logo RankiaIndonesia

Ini 5 Sektor Defensif , Investasi Rendah Risiko saat Krisis Ekonomi

Sektor defensif menawarkan stabilitas ketika terjadi krisis ekonomi

Sektor defensif menjadi semakin relevan ketika tanda-tanda krisis ekonomi mulai terlihat dari ketidakseimbangan antar pasar keuangan dan ekonomi riil. Kita harus ingat, bahwa krisis ekonomi adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari dalam siklus ekonomi.

Ini dapat kita lihat dari pasar saham dan aset keuangan yang tampak terus menguat namun aktivitas ekonomi riil menunjukkan kerapuhannya. Pola seperti ini ditandai dengan optimisme pasar yang berlebihan, alokasi modal yang tidak efisien, dan ketergantungan pada pertumbuhan berbasis utang.

Di saat yang sama, konflik global yang memanas dan risiko geopolitik turun menabah ketidakpastian ekonomi. Sehingga, memperbesar kemungkinan gelombang perlambatan atau koreksi pasar di masa mendatang. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mempertimbangkan langkah defensif dan meninjau alokasi pada sektor-sektor yang cenderung lebih stabil di tengah krisis ekonomi di Indonesia.

Dalam artikel ini, kami akan membahas apa itu sektor defensif. Kemudian, kami juga akan membahas kelebihan dan kekurangan berinvestasi dalam sektor tersebut. Yuk, simak untuk tahu lebih jelas!

👉 Benarkah tanda krisis ekonomi global 2026 di depan mata?

Apa itu Sektor Defensif, Investasi Rendah Risiko Saat Krisis Ekonomi?

Sektor defensif adalah kelompok sektor bisnis dengan kinerja yang cenderung lebih stabil daripada pasar secara keseluruhan, terutama saat terjadi krisis ekonomi. Ini karena sektor tersebut memiliki beberapa ciri-ciri yang membuatnya bisa bertahan saat market bergejolak. Berikut penjelasannya:

Ciri-Ciri Sektor Defensif yang relatif aman saat resesi

1. Memiliki Utang Berbunga yang Relatif Kecil

Stuktur utang yang ringan membuat perusahaan di sektor defensif tidak terbebani biaya bunga yang besar ketika pendapatan sedang menurun karena krisis ekonomi. Jika beban bunganya tinggi, tekanan tidak hanya terasa pada laba perusahaan, tetapi juga bisa berdampak langsung pada arus kas operasional. Kondisi ini bisa memaksa perusahaan untuk tidak membagikan dividen atau menunda ekspansi, sehingga dapat meningkatkan risiko keuangan.

2. Produknya Selalu Dibutuhkan dalam Segala Kondisi

Sektor defensif umumnya menjual produk atau layanan yang bersifat kebutuhan primer. Permintaan terhadap produk ini tetap ada meskipun daya beli masyarakat melemah. Sehingga, penurunan pendapatan perusahaan cenderung lebih kecil daripada sektor yang bergantung pada konsumsi diskresioner.

3. Pendapatan Lebih Stabil Sepanjang Siklus Ekonomi

Berbeda dengan sektor siklikal, pendapatan di sektor defensif tidak mengalami lonjakan tajam ketika terjadi booming. Namun, juga tidak jatuh terlalu dalam ketika krisis ekonomi. Stabilitas ini membuat perusahaan lebih terprediksi dan risiko volatilitas pendapatannya menjadi lebih rendah.

4. Arus Kas Operasional yang Positif dan Kuat

Arus kas yang konsisten positif memungkinkan perusahaan tetap menjalankan operasinya, memenuhi kewajiban keuangan, dan menjaga keberlangsungan bisnis di tengah ketidakpastian. Kekuatan arus kas ini menjadi fondasi utama bagi stabilitas perusahaan saat krisis ekonomi.

👉🏻 Apa itu Cashflow: Pengertian, Jenis, dan Cara Membuat

Ketergantungan yang Rendah Terhadap Siklus Ekonomi

Kinerja sektor defensif tidak terlalu dipengaruhi oleh naik-turunnya pertumbuhan ekonomi. Ini karena sektor tersebut tidak bergantung pada ekspansi ekonomi untuk bertahan, sektor ini cenderung lebih tahan dan stabil ketika terjadi krisis ekonomi global.

👉🏻 Suku Bunga The Fed: Pangkas 25 bps jadi 3,5%-3,75%

Daftar Sektor Defensif, Investasi Rendah Risiko Saat Krisis Ekonomi

Memahami karakter sektor-sektor yang ada di dalamnya merupakan hal yang sangat penting bagi investor. Sehingga, tidak salah dalam memilih saham yang sesuai dengan tujuan investasi. Di bawah ini, kami akan memberikan daftar sektor-sektor defensif utama yang stabil sepanjang siklus pasar. Berikut penjelasan beserta daftar saham sektor defensif:

1. Kebutuhan Pokok (Consumer Staples)

Produk kebutuhan pokok menjadi penopang utama bagi sektor defensif. Dalam konteks krisis ekonomi Indonesia, sektor kebutuhan pokok sering menjadi penopang utama karena masyarakat tetap membutuhkan produk dan layanan dari sektor ini. Sehingga, dapat memberikan pendapatan dan arus kas yang stabil bagi perusahaan. Produk-produk kebutuhan pokok ini bisa berupa makanan dan minuman, produk rumah tangga dan kebersihan, perawatan pribadi, maupun ritel kebutuhan pokok.

Dalam krisis ekonomi, sektor ini menjadi pilihan bagi investor yang mencari perlindungan terhadap volatilitas pasar, sekaligus mencari pertumbuhan yang konsisten. Namun, pertumbuhannya tidak setinggi sektor siklikal saat kondisi ekonomi sedang sangat kuat.

Berikut daftar 3 saham yang termasuk dalam sektor kebutuhan pokok beserta informasi kinerjanya:

PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT)220,83%Rp 1,97 triliunRp 3,78 triliun
PT Mayora Indah Tbk (MYOR)51,95%Rp 9,03 triliunRp 4,5 triliun
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)18,17%Rp 7,3 triliunRp 4,19 triliun

👉🏻 Free Cash Flow (FCF)/Arus Kas Bebas: Rumus, Jenis, dan Penjelasannya

2. Kesehatan

Sektor kesehatan menjadi salah satu bagian dalam sektor defensif karena menyediakan layanan dan produk yang tidak dapat ditunda. Sehingga, permintaannya bersifat tetap dalam berbagai kondisi ekonomi. Karakter permintaan yang stabil, pendapatan yang konsisten, dan dukungan pembiayaan jangka panjang membaut sektor ini tidak terlalu bergantung pada siklus ekonomi.

Di tengah krisis ekonomi, ketahanan tersebut membantu perusahaan sektor kesehatan untuk menjaga arus kas, keberlanjutan operasional, dan stabilitas kinerja. Sehingga, keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan menjadi daya tari utama.

Berikut 3 saham yang termasuk dalam sektor kesehatan beserta informasi kinerjanya:

PT Soho Global Health Tbk (SOHO)176,06%Rp 9,69 miliarRp 917,24 miliar
PT Siloam International Hospital Tbk (SILO)114,07%Rp 1,47 triliunRp 852,97 miliar

👉 Cara Memilih Saham yang Baik agar Terhindar dari Saham Gorengan

3. Kebutuhan Esensial

Selanjutnya, sektor kebutuhan esensial seperti listrik, gas, dan air bersih juga termasuk dalam sektor defensif. Ini karena sektor tersebut menyediakan layanan yang menjadi kebutuhan dasar sehingga tidak dapat kita tunda maupun gantikan. Permintaan terhadap utilitas cenderung stabil karena rumah tangga dan bisnis tetap membutuhkan energi dan air untuk melakukan aktivitas mereka sehari-hari.

Kinerja sektor ini memiliki ketergantungan yang rendah terhadap siklus ekonomi maupun volatilitas pasar. Kebutuhan esensial juga menjadi sektor yang dapat bertahan dalam krisis ekonomi karena didukung oleh kontrak jangka panjang dan pengaturan tarif.

Berikut contoh 2 saham defensif yang termasuk dalam sektor kebutuhan esensial beserta informasi kinerjanya:

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)107,42%US$ 2,56 miliarUS$ 212,22 juta
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)2.441,18%US$ 159,77 jutaUS$ 95,46 juta

👉🏻 Analisis keuangan: Cara Menghitung, dan Jenis-Jenisnya

4. Perusahaan dengan Utang Rendah

Perusahaan yang memiliki tingkat utang rendah sering menjadi ciri utama sektor defensif. Ini karena mereka memiliki struktur keuangan yang lebih sehat sehingga memberikan fleksibilitas lebih dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi. Beban bunga yang kecil membuat perusahaan tidak mendapat tekanan besar ketika terjadi penurunan pendapatan.

Di tengah krisis ekonomi global, perusahaan dengan utang yang rendah cenderung lebih dapat bertahan. Ini karena mereka tidak bergantung pada pembiayaan eksternal untuk dapa terus menjalan bisnisnya. Hal tersebut dapat membantu kepercayaan investor.

Berikut saham perusahaan dengan utang rendah beserta informasi kinerjanya:

PT Bayan Resources Tbk (BYAN)1988,05%0,25US$ 548,76 juta
PT Siantar Top Tbk (STTP)219,44%0,09Rp 1,06 triliun
PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU)68,89%0,41Rp 9 miliar

👉 Kenali Jenis Rasio Keuangan

5. Emas

Terakhir sektor tambang emas juga dapat Anda jadikan pilihan investasi sektor defensif. Ini karena emas sering menjadi aset lindung nilai di tengah krisis ekonomi global. Bahkan dalam 5 tahun terakhir, harga emas mengalami kenaikan lebih dari 170%. Baca juga: Prediksi Harga Emas 2030, Bisa Capai US$ 6.000?

Investasi emas juga dinilai lebih tahan terhadap inflasi karena permintaannya meningkat saat terjadi pelemahan mata uang. Sehingga, pendapatan perusahaan yang bergerak di sektor tambang emas tidak terlalu bergantung pada siklus pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat membantu perusahaan dalam menjaga pendapatan dan arus kas.

Berikut contoh 3 saham perusahaan tambang emas beserta informasi kinerjanya:

PT Aneka Tambang Persero Tbk (ANTM)506,58%Rp 3,688 triliunRp 9,262 triliun
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)744,89%US$ 1,965 miliarUS$ 430,39 juta
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)164,67%US$ 401,84 jutaUS$ 23,43 juta

👉 Indonesia Catat Inflasi 2025 sebesar 2,92% Didorong oleh Harga Emas!

Kelebihan & Kekurangan Investasi di Sektor Defensif saat resesi

Dengan meningkatnya risiko ketidakpastian dan potensi krisis global 2026, sektor defensif menjadi pilihan investasi yang lebih aman karena stabilitas kerjanya. Namun, seperti strategi investasi lainnya, berinvestasi dalam sektor ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus Anda pahami. Sehingga, dapat menyesuaikannya dengan tujuan, profil risiko, dan kondisi pasar yang terjadi.

Berikut daftarnya:

Lebih tahan ketika ekonomi sedang melambat. Pendapatan perusahaan tidak mengalami penurunan signifikan karena bisnis tetap berjalan meskipun ekonomi sedang melemah. Potensi pertumbuhan terbatas. Ini karena perusahaan berfokus pada stabilitas sehingga pertumbuhan laba dan harga sahamnya tidak agresif.
Arus kas lebih stabil. Perusahaan cenderung memiliki arus kas yang positif dan tidak bergantung pada pembiayaan eksternal untuk tetap menjalankan operasinya. Kinerja bisa tertinggi saat ekonomi sedang booming. Sektor defensif memberikan imbal hasil yang tidak sebesar sektor siklikal ketika pasar sedang optimis.
Volatilitas saham lebih rendah. Umumnya, harga saham perusahaan lebih stabil karena kinerjanya konsisten.Valuasi menjadi mahal ketika terjadi krisis ekonomi. Minat investor yang melonjak pada saham defensif membuat valuasinya mahal ketika terjadi krisis ekonomi.
Tidak kebal terhadap penurunan harga saham. Meskipun lebih stabil, harga saham sektor defensif tetap bisa mengalami penurunan ketika pasar sedang sideways.
Tidak cocok untuk trader agresif. Pergerakan harga yang cenderung lambat membuat saham-saham di sektor ini kurang ideal untuk strategi trading jangka pendek dengan risiko yang tinggi.

Kesimpulan: Strategi Menghadapi Krisis Ekonomi dengan Sektor Defensif

Krisis adalah fase yang tidak bisa dihindari dalam siklus ekonomi dan tanda-tanda krisis ekonomi sering kali muncul ketika pasar keuangan tidak lagi sejalan dengan kondisi ekonomi riil. Dalam situasi seperti ini, Anda harus lebih selektif dalam menyusun portofolio sehingga tidak terlalu terdampak oleh volatilitas dan tekanan pasar yang meningkat.

Di tengah potensi krisis ekonomi Indonesia maupun risiko krisis global 2026, sektor defensif menawarkan karakteristik yang lebih stabil. Pendapatan yang konsisten, arus kas yang kuat, serta ketergantungan yang rendah terhadap siklus ekonomi membuat sektor ini dapat bertahan lebih baik ketik ekonomi sedang memburuk.

👉🏻 Badai Finansial 2030: Apa itu, Penyebab, Cara Menghadapi

Namun, investasi di sektor ini tetap memiliki kekurangan. Potensi pertumbuhan yang terbatas dan valuasi saham yang menjadi mahal ketika krisis terjadi, menjadi kekurangan utama berinvestasi dalam sektor ini.

Oleh karena itu, memahami karakter, kelebihan, dan kekurangan sektor defensif menjadi langkah penting bagi investor. Sehingga, dapat menyesuaikan strategi investasi dengan tujuan jangka panjang dan profil risiko yang dimiliki.

👉🏻 Cara Terbaik Investasi Saham Saat Krisis Ekonomi

Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ)

Iklan
Artikel terkait