logo RankiaIndonesia

Hasil Rapat The Fed Maret 2026: Jadwal The Fed & Ekspektasi

Hasil rapat The Fed 18 Maret 2026 Jerome Powell memutuskan untuk menahan suku bunga Fed rate di kisaran 3,5-3,75%. Namun Powell memberikan pesan bahwa ekonomi masih kuat namun kini fokus pada inflasi, risiko energi dan ketidakpastian geopolitik. The Fed juga menyatakan ruang pemangkasan suku bunga masih ada namun tidak semudah di akhir tahun 2025.
FED

Hasil Rapat The Fed Maret 2026 sangat dinantikan pasar. Terutama karena angka inflasi, harga minyak dan ketegangan geopolitik perang AS-Iran. Dalam tiga bulan terakhir, The Fed telah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali berturut-turut. Kemudian pada Januari 2026, hasil rapat The Fed adalah mempertahankan suku bunganya.

The Fed alias Federal Reserve adalah bank sentral Amerika Serikat yang menjadi salah satu institusi paling berpengaruh di dunia. Oleh karena itu, penting untuk melihat bagaimana keputusan hasil rapat The Fed terakhir, jadwal The Fed 2026 dan bagaimana dampak keputusan the Fed hari ini akan berdampak ke pasar keuangan.

  • Pada Desember 2025 The Fed menutup tahun dengan berturut-turut memotong suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) sebanyak tiga kali ke level 3,5-3,75%.
  • Pada pertemuan The Fed Januari 2026, Jerome Powell menyatakan ekonomi AS melanjutkan pertumbuhannya dengan solid, tingkat pengangguran stabil di level terendah dan inflasi tetap tinggi.
  • Hasil rapat The Fed Maret 2026 bahwa suku bunga akan tetap di level 3,5-3,75%

Kita akan melihat bagaimana arah kebijakan The Fed sepanjang tahun ini. Keputusan ini adalah salah satu isu yang paling dicermati oleh pasar. Terutama karena tak hanya berpengaruh ke pasar keuangan (saham, nilai tukar dan indeks) tetapi juga berpengaruh ke ekonomi secara luas.

Kebijakan The Fed 2026: dari pengetatan ke jeda

Pada Desember 2025, Kebijakan The Fed (Federal Reserve) menutup tahun dengan memotong suku bunga sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Sehingga suku bunga hasil rapat The Fed berada di kisaran 3,50%-3,75%.

Namun, kita tidak bisa mengartikan pemotongan suku bunga The Fed ini sebagai awal dari kebijakan moneter yang benar-benar ekspansif. Melainkan bertujuan mengurangi tingkat pembatasan setelah FOMC melihat peningkatan risiko di pasar tenaga kerja, bahkan dengan inflasi yang masih berada di atas target.

Pada kebijakan The Fed Januari 2026, pengumuman suku bunga The Fed menunjukkan mereka menghentikan rangkaian penurunan suku bunga dan menahan suku bunga. Keputusan ini dengan pesan yang lebih hati-hati: ekonomi masih tumbuh, tingkat pengangguran rendah dan inflasi masih cukup tinggi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dari Desember hingga Januari, kebijakan The Fed berubah dari preemptive ke jeda untuk verifikasi.

Hasil rapat The Fed dan pesan Jerome Powell menjadi hal yang paling dinantikan investor global

Hasil rapat The Fed Maret 2026, menunjukkan kebijakan kembali menahan suku bunga ini bukan hanya soal konfirmasi secara teknikal. Dalam pernyataannya, The Fed memastikan bahwa ketidakpastian masih tinggi dan perkembangan konflik AS-Iran membuat sulit melihat outlook perekonomian.

Ini adalah titik balik yang penting: penahanan suku bunga The Fed bukan lagi netral dan tidak menuju pemangkasan suku bunga selanjutnya. Ini adalah jeda untuk The Fed memahami bagaimana sifat guncangan energi dan geopolitik kali ini. Apakah bersifat sementara atau berdampak jangka panjang yang akan memengaruhi inflasi AS.

Hasil Rapat The Fed Maret 2026: suku bunga The Fed tetap

Hasil rapat The Fed Maret 2026 menunjukkan kebijakan The Fed yang menahan suku bunga karena kenaikan harga minyak dan konflik AS - Iran telah meningkatkan ketidakpastian. Jika kita kulik lebih dalam bisa saja The Fed takut bahwa guncangan ini akan memengaruhi upaya The Fed menurunkan inflasi.

Proyeksi inflasi AS terbaru menunjukkan inflasi umum 2026 sebesar 2,7%, dengan inflasi inti 2,7% dan tingkat pengangguran 4,4%. Dengan kata lain, ekonomi tidak benar-benar melambat yang bisa membuat The Fed memangkas suku bunga. Di sisi lain inflasi juga tidak kunjung turun untuk memulai siklus pelonggaran.

Kebijakan The Fed tidak benar-benar hawkish, tetapi meningkatkan risiko jika salah ambil kebijakan: memotong suku bunga terlalu cepat bisa membuat inflasi semakin persisten, sementara inflasi inti masih berada di atas target.

Detil penting lainnya adalah FOMC secara resmi menyatakan bahwa mereka memperhatikan risiko pada kedua sisi mandat ganda yaitu inflasi dan ketenagakerjaan. Namun hasil pertemuan The Fed Maret 2026 menunjukkan keduanya tidak lagi memiliki bobot yang setara.

Selama pasar tenaga kerja naik dan tingkat pengangguran tetap di kisaran 4,4% The Fed memiliki ruang untuk menjaga kestabilan harga. Dengan begitu Powell tidak perlu menaikkan suku bunga menunjukkan sikap hawkish. Powell hanya perlu menegaskan bahwa ambang batas untuk mulai menurunkan suku bunga kembali telah meningkat. Dan inilah yang banyak pelaku pasar lain hanya sampaikan sebagian.

Kebijakan The Fed adalah bukan tidak akan ada penurunan suku bunga, tetapi untuk menurunkan suku bunga kini butuh kondisi yang jauh lebih kuat dari tiga bulan lalu.

Dot Plot The Fed

Salah satu elemen paling penting dari setiap hasil rapat The Fed adalah dot plot, yaitu proyeksi ekspektasi suku bunga ke depannya.

Hasil dot plot menunjukkan suku bunga The Fed Fund Rate berada pada median 3,4% pada akhir 2026. Ini berarti ada ekspektasi hanya satu kali penurunan dari tingkat suku bunga acuan The Fed saat ini. Kondisi ini mematahkan narasi bahwa kebijakan moneter akan kembali longgar dengan cepat pada 2026. FOMC tidak memperkirakan serangkaian penurunan suku bunga dalam waktu berdekatan, melainkan pelonggaran yang jauh lebih terbatas dan bersifat kondisional.

Dot Plot The Fed

Hal yang menarik dari dot plot The Fed bukan angka mediannya, namun sebaran yang tersirat di baliknya. FOMC terlihat kurang yakin dan lebih terpecah dalam memandang arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan dibandingkan ekspektasi pasar pada akhir 2025.

Artinya dot plot bulan Maret ini tidak boleh dibaca sebagai proyeksi yang mekanis. Melainkan sebagai sinyal fleksibilitas defensif dari The Fed.

Hasil rapat The Fed tidak mau menutup kemungkinan untuk penurunan suku bunga. Tetapi juga tidak mau membuat pasar berpikir penurunan suku bunga akan benar-benar terjadi. The Fed menjaga berbagai alternatif tetap terbuka karena masih belum pasti apakah guncangan energi hanya akan terbatas pada inflasi utama atau akan merambat ke komponen lain yang lebih persisten.

Reaksi Pasar dari Hasil Rapat The Fed

Reaksi Wall Street mengonfirmasi keputusan The Fed. Satu hari setelah jadwal rapat The Fed, indeks AS ditutup melemah:

Reaksi tersebut bukan sebuah reaksi terkejut tetapi juga bukan lega. Namun merupakan penyesuaian pada ekspektasi suku bunga dan struktur imbal hasil.

Sinyal pertama dari pasar obligasi. Yield 10-years US Treasury telah bertahan stabil di kisaran 4,2-4,25% tanpa ada penurunan yang berarti. Ini menunjukkan jika pasar menafsirkan pertemuan tersebut sebagai siklus penurunan suku bunga dalam waktu dekat maka seharusnya ada penurunan yield yang signifikan.

Namun hal itu tidak terjadi. Artinya para pelaku pasar mulai melihat probabilitas skenario higher for longer bahkan tanpa adanya sikap ketat yang eksplisit dari The Fed.

Selain itu, yield obligasi AS dengan tenor 2 tahun yang lebih sensitif pada kebijakan moneter juga relatif terjaga. Ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengurangi keyakinannya terhadap penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

Secara praktis, hal ini tercermin pada kurva imbal hasil yang masih kesulitan untuk stabil karena The Fed belum memberikan sinyal yang mendukung pelonggaran kebijakan secara cepat.

Dari pasar kontrak berjangka (futures) ada repricing yang jelas. Probabilitas penurunan suku bunga pertama dalam beberapa bulan ke depan mulai diturunkan. Ekspektasi pasar kini mulai fokus pada paruh kedua tahun 2026. Penyesuaian ini lebih penting dari pada pergerakan indeks saham karena mencerminkan perubahan struktural dalam ekspektasi kebijakan bank sentral.

Dolar juga memberikan reaksi yang serupa. Tidak ada penguatan yang sginifikan namun lebih stabil dan dalam fase pemulihan. Didukung oleh selisih suku bunga serta perubahan ekspektasi terkait penurunan suku bunga.

Dalam konteks ketidakpastian geopolitik, hal ini semakin memperkuat peran dolar sebagai aset safe haven. Bukan sekedar cerminan dari kebijakan The Fed.

Terakhir, menarik untuk melihat bagaimana sektor defensif dan komoditas. Emas tetap menunjukkan kinerja yang kuat. Menandakan bahwa sebagian pelaku pasar masih melakukan hedging terhadap risiko inflasi jangka panjang dan ketidakpastian geopolitik. Sementara minyak tetap menjadi pendorong eksternal utama dalam narasi makro.

Kondisi tersebut (yield tinggi, dolar yang stabil dan emas yang menguat) adalah ciri-ciri dari fase pasar tidak sepenuhnya memperkirakan resesi dalam waktu dekat. Tetapi juga tidak melihat kembalinya kebijakan moneter yang longgar secara cepat.

Singkatnya, reaksi pasar tidak boleh diartikan sebagai “ketidakpedulian”, melainkan sebagai reposisi yang berlangsung secara diam-diam. The Fed memang tidak memberikan kejutan dari sisi suku bunga, tetapi mereka mengubah ekspektasi mengenai arah kebijakan ke depan. Dan ketika ekspektasi berubah, logika alokasi aset pun ikut berubah. Ketergantungan pada likuiditas berkurang, sementara perhatian terhadap kualitas aset dan sensitivitas terhadap suku bunga meningkat.

Apa yang Diharapkan pada Tahun 2026?

Intinya, di tahun 2026 The Fed sebenarnya tidak menyatakan bahwa siklus penurunan suku bunga telah berakhir, namun mereka menaikkan standar untuk bisa kembali melonggarkan kebijakan. Setidaknya, salah satu dari dua kondisi berikut terpenuhi (idealnya keduanya terpenuhi):

  1. Inflasi bergerak dengan lebih jelas menuju target 2%
  2. Pasar tenaga kerja mengalami pelemahan secara signifikan

Selama kondisi itu belum terjadi, The Fed tetap bersikap wait and see. Setelah jadwal pertemuan The Fed Maret 2026, kemungkinan ini tidak lagi bersifat teoritis. Namun telah menjadi bagian dari cara pasar membaca situasi serta reaksi atas fungsi The Fed.

Namun di tahun 2026 tidak lagi hanya soal inflasi dan pasar tenaga kerja tetapi juga guncangan eksternal. Jika lonjakan harga energi bersifat sementara, The Fed masih bisa mempertahankan skenario penurunan suku bunga di akhir tahun. Namun jika kenaikan harga minyak merambat ke perekonomian dalam negeri, inflasi inti atau ekspektasi atas inflasi maka ini jadi awal The Fed berhenti melakukan pelonggaran kebijakan dan mulai membangun logika higher for longer.

Outlook Dollar dan Pasar Tenaga Kerja

Di tahun 2026, di luar pergerakan suku bunga, faktor utama bagi dolar dan pasar tenaga kerja adalah interaksi antara kebijakan moneter, inflasi dan geopolitik.

The Fed yang cenderung wait and see di tengah ketidakpastian yang tinggi, cenderung memperkuat dolar tanpa perlu menaikkan suku bunga. Untuk bisa menopang USD, tidak selalu perlu kebijakan pengetatan yang baru, cukup dengan membuat pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga.

Dan itulah yang terjadi setelah pertemuan bulan Maret oleh Federal Open Market Committee, ketika hasil pertemuan tersebut dipersepsikan kurang dovish dari yang diharapkan pasar.

Di pasar tenaga kerja, The Fed masih berada di jalur yang berhati-hati. Dengan proyeksi tingkat pengangguran di 4,4% dan ekonomi yang belum pada fase resesi, Powell memiliki ruang untuk menunggu. Namun penentu utamanya adalah jika lapangan kerja dan upah melambat tanpa memicu inflasi maka ruang penurunan suku bunga akan kembali terbuka. Sebaliknya, jika pasar tenaga kerja tetap kuat dan tekanan harga masih bertahan maka jeda kebijakan akan berlangsung lebih lama.

Sederhananya, di tahun 2026 dolar menunjukkan bagaimana pasar telah memperhitungkan ekspektasi suku bunga. Tetapi pasar tenaga kerja yang akan menentukan seberapa besar ruang bagi The Fed mengubah arah kebijakannya. Dan dengan jadwal pertemuan The Fed April 2026, fokus pasar bukan pada langkah langsung melainkan memahami apakah pertemuan Maret ini hanya bentuk kehati-hatian taktis atau sinyal awal The Fed akan dipaksa bertahan dalam posisi menunggu yang lebih lama.

👉🏻 Bullish dan Bearish: Apa Perbedaannya?

Jadwal Meeting The Fed & Pengumuman Suku Bunga

Federal Reserve (The Fed) adalah bank sentral Amerika Serikat, salah satu bank sentral paling berpengaruh di dunia. Banyak negara yang menunggu hasil rapat The Fed, termasuk Indonesia. Kebijakan The Fed tidak hanya memengaruhi kinerja pasar (saham, mata uang, indeks), tapi juga arah perekonomian secara menyeluruh.

Kapan Pengumuman Hasil Rapat The Fed 2026?

Dalam setahun, The Fed mengadakan pertemuan sebanyak delapan kali dalam setahun dengan jarak sekitar 40 hari antar pertemuan. The Fed mengumumkan jadwal ini jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga kita sudah dapat mengetahui dan memantau agenda pertemuan sepanjang tahun 2026. Berikut jadwalnya:

  • 27-28 Januari 2026
  • 17-18 Maret 2026
  • 28-29 April 2026
  • 16-17 Juni 2026
  • 28-29 Juli 2026
  • 15-16 September 2026
  • 27-28 Oktober 2026
  • 8-9 Desember 2026

Jika Anda tertarik pada kebijakan bank sentral, Anda juga bisa mengunjungi artikel pertemuan berikutnya dari ECB.

👉🏻 Christine Lagarde, Begini Profil Presiden ECB

Konsep Penting dalam FOMC

Ketika kita berbicara tentang Federal Reserve (Fed), untuk memahami semua yang terjadi dalam pertemuannya, kita harus mengenal empat konsep:

  • FOMC: merupakan kepanjangan dari Federal Open Market Committee yaitu Komite Pasar Terbuka Federal dari Federal Reserve. FOMC terdiri dari 12 anggota. Bertanggung jawab atas strategi kebijakan moneter untuk mencapai tujuan. Bertemu 8 kali dalam setahun, sekitar setiap 6 minggu, di Washington. Biasanya, dari 8 kali pertemuan dalam setahun, setengahnya kemudian menawarkan konferensi pers.
  • Notulen The Fed: merangkum secara detail semua topik yang telah FOMC bahas dalam pertemuannya. Publikasi notulen terjadi 3 minggu setelah setiap pertemuan FOMC dan menunjukkan pendapat semua anggota yang telah berpartisipasi dalam pertemuan.
  • Beige Book: adalah kumpulan data yang FOMC gunakan dalam pertemuannya untuk mengambil keputusan. Penerbitannya terjadi sekitar 2 minggu sebelum pertemuan FOMC.
  • Dot plot: adalah grafik yang menampilkan serangkaian titik. Mereka mempublikasikan secara gratis setelah setiap pertemuan Federal Reserve dan mencerminkan apa yang dipikirkan setiap anggota tentang apakah suku bunga akan naik atau turun dalam sisa bulan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, dan sejauh mana. Berasal pada akhir 2011 dengan Ben Bernanke sebagai presiden Bank.

Selama pertemuan The Fed, anggota FOMC akan membahas kinerja ekonomi nasional dan global. Termasuk melihat kembali indikator-indikator ekonomi seperti tingkat inflasi, tingkat pengangguran dan kondisi PDB untuk mencapai ekonomi yang sehat.

Kemudian, agenda utama pertemuan The Fed adalah mendiskusikan dan menentukan kebijakan moneter hawkish atau dovish. Ini termasuk membahas suku bunga (baik peningkatan, penurunan maupun mempertahankan) berdasarkan prospek perekonomian. Tujuannya adalah mencapai lapangan pekerjaan yang maksimal, kestabilan inflasi dan tingkat suku bunga jangka panjang yang moderat.

Memahami tindakan ini akan memberikan konteks berharga untuk menafsirkan tindakan The Fed dan dampaknya pada perekonomian serta pasar keuangan.

👉🏻 Berbicara soal Donald Trump, kami akan menyarankan artikel: Trump Trade: 5 Saham AS yang Menarik Imbas Kemenangan Donald Trump

👉🏻 Apa itu Quantitative Easing dan Dampaknya di Pasar?

Apa dampak pertemuan The Fed terhadap pasar?

The Fed lembaga yang sangat penting untuk kesehatan ekonomi Amerika Serikat dan memiliki dampak signifikan pada pasar keuangan global. Pertemuan FOMC adalah saat The Fed menentukan kebijakan moneter, terutama sehubungan dengan suku bunga, dapat memiliki dampak yang relevan pada pasar keuangan.

Apa yang terjadi ketika ada kenaikan suku bunga?

Ketika The Fed memilih untuk meningkatkan suku bunga, atau kebijakan lain yang tujuannya untuk mengurangi likuiditas dalam sistem, dalam konteks menahan tingkat harga, ini mengakibatkan perlambatan ekonomi.

Kenaikan suku bunga, sebenarnya, menghambat pinjaman, membuatnya lebih "mahal". Pada gilirannya, memiliki efek negatif pada permintaan agregat dan tingkat konsumsi.

Hubungan antara suku bunga The Fed dan SP500

Penurunan likuiditas juga mempengaruhi pasar saham. Likuiditas yang ketat menunjukkan sumber daya yang lebih sedikit untuk investasi. Oleh karena itu, pada umumnya, peningkatan suku bunga terkait dengan penurunan nilai saham.

Namun, dalam beberapa kasus, pasar mungkin sudah "memperhitungkan" efek kenaikan tersebut ketika The Fed telah mengumumkan niat kebijakan moneternya sebelum keputusan resmi. Dalam kasus ini, efeknya di pasar mungkin lebih moderat.

Di masa ketidakpastian, seperti yang terjadi setelah kenaikan suku bunga, berinvestasi dalam saham defensif bisa menjadi strategi yang sangat baik. Juga aset safe haven, yang menunjukkan korelasi rendah dengan siklus ekonomi, seperti berinvestasi dalam emas, bisa menjadi strategi investasi yang baik.

Apa yang terjadi ketika ada penurunan suku bunga?

Konsekuensi utama dari penurunan suku bunga meliputi:

  • Stimulasi Ekonomi: Penurunan suku bunga membuat pinjaman menjadi lebih murah. Ini dapat mendorong baik perusahaan maupun konsumen untuk mengambil lebih banyak pinjaman untuk investasi atau konsumsi, masing-masing.
  • Peningkatan Konsumsi: Dengan lebih murahnya berhutang, konsumen mungkin merasa lebih cenderung untuk melakukan pembelian besar, seperti rumah atau mobil, yang pada gilirannya dapat mendorong permintaan agregat dalam ekonomi.
  • Dampak pada Pasar Saham: Penurunan suku bunga dapat memiliki efek positif pada pasar saham. Dengan menurunkan biaya pembiayaan dan meningkatkan konsumsi dan investasi, perusahaan dapat melihat peningkatan dalam harapan keuntungan mereka, yang biasanya tercermin dalam peningkatan harga saham.
  • Depresiasi Mata Uang: Dalam beberapa kasus, penurunan suku bunga dapat menyebabkan depresiasi mata uang nasional terhadap mata uang lain, karena investor akan mencari pengembalian yang lebih tinggi di pasar lain, menjual mata uang lokal dalam prosesnya.
  • Risiko Inflasi: Meskipun penurunan suku bunga bertujuan untuk merangsang ekonomi, efek samping yang mungkin adalah peningkatan inflasi. Ketika konsumsi dan investasi meningkat, harga dapat mulai naik, terutama jika penawaran tidak dapat memenuhi peningkatan permintaan.

Intinya, ini adalah kalender pertemuan FED berikutnya, agar Anda tidak melewatkan satupun dari mereka, dan dengan cara ini Anda dapat bereaksi di pasar, sesuai dengan petunjuk dari Federal Reserve, apakah ekspansif atau kontraktif.

Bagaimana dampak kebijakan suku bunga AS pada perekonomian Indonesia?

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang atau juga alias emerging market yang juga akan merasakan dampak dari setiap keputusan Bank Sentral AS. Tujuan BI memperhatikan kebijakan The Fed adalah untuk menahan lajur arus modal asing keluar dan berupaya menarik arus modal asing masuk.

Sebab perkembangan ekonomi global ini mendorong berlanjutnya penguatan dolar AS secara global, lebih terbatasnya aliran masuk modal asing, dan meningkatnya tekanan pelemahan nilai tukar di negara emerging market. Kondisi tersebut memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global tersebut, termasuk di Indonesia.

Pertanyaan yang sering diajukan tentang FOMC