logo RankiaIndonesia

Dividend Value Investing, Strategi Kombinasi Value Investing & Dividen

Strategi Dividend Value Investing untuk menemukan saham undervalued dengan riwayat dividen yang konsisten

Dividend value investing adalah salah satu strategi investasi yang populer di kalangan investor. Dalam dunia investasi, banyak pihak menganggap bahwa investor dividen hanya mengejar pendapatan rutin dari pembagian dividen. Namun, anggapan ini sebenarnya berbeda dengan kenyataan.

Faktanya, terdapat berbagai strategi berbasis dividen yang tidak hanya berfokus pada pendapatan, tetapi juga bertujuan mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain). Salah satu contoh yang paling populer adalah strategi Dividend Growth Investing (DGI).

Ada satu strategi yang lebih menekankan revaluasi harga saham namun tetap menggunakan dividen sebagai filter kualitas perusahaan, yaitu Dividen Value Investing. Bahkan, dalam strategi ini mampu mengungguli kinerja indeks S&P 500 dalam jangka panjang.

Dalam artikel ini, kami akan membahas apa itu dividend value. Kemudian, kami juga akan membahas bagaimana cara kerjanya. Yuk, simak untuk tahu lebih jelas!

👉 Pelajari apa itu value investing dalam artikel: Strategi Investasi Jangka Panjang yang Menguntungkan dan Aman

Apa itu Dividend Value Investing?

Dividend Value Investing adalah strategi investasi murni berbasis value investing yang berfokus mencari saham-saham undervalued di pasar. Namun, strategi dividend value investing ini menjadikan yield dividen sebagai acuan utamanya.

Strategi ini mengombinasikan prinsip value investing adalah mencari perusahaan yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya dengan riwayat pembayaran dividen yang solid sebagai penyaring kualitas fundamental perusahaan.

value investing adalah
Rasio Profitabilitas vs Volatilitas Berbagai Strategi Dividen | Sumber: Ned Davis Research

Faktanya, perusahaan yang mampu membagikan dividen secara konsisten dalam jangka panjang umumnya perusahaan berkualitas tinggi. Ini karena umumnya mereka memiliki model bisnis yang stabil dan volatilitas yang relatif rendah. Selain itu, dividen juga menopang keuntungan dan psikologi investor ketika imbal hasil aset pendapatan tetap sedang rendah, proyeksi inflasi tidak pasti, atau kondisi pasar sedang bergejolak.

👉 Baca panduan kami dalam artikel: 7 Kesalahan Pemula Saat Investasi Dividen Saham, Hindari!

Tokoh di Balik Strategi Dividend Value Investing: Geraldine Weiss

Jika dalam dunia value investing kita mengenal nama-nama besar seperti Benjamin Graham atau Warren Buffett, dalam strategi dividend value investing, tokoh yang paling berpengaruh adalah Geraldine Weiss. Kemudian, ada penerusnya yang bernama Kelly Wright.

Lahir tahun 1926, Geraldine Weiss adalah pelopor di dunia investasi. Ia merupakan lulusan jurusan Bisnis dan Keuangan University of Berkeley.

Namun, pada saat itu Weiss menghadapi diskriminasi gender yang kuat. Sehingga, ia kesulitan mendapatkan pekerjaan di industri keuangan hanya karena Weiss seorang perempuan dan hany mendapatkan posisi sekretaris.

Merasa lelah, ia kemudian mendirikan majalah Investment Quality Trends pada tahun 1966. Majalah ini menjadi majalah petama yang berfokus memantau kinerja perusahaan yang membagikan dividen secara konsisten.

Dengan pendekatan yang inovatif ini, ia kemudian mengembangkan strategi Dividend Value Investing. Strategi ini berlandaskan pada dua pilar, yaitu keberlanjutan dividen dan identifikasi saham-saham undervalued melalui dividend yield.

Weiss sangat yakin bahwa perusahaan yang rutin membagikan dividen cenderung memiliki kondisi keuangan yang sehat. Selain itu, mereka mampu memberikan imbal hasil jangka panjang bagi investor. Lebih dari itu, riset yang ia lakukan juga menunjukkan saham-saham dengan riwayat pembagian dividen cenderung lebih unggul dari saham yang tidak membagikan dividen.

dividend adalah
Imbal Hasil S&P 500 | Sumber: Ned Davis Research and Hartfords Funds

Bagaimana Cara Kerja Dividend Value Investing?

Selanjutnya, kita akan membahas cara kerja strategi ini. Jika mampu memberikan hasil yang konsisten dalam jangka panjang, bagaimana menerapkannya? Prinsip pertama yang harus Anda pegang adalah sabar, karena jangka waktu yang panjang adalah "sahabat" Anda.

Setelah itu, Anda harus mengetahui rasio-rasio keuangan apa saja yang perlu diperhatikan. Kemudian, ketahui juga cara mengidentifikasi titik masuk dan titik keluar pada suatu saham.

Sebagai tambahan, dividen adalah keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada setiap pemegang saham. Kebijakan pembagian tersebut akan perusahaan laporkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Pembagian dividen dapat memberikan pendapatan pasif kepada para investor.

Mari kita mulai pembahasannya!

👉 Memahami Pengertian dan Contoh Nilai Intrinsik Saham

Kriteria dalam Seleksi Perusahaan

Supaya dapat menerapkan strategi ini secara efektif, pemilihan perusahaan faktor kunci. Sama seperti strategi Dividend Growth Investing, perusahaan yang Anda pilih harus menunjukkan kekuatan finansial yang solid. Hal ini tidak hanya tercermin dari kemampuan perusahaan dalam membayar dividen.

Dalam strategi ini, Geraldine Weiss menentukan enam kriteria utama. Berikut beberapa kriteria penting tersebut:

  1. Dividen harus mengalami kenaikan sebanyak lima kali dalam 12 tahun.
  2. Memiliki kualitas kredit minimal "A" menurut rating Standard & Poor's.
  3. Saham perusahaan yang beredar setidaknya berjumlah lima juta lembar.
  4. Memiliki minimal 80 investor institusi.
  5. Setidaknya telah membagikan dividen secara konsisten selama 25 tahun, dengan kata lain perusahaan tersebut adalah perusahaan raja dividen.
  6. Keuntungan harus mengalami peningkatan setidaknya dalam tujuh tahun dari 12 tahun terakhir.

Weiss menyebut perusahaan-perusahaan yang memenuhi kriteria ini sebagai Select Blue Chips.

Trik Mengidentifikasi Perusahaan yang Berkualitas


Menurut Weiss, tolok ukur yang tepat adalah dengan melihat riwayat keuntungan perusahaan dalam 12 tahun terakhir. Mengapa demikian?

Ini karena siklus ekonomi atau bisnis rata-rata berlangsung selama sekitar empat tahun. Sehingga, dalam rentang waktu 12 tahun, perekonomian dan pasar telah melalui tiga siklus yang utuh. Jika dalam periode tersebut perusahaan tetap mampu menunjukkan kekuatan laba dan mempertahankan kebijakan pembagian dividen yang konsisten, kita tidak perlu ragu lagi bahwa perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang berkualitas tinggi. Ini karena perusahan tersebut mampu bertahan dalam segala macam kondisi.

Sebagai tambahan kriteria, Weiss juga menetapkan kriteria sekunder seperti berikut:

Kapan Harus Membeli dan Menjual Saham?

Setelah memilih perusahaan yang memenuhi kriteria, selanjutnya Anda harus menentukan titik yang tepat untuk membeli dan menjual saham. Geraldine Weiss melakukannya dengan cara yang sederhana, namun tidak semudah yang kita bayangkan.

Kita mengenalnya dengan Dividend Yield Theory. Teori ini bermula dari asumsi bahwa saham perusahaan dengan modal bisnis yang stabil dan laba yang konsisten memiliki dividend yield yang berfluktuasi di sekitar nilai wajarnya (fair value).

Weiss menemukan bahwa harga saham Blue Chips cenderung bergerak dalam sebuah kanal. Kanal tersebut terbentuk dari riwayat dividen yield tertinggi dan terendah. Kita mengenal kanal ini dengan sebutan Dividend Channels.

Grafik dari majalah IQT di bawah ini menunjukkan kanal yang terbentuk dari dividend yield maksimum dan minimum, pergerakan harga saham, dan seluruh informasi terkait kriteria seleksi perusahaan.

apa itu dividen
Dividend channel berdasarkan Dividend Value Investing | Sumber: Investment Quality Trends
  • Kapan harus membeli?
    • Waktu terbaik untuk membeli saham adalah ketika saham menawarkan dividend yield yang berada di level tertinggi atau mendekatinya (garis hijau). Secara lebih detail, dividend yield berada di titik tertinggi dalam 5 tahun terakhir atau maksimal 10% di bawah yield tertinggi sepanjang sejarah.
  • Kapan harus menjual?
    • Anda harus menjual saham tersebut ketika dividend yield turun ke level terendah sepanjang riwayatnya (garis merah). Kondisi ini menandakan bahwa harga saham sudah relatif mahal. Secara lebih detailnya, Anda harus menjual ketika dividend yield berada di titik terendah dalam 5 tahun terakhir atau sekitar 10% di bawah yield terendah sepanjang sejarah.

👉 7 Kesalahan Pemula Saat Investasi Dividen Saham, Hindari!

Bagaimana Berinvestasi dengan Dividend Value Investing?

Pertama, Anda dapat berlangganan majalah IQT kemudian mereplikasi strateginya. Namun, Anda juga dapat menerapkan kriteria dari strategi ini secara manual dan menghitung serta membuat Dividend Channels sendiri.

Jika Anda tidak ingin membuat grafik dividend yield, ada aplikasi mobile gratis yang bernama Geraldine Dividends Charts. Pada aplikasi tersebut Anda dapat melihat dividend channels dari berbagai periode. Di bawah ini, kami memberikan contohnya pada saham Apple.

Garis ungu menunjukkan dividend yield dari waktu ke waktu. Kemudian, garis merah dan hijau menunjukkan titik tertinggi dan terendah Dividend Channel.

Aplikasi Geraldine Dividends Charts
Tampilan Aplikasi Geraldine Charts App

Harus kita akui bahwa aplikasi tersebut masih memiliki keterbatasan dari sisi tampilan dan fitur. Namun, mengingat aplikasi tersebut sifatnya gratis, menjadi pilihan yang paling praktis bagi investor ritel.

Sebagai alternatif, ada juga situs berlangganan seperti MarketBeat dan Dividend Max yang menyediakan data lebih lengkap.

Berinvestasi Dividend Value melalui ETF dan Investment Fund

Ada alternatif lain yang memungkinkan Anda untuk berinvestasi dengan strategi ini, yaitu melalui ETF (Exchange Traded Funds). Namun, perlu Anda ketahui bahwa tidak ada ETF yang secara khusus mereplikasi Dividend Value Investing yang dapat Anda beli melalui broker saham terbaik di Indonesia. Sehingga, Anda harus membelinya melalui broker internasional seperti Interactive Brokers.

Berikut beberapa daftar ETF tersebut:

  • Capital Group Dividend Value ETF (CGDV)
  • Madison Dividend VAlue ETF (DIVL)
  • AAM S&P 500 High Dividend Value ETF (SPDV)

Apakah Strategi Dividend Value Investing Menguntungkan?

Strategi dividen value investing telah terbukti sangat menguntungkan dalam jangka panjang. Ini karena dalam 30 tahun terakhir, rekomendasi yang diberikan Investment Quality Trends (sering disebut sebagai "Weiss Strategy) mencatat rata-rata imbal hasil tahunan sebesar 11,2%. Di sisi lain, indeks S&P 500 pada rentang waktu yang sama hanya mencatatkan rata-rata imbal hasil 6,73% per tahun.

Imbal hasil Strategi Weiss vs S&P 500
Imbal hasil Weiss Strategy vs S&P 500 | Sumber: aaii

Tidak hanya itu, majalah IQT juga memiliki portofolio model yang populer dengan sebutan Lucky 13. Dalam periode 2000-2019, portofolio mampu menghasilkan rata-rata imbal hasil tahunan sebesar 13,26%. Sedangkan indeks S&P hanya menghasilkan 7,66% per tahun.

Portofolio tersebut juga memiliki volatilitas yang lebih renah dan jumlah tahun dengan imbal hasil negatif yang lebih sedikit.

Selain itu,
Compound Annual Growth Rate (CAGR) dari portofolio Lucky 13 mencapai 12,35%, sementara CAGR S&P 500 pada periode yang sama hanya 6,02%.

Imbal hasil Lucky 13 vs S&P 500
Imbal hasil Lucky 13 vs S&P 500 | Sumber: Investment Quality Trends

Dividend Value Investing: Pendapat Kami

Dividend value investing adalah strategi yang kuat bagi investor yang menganut value investing sekaligus ingin memperoleh passive income dari dividen.

Pengaruh Geraldine Weiss dan Kelley Wright memberikan dampak yang kuat bagi strategi ini. Dengan menjadikan dividen sebagai filter berkualitas tinggi dalam memilih saham, strategi ini berhasil mengungguli kinerja indeks S&P 500 dalam beberapa dekade. Selain itu strategi ini juga menunjukkan ketahanan yang luar biasa di tengah kondisi ekonomi yang sedang bergejolak.

Menariknya, seluruh pencapaian tersebut berhasil dicapai melalui strategi yang relatif mudah untuk diterapkan. Sehingga, investor hanya perlu mengikuti beberapa kriteria untuk menyeleksi saham, kemudian menggunakan pendekatan riwayat dividend yield untuk menentukan titik entry dan exit.

Geraldine Weiss tidak hanya berhasil menembus batasan gender di dunia investasi, malinkan dapat mengombinasikan dua pendekatan yang bertolak belakang. Sehingga, menjadi suatu strategi yang dapat menghasilkan kinerja luar biasa bagi para investor yang menerapkannya.

Kesimpulannya, jika Anda mencari strategi investasi yang sederhana namun efektif dan mampu mengungguli S&P 500, Dividen Value Strategy layak Anda pertimbangkan. Ini memungkinkan Anda untuk membuat proses dalam berinvestasi menjadi tidak terlalu rumit.

Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ)

Iklan
Artikel terkait