BI Naikan Suku Bunga Acuan 50 bps, BI Rate jadi 5,25% di Mei 2026

Daftar Isi
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan Mei 2026 menjadi 5,25%. Keputusan BI ternyata di atas konsensus yang memprediksi BI hanya menaikkan suku bunga sebanyak 25 bps.
Kebijakan suku bunga BI rate adalah salah satu yang paling dinanti oleh para pelaku pasar. Selain karena memberikan dampak langsung ke pasar keuangan, kebijakan suku bunga acuan BI juga akan mempengaruhi ekonomi Indonesia secara lebih luas.
Beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian investor:
- BI menaikkan suku bunga acuan (BI rate) pada 20 Mei 2026 sebesar 50 bps menjadi 5,25%
- Sebelumnya BI telah menahan suku bunga sebanyak 4 kali selama tahun 2026
- BI memberikan sinyal hawkish dan mengubah sikapnya menjadi pro stability dengan melihat kondisi global.
- Pada tahun 2025 BI telah memangkas suku bunga sebanyak 5x (Januari, Mei, Juli, Agustus dan September).
Untuk itu penting bagi kita untuk memperhatikan jadwal keputusan suku bunga acuan BI, bagaimana arah kebijakan BI dan dampaknya terhadap perekonomian.
Sepanjang 2025 Bank Indonesia telah memangkas suku bunga BI rate sebanyak lima kali yaitu pada Januari, Mei, Juli, Agustus dan September 2025. Penurunan suku bunga BI rate terjadi sebanyak 125 basis poin (bps) dari 6% di Desember 2024 menjadi 4,75%. Ini merupakan suku bunga terendah sejak 2022.
Suku Bunga Acuan BI Rate Mei 2026 naik 50 bps jadi 5,25%
Usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Mei 2026, Bank Indonesia memutuskan untuk menaikan suku bunga BI menjadi 5,25%. Kenaikan sebesar 50 bps ini berada di atas konsensus yang memperkirakan kenaikan hanya sebesar 25 bps.

Berikut kebijakan suku bunga BI per Mei 2026:
- Suku bunga acuan BI rate: 5,25%
- Suku bunga Deposit Facility: 4,25%
- Suku bunga Lending Facility: 6%
Keputusan ini dibuat oleh BI sebagai langkah untuk memulai kebijakan yang lebih pro pada stabilitas. Apabila kita lihat dibanding beberapa bulan lalu, kebijakan ini memberikan langkah yang lebih tegas. Sebab sebelumnya, BI cenderung wait and see.
Kini fokus utama BI adalah memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Nilai tukar Rupiah telah mengalami pelemahan sekitar 5,54% sejak awal tahun 2026 menurut data Morningstar.
Eskalasi geopolitik konflik Timur Tengah jadi pemberat
Perang antara AS-Israel-Iran dan negara Timur Tengah lainnya telah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Melonjaknya harga minyak dunia berdampak negatif pada rantai pasok perdagangan antarnegara sehingga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Pasar keuangan global juga memburuk dengan menguatnya mata uang dolar AS, meningkatnya yield US Treasury, serta terjadinya arus modal keluar dari emerging markets.
Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga minyak yang bisa mendorong inflasi global meningkat serta meningkatkan capital outflow dari emerging markets.
Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun ke sekitar 3-3,1%, dari yang sebelumnya diprediksi tumbuh lambat menjadi 3,1% dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2%. Tekanan inflasi global juga meningkat dari sebelumnya 3,8% menjadi 4,1%, kini diubah menjadi 4,1-4,3%. Kondisi ini mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global.
Kondisi ini membuat premi ririsko meningkat dan menggeser aliran modal dari emerging markets ke negara-negara maju. Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global ini membuat mata uang negara berkembang tertekan dan mempersulit pengelolaan perekonomiannya.
👉🏻Kronologi dan Dampak Perang Iran – Amerika & Israel ke Indonesia
Tidak ada ruang penurunan suku bunga
BI tidak lagi bicara soal ruang penurunan suku bunga. Ini adalah komunikasi penting dari BI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan BI saat ini lebih fokus pada stabilisasi Rupiah.
Terutama karena tiga hal ini:
- Kondisi global yang tidak pasti
- Perubahan harga minyak yang bisa terjadi secara drastis
- Capital flow yang sangat sensitif terhadap premi risiko
Ini menunjukkan bahwa BI saat ini mulai masuk ke mode menunggu, bertahan dan menyesuaikan dengan data-data terbaru.
Namun meski suku bunga naik dan intervensi valas cukup agresif, BI juga mengaktifkan mode dual mandate balancing. BI tetap membuat kebijakan pro-growth dengan melonggarkan kebijakan makroprudensial, insentif kredit dan terus melakukan perluasan QRIS baik di dalam negeri maupun antarnegara.
👉🏻 Bom Donald Trump: Kontroversi Alasan Trump Naikkan Tarif Impor
Kalender Jadwal RDG Bank Indonesia
Dalam melihat jadwal kegiatan Bank Indonesia di kalender Bank Indonesia beberapa agenda yang perlu Anda cermati adalah:
- Perilisan data cadangan devisa Indonesia
- Statistik data utang luar negeri Indonesia
- Data Neraca Pembayaran Indonesia
- Rapat Dewan Gubernur (RDG) mengenai keputusan suku bunga acuan BI
Jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI
Bank Indonesia melaksanakan RDG BI setiap bulan atau ada 12 kali pertemuan sepanjang tahun. Berikut jadwalnya:
- Selasa-Rabu, 20-21 Januari 2026
- Rabu-Kamis, 18-19 Februari 2026
- Senin-Selasa, 16-17 Maret 2026
- Selasa-Rabu, 21-22 April 2026
- Selasa-Rabu, 19-20 Mei 2026
- Rabu-Kamis, 17-18 Juni 2026
- Selasa-Rabu, 21-22 Juli 2026
- Selasa-Rabu, 18-19 Agustus 2026
- Selasa-Rabu, 22-23 September 2026
- Selasa-Rabu, 20-21 Oktober 2026
- Selasa-Rabu, 17-18 November 2026
- Selasa-Rabu, 15-16 Desember 2026
Apa itu Bank Indonesia?
Bank Indonesia adalah bank sentral negara Indonesia yang bertugas dan memiliki tujuan mencapai stabilitas nilai Rupiah, memelihara sistem pembayaran dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Tujuannya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
BI adalah bank sentral Indonesia yang independen, tugas dan wewenangnya tercantum dalam UU Nomor 4 Tahun 2023. Saat ini Gubernur Bank Indonesia adalah Perry Warjiyo. Adapun dalam melaksanakan tugasnya, Gubernur BI dibantu oleh Deputi Gubernur, yang seluruhnya kemudian disebut sebagai Dewan Gubernur BI.
Sejarah Bank Indonesia
Cikal bakal adanya Bank Indonesia adalah Bank Courant en Bank Ven Leening. Ini adalah bank pertama di Indonesia yang tugasnya menunjang kegiatan perdagangan dengan memberi pinjaman kepada pegawai VOC. Kemudian pada tahun 1818, Bank Caourant en Bank Van Leening tutup karena krisis keuangan.
Lalu pada tahun 1828, pemerintah Belanda memberikan hak-hak istimewa kepada De Javasche Bank (DJB) sebagai bank sirkulasi. Wewenang DJB antara lain mencetak dan mengedarkan uang Gulden di wilayah Hindia Belanda. DJB merupakan bank sirkulasi pertama di Asia.
Kemudian pada masa penjajahan Jepang tahun 1942, DJB dilikuidasi dan digantikan dengan Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG). Lantas, setelah pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, NICA kembali mendirikan DJB untuk mencetak uang dan mengedarkan uang untuk mengacaukan ekonomi Indonesia. Di sisi lain, Indonesia telah membentuk bank sirkulasi yaitu Bank Negara Indonesia (BBNI) yang menyebabkan dualisme bank sirkulasi dan muncul peperangan mata uang (currency war).
Lalu pada 1951, muncul desakan kuat untuk mendirikan bank sentral. Oleh karena itu pemerintah membentuk Panitia Nasionalisasi DJB untuk membeli 97% saham DJB oleh pemerintah RI. Bank Indonesia kemudian resmi berdiri sebagai bank sentral pada 1 Juli 1953. BI lalu resmi menjadi bank sentral Independen pada tahun 2004 melalui UU No 3 Tahun 2004.
Tugas dan Fungsi Bank Indonesia
Bank Indonesia sebagai bank sentral Indonesia memiliki tugas dan fungsi utama yaitu mengelola bidang moneter, stabilitas sistem keuangan dan sistem pembayaran pengelolaan uang Rupiah. Pengelolaan ketiga bidang tersebut diimplemenasikan melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan melakukan operasi berbagai instrumen yang sesuai dengan bidang tugas terkait.
- Moneter: menjaga stabilitas rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran serta turut menjaga stabilitas sistem keungan. Dalam hal ini Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter yang menjadikan inflasi sebagai sasaran yang diutamakan.
- Stabilitas sistem keuangan: Bank Indonesia menjadi Lender of Last Restort yang berwenang menyediakan likuiditas pada saat krisis. Salah satu tugas BI adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan makroprudensial yang diterapkan terhadap perbankan untuk melakukan kegiatan usaha sehingga bisa mempengaruhi kondisi perekonomian.
- Sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah: Bank Indonesia memastikan infrastuktur sistem pembayaran yang memadai supaya selalu efisien, aman dan sejalann dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Apa pengaruh keputusan suku bunga BI Rate terhadap pasar?

Bank Indonesia menjadi lembaga independen yang sangat penting bagi kesehatan ekonomi Indonesia. Setiap keputusan RDG BI akan memberikan dampak pada pasar keuangan dalam negeri.
Pengaruh pemangkasan suku bunga BI rate
Saat BI memangkas suku bunga, artinya BI ingin ada banyak uang yang beredar di masyarakat alih-alih membuat masyarakat menyimpan uangnya. Berikut penjelasan pengaruh pemangkasan suku bunga BI rate terhadap pasar:
- Penurunan suku bunga BI bisa membuat pinjaman di bank jadi lebih murah. Ini bisa mendorong baik perusahaan atau perorangan untuk mengambil lebih banyak pinjaman untuk investasi atau konsumsi.
- Konsumen akan mengalami peningkatan konsumsi karena murahnya bunga yang dikenakan saat mengambil utang. Pada gilirannya hal ini bisa mendorong permintaan agregat dalam ekonomi.
- Peningkatan harga saham terjadi karena penurunan suku bunga membuat turunnya biaya pembiayaan dan meningkatkan konsumsi serta investasi. Perusahaan bisa melakukan ekspansi dan meningkatkan keuntungan yang kemudian tercermin pada harga saham.
- Penurunan suku bunga BI bisa menyebabkan depresiasi Rupiah karena investor akan mencari imbal hasil yang lebih tinggi di pasar negara lain. Sehingga ada kecenderungan investor akan menjual mata uang Rupiah.
- Memiliki efek samping peningkatan inflasi. Ketika konsumsi dan investasi meningkat, harga dapat mulai naik, terutama jika penawaran tidak dapat memenuhi tingkat permintaan.
Pengaruh peningkatan suku bunga BI rate
Saat BI memilih menaikkan suku bunga, maka bank sentral ingin mengurangi likuiditas atau jumlah uang yang beredar. Akibatnya ada perlambatan ekonomi.
- Kenaikan suku bunga BI bisa membuat pinjaman di bank jadi lebih mahal. Ini bisa membuat perusahaan dan konsumen menahan belanja dan ekspansi bisnis.
- Konsumen akan menahan belanja karena tingginya bunga pinjaman saat akan mengambil utang.
- Penurunan harga saham karena penurunan likuiditas akan membuat lebih sedikit modal untuk investasi. Sehingga perusahaan belum akan melakukan ekspansi dan akan tercermin dalam penurunan harga.
- Peningkatan suku bunga BI bisa menyebabkan kenaikan nilai tukar Rupiah karena investor akan mencari imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan pasar lain.
- Memiliki efek samping deflasi. Saat konsumsi dan investasi tertahan atau menurun, ketersediaan uang di pasar akan berkurang, permintaan barang juga bisa alami penurunan.
👉🏻 Rapat Bank Sentral Eropa 2025: ECB Rate & Jadwal