terjadi sebanyak 125 basis poin (bps) dari 6% di Desember 2024 menjadi 4,75%. Ini merupakan suku bunga terendah sejak 2022.
BI Tahan Suku Bunga Acuan BI Rate Maret 2026 4,75%
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 17-18 Maret 2026, BI memutuskan tahan suku bunga BI rate tetap 4,75%. Hal yang menarik dari keputusan BI tahan suku bunga acuan kali ini adalah Gubernur BI Perry Warjiyo tidak menyebutkan adanya ruang penurunan suku bunga seperti pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Februari lalu. Meski inflasi inti masih berada dalam target BI.
Pada pertemuan sebelumnya, BI mengatakan tetap mencermati ruang penurunan suku bunga lebih lanjut sejalan dengan perkiraan inflasi yang terkendali. Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus BI kini benar-benar bergeser ke stabilitas.
Selain itu, BI juga mengubah fokusnya dari mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi menjaga stabilitas perekonomian nasional. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan risiko ke depan. Terutama karena memanasnya perang di Timur Tengah yang bisa membuat kondisi global semakin memburuk.
Dengan demikian, maka suku bunga saat ini, BI rate Maret 2026 adalah:
- Suku bunga BI Rate: 4,75%
- Suku bunga Deposit Facility: 3,75%
- Suku bunga Lending Facility: 5,5%

Bank Indonesia fokus pada stabilisasi Rupiah
Gubernur BI Perry Warjiyo juga menekankan fokus mereka pada stabilisasi Rupiah yang sedang tertekan serius. BI akan terus memantau pasar dan melakukan intervensi baik transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, BI juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas yang berlaku mulai April 2026 dengan penyesuaian beberapa threshold. BI akan all-out untuk mendorong masuknya modal asing guna mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah.
“BI berkomitmen dan all out menjaga stabilitas nilai tukar dengan instrumen yang kami punya,”
Gubernur BI Perry Warjiyo
Pernyataan resmi Perry Warjiyo ini kembali menekankan fokus utama BI saat yaitu menjaga stabilitas Rupiah. Mengingat Rupiah melemah 1,29% terhadap dolar sejak akhir Februari 2026. Pelemahan Rupiah ini didorong menguatnya indeks dollar AS (DXY). Kondisi ini disebabkan oleh meningkatnya premi risiko sehingga mengakibatkan bergesernya aliran modal ke safe-haven assets terutama ke pasar uang AS.
BI juga mulai mengurangi ketergantungan pada dollar AS dengan melakukan kerjasama peluncuran QRIS antarnegara. Adapun perdagangan local currency transaction (LCT) tercatat meningkat menjadi US$ 4,1 miliar dengan transaksi terbesar untuk mata uang Tiongkok mencapai sekitar US$ 3 miliar. Ini menunjukkan kebutuhan terhadap mata uang selain dollar AS juga meningkat di Indonesia.
Eskalasi geopolitik konflik Timur Tengah jadi game changer
Perang antara AS-Israel-Iran dan negara Timur Tengah lainnya telah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Melonjaknya harga minyak dunia berdampak negatif pada rantai pasok perdagangan antarnegara sehingga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Pasar keuangan global juga memburuk dengan menguatnya mata uang dolar AS, meningkatnya yield US Treasury, serta terjadinya arus modal keluar dari emerging markets.
Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan akan lebih lambat menjadi 3,1% dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2%. Tekanan inflasi global juga meningkat dari 3,8% menjadi 4,1% sehingga mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global.
Kondisi ini membuat premi ririsko meningkat dan menggeser aliran modal dari emerging markets ke negara-negara maju. Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global ini membuat mata uang negara berkembang tertekan dan mempersulit pengelolaan perekonomiannya.
👉🏻 Bom Donald Trump: Kontroversi Alasan Trump Naikkan Tarif Impor
Inflasi masih terkendali, BI masih punya ruang penurunan suku bunga
Sementara itu BI melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih solid. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 diperkirakan akan lebih bagus sejalan dengan momentum perayaan hari besar keagamaan yang mendorong perbaikan penghasilan karena adanya Tunjangan Hari Raya (THR), belanja sosial pemerintah dan berbagai insentif pemerintah.
Ke depan, dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah perlu diantisipasi dan direspon secara tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia serta pemangku kepentingan lainnya makin diperkuat agar dapat menjaga permintaan domestik dan mendukung pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4,9–5,7%. Adapun titik tengah pertumbuhan ekonomi di 5,3-5,4%.
Inflasi juga masih terkendala, dengan inflasi Februari 2026 sebesar 4,76% terutama dipengaruhi oleh base effect sementara dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50% pada Januari-Februari 2025. Inflasi inti juga terjaga di level 2,63% yoy terutama didorong oleh kenaikan harga emas.
Bank Indonesia memandang inflasi IHK tahun 2026 dan 2027 tetap dalam kisaran 2,5±1%, meskipun lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya dipengaruhi oleh prospek harga komoditas global yang meningkat.
Artinya jika kondisi pasar Indonesia bisa stabil bahkan membaik, BI masih punya ruang untuk menurunkan suku bunga. Namun BI saat ini masih akan melihat data perkembangan eskalasi geopolitik konflik AS-Iran untuk membuat kebijakan selanjutnya.
Kalender Jadwal RDG Bank Indonesia
Dalam melihat jadwal kegiatan Bank Indonesia di kalender Bank Indonesia beberapa agenda yang perlu Anda cermati adalah:
- Perilisan data cadangan devisa Indonesia
- Statistik data utang luar negeri Indonesia
- Data Neraca Pembayaran Indonesia
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) mengenai keputusan suku bunga acuan BI
Jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI
Bank Indonesia melaksanakan RDG BI setiap bulan atau ada 12 kali pertemuan sepanjang tahun. Berikut jadwalnya:
- Selasa-Rabu, 20-21 Januari 2026
- Rabu-Kamis, 18-19 Februari 2026
- Senin-Selasa, 16-17 Maret 2026
- Selasa-Rabu, 21-22 April 2026
- Selasa-Rabu, 19-20 Mei 2026
- Rabu-Kamis, 17-18 Juni 2026
- Selasa-Rabu, 21-22 Juli 2026
- Selasa-Rabu, 18-19 Agustus 2026
- Selasa-Rabu, 22-23 September 2026
- Selasa-Rabu, 20-21 Oktober 2026
- Selasa-Rabu, 17-18 November 2026
- Selasa-Rabu, 15-16 Desember 2026
Apa itu Bank Indonesia?
Bank Indonesia adalah bank sentral negara Indonesia yang bertugas dan memiliki tujuan mencapai stabilitas nilai Rupiah, memelihara sistem pembayaran dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Tujuannya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
BI adalah bank sentral Indonesia yang independen, tugas dan wewenangnya tercantum dalam UU Nomor 4 Tahun 2023. Saat ini Gubernur Bank Indonesia adalah Perry Warjiyo. Adapun dalam melaksanakan tugasnya, Gubernur BI dibantu oleh Deputi Gubernur, yang seluruhnya kemudian disebut sebagai Dewan Gubernur BI.
Sejarah Bank Indonesia
Cikal bakal adanya Bank Indonesia adalah Bank Courant en Bank Ven Leening. Ini adalah bank pertama di Indonesia yang tugasnya menunjang kegiatan perdagangan dengan memberi pinjaman kepada pegawai VOC. Kemudian pada tahun 1818, Bank Caourant en Bank Van Leening tutup karena krisis keuangan.
Lalu pada tahun 1828, pemerintah Belanda memberikan hak-hak istimewa kepada De Javasche Bank (DJB) sebagai bank sirkulasi. Wewenang DJB antara lain mencetak dan mengedarkan uang Gulden di wilayah Hindia Belanda. DJB merupakan bank sirkulasi pertama di Asia.
Kemudian pada masa penjajahan Jepang tahun 1942, DJB dilikuidasi dan digantikan dengan Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG). Lantas, setelah pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, NICA kembali mendirikan DJB untuk mencetak uang dan mengedarkan uang untuk mengacaukan ekonomi Indonesia. Di sisi lain, Indonesia telah membentuk bank sirkulasi yaitu Bank Negara Indonesia (BBNI) yang menyebabkan dualisme bank sirkulasi dan muncul peperangan mata uang (currency war).
Lalu pada 1951, muncul desakan kuat untuk mendirikan bank sentral. Oleh karena itu pemerintah membentuk Panitia Nasionalisasi DJB untuk membeli 97% saham DJB oleh pemerintah RI. Bank Indonesia kemudian resmi berdiri sebagai bank sentral pada 1 Juli 1953. BI lalu resmi menjadi bank sentral Independen pada tahun 2004 melalui UU No 3 Tahun 2004.
Tugas dan Fungsi Bank Indonesia
Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia memiliki tugas dan fungsi utama yaitu mengelola bidang moneter, stabilitas sistem keuangan dan sistem pembayaran pengelolaan uang Rupiah. Pengelolaan ketiga bidang tersebut diimplemenasikan melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan melakukan operasi berbagai instrumen yang sesuai dengan bidang tugas terkait.
- Moneter: menjaga stabilitas rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran serta turut menjaga stabilitas sistem keungan. Dalam hal ini Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter yang menjadikan inflasi sebagai sasaran yang diutamakan.
- Stabilitas sistem keuangan: Bank Indonesia menjadi Lender of Last Restort yang berwenang menyediakan likuiditas pada saat krisis. Salah satu tugas BI adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan makroprudensial yang diterapkan terhadap perbankan untuk melakukan kegiatan usaha sehingga bisa mempengaruhi kondisi perekonomian.
- Sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah: Bank Indonesia memastikan infrastuktur sistem pembayaran yang memadai supaya selalu efisien, aman dan sejalann dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Apa pengaruh keputusan suku bunga BI Rate terhadap pasar?

Bank Indonesia menjadi lembaga independen yang sangat penting bagi kesehatan ekonomi Indonesia. Setiap keputusan RDG BI akan memberikan dampak pada pasar keuangan dalam negeri.
Pengaruh pemangkasan suku bunga BI rate
Saat BI memangkas suku bunga, artinya BI ingin ada banyak uang yang beredar di masyarakat alih-alih membuat masyarakat menyimpan uangnya. Berikut penjelasan pengaruh pemangkasan suku bunga BI rate terhadap pasar:
- Penurunan suku bunga BI bisa membuat pinjaman di bank jadi lebih murah. Ini bisa mendorong baik perusahaan atau perorangan untuk mengambil lebih banyak pinjaman untuk investasi atau konsumsi.
- Konsumen akan mengalami peningkatan konsumsi karena murahnya bunga yang dikenakan saat mengambil utang. Pada gilirannya hal ini bisa mendorong permintaan agregat dalam ekonomi.
- Peningkatan harga saham terjadi karena penurunan suku bunga membuat turunnya biaya pembiayaan dan meningkatkan konsumsi serta investasi. Perusahaan bisa melakukan ekspansi dan meningkatkan keuntungan yang kemudian tercermin pada harga saham.
- Penurunan suku bunga BI bisa menyebabkan depresiasi Rupiah karena investor akan mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar negara lain. Sehingga ada kecenderungan investor akan menjual mata uang Rupiah.
- Memiliki efek samping peningkatan inflasi. Ketika konsumsi dan investasi meningkat, harga dapat mulai naik, terutama jika penawaran tidak dapat memenuhi tingkat permintaan.
Pengaruh peningkatan suku bunga BI rate
Saat BI memilih menaikkan suku bunga, maka bank sentral ingin mengurangi likuiditas atau jumlah uang yang beredar. Akibatnya ada perlambatan ekonomi.
- Kenaikan suku bunga BI bisa membuat pinjaman di bank jadi lebih mahal. Ini bisa membuat perusahaan dan konsumen menahan belanja dan ekspansi bisnis.
- Konsumen akan menahan belanja karena tingginya bunga pinjaman saat akan mengambil utang.
- Penurunan harga saham karena penurunan likuiditas akan membuat lebih sedikit modal untuk investasi. Sehingga perusahaan belum akan melakukan ekspansi dan akan tercermin dalam penurunan harga.
- Peningkatan suku bunga BI bisa menyebabkan kenaikan nilai tukar Rupiah karena investor akan mencari imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan pasar lain.
- Memiliki efek samping deflasi. Saat konsumsi dan investasi tertahan atau menurun, ketersediaan uang di pasar akan berkurang, permintaan barang juga bisa alami penurunan.
👉🏻 Rapat Bank Sentral Eropa 2025: ECB Rate & Jadwal