Saham

BEI kembali melakukan trading halt pada 28 Januari 2026 setelah IHSG anjlok 8% pada sesi perdagangan kedua. Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memberlakukan trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam pada 18 Maret 2025 dan 8 April 2025.
Trading halt IHSG juga pernah terjadi saat indonesia terdampak pandemi Covid-19 karena volatilitas pasar yang tinggi. Sehingga, BEI mengambil langkah serupa untuk menjaga stabilitas perdagangan.
Dalam artikel ini, kami akan membahas apa itu trading halt IHSG? Kemudian, kami juga akan membahas cara kerja penghentian sementara ini dan bagaimana dampaknya. Yuk, simak untuk tahu lebih jelas!
👉 Cara Investasi Saham untuk Pemula, Ini Tipsnya!
Trading Halt adalah kebijakan yang dapat Bursa Efek Indonesia ambil untuk menghentikan sementara aktivitas perdagangan karena IHSG mengalami penurunan tajam dalam waktu yang singkat. Kebijakan trading halt IHSG bertujuan untuk memberikan waktu pagi para pelaku pasar untuk merespons kondisi pasar secara lebih rasional sehingga mengurangi kepanikan yang terjadi.
Berdasarkan surat Nomor Kep-00003/BEI/04-2025, berikut beberapa aturan mengenai penghentian perdagangan. Dalam aturan ini kita akan mengetahui aturan berapa lama trading halt dilaksanakan oleh BEI.
Jadi, berapa lama trading halt IHSG? Jika IHSG anjlok 8% maka IDX trading halt akan berlangsung 30 menit. Jika setelah dibuka kembali IHSG anjlok hingga 15% maka BEI akan melakukan trading halt IHSG kedua selama 30 menit. Apabila IHSG anjlok lagi 20% setelah dua kali trading halt maka IDX trading halt langsung diubah menjaid kebijakan suspend IHSG dan perdagangan dihentikan sepanjang sisa hari bursa tersebut.
Ketiga langkah ini berguna untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah tekanan jual yang terjadi secara berlebihan.
Bersamaan dengan aturan tersebut, BEI juga mengeluarkan aturan batasan Auto Rejection Bawah menjadi 15% bagi efek berupa saham pada papan utama, papan pengembang dan papan ekonomi baru, ETF dan DIRE pada seluruh rentang harga.
Arti trading halt adalah kebijakan dari Bursa Efek Indonesia untuk menghentikan perdagangan saham. Sehingga, ketika hal tersebut terjadi tidak ada investor yang dapat membeli atau menjual saham. Tujuannya adalah memberikan waktu kepada para pelaku pasar untuk melakukan analisis situasi yang dapat berpengaruh pada harga saham.
Berikut merupakan cara kerja dari trading halt adalah:
Untuk status open order yang belum tereksekusi sebelum pemberlakuan penghentian sementara, pesanan tersebut tetap berada dalam sistem perdagangan. Kemudian, saat perdagangan berlanjut, pesanan ini masih berlaku dan dapat tereksekusi sesuai dengan harga dan kondisi pasar.
Hal tersebut berbeda ketika terjadi trading suspend saat perdagangan terhenti lebih lama. Semua open order secara otomatis akan terhapus dari sistem. Sehingga, mereka harus memasukkan ulang pesanan mereka setelah perdagangan dibuka kembali.
Dengan begitu, kita tidak dapat mengatakan bahwa trading halt adalah bukanlah sesuatu yang buruk. Ini karena kebijakan tersebut memiliki tujuan meminimalisir risiko kerugian bagi para investor saham. Namun kondisi yang menyebabkan suatu saham atau indeks turun tajamlah yang perlu investor cermati.
Dengan adanya mekanisme ini, BEI berusaha untuk menjaga stabilitas pasar dan menghindari tekanan jual berlebihan yang dapat membuat kondisi pasar semakin buruk.
👉 Bank Indonesia: Suku Bunga BI Rate Maret 2025 Tetap 5,75%
Sebelumnya kita telah membahas aturan dan bagaimana cara kerjanya. Namun mungkin secara teknis akan lebih mudah dipahami dengan cara berikut:
| Batas trading halt pada satu hari perdagangan | Berapa lama trading halt IHSG | ||
| penurunan 8% | 30 menit | ||
| penurunan lanjutan 15% | 30 menit | ||
| penurunan lanjutan 20% | suspensi. BEI menghentikan perdagangan di sisa hari tersebut |
| Batas trading halt pada satu hari perdagangan | Berapa lama trading halt IHSG |
| penurunan 8% | 30 menit |
| penurunan lanjutan 15% | 30 menit |
| penurunan lanjutan 20% | suspensi. BEI menghentikan perdagangan di sisa hari tersebut |
Selanjutnya, kita akan melihat dampak dari kebijakan ini.
Ketika mekanisme ini terjadi, seluruh kegiatan jual beli saham akan terhenti sementara. Sehingga, tidak ada transaksi yang bisa investor lakukan di pasar. Namun, hal ini memberikan beberapa dampak bagi para investor.
Berikut dampak yang muncul dari penghentian sementara bagi para investor:
Penghentian sementara perdagangan tersebut dapat menjadi momen penting untuk menenangkan diri. Sehingga, para investor dapat menganalisis situasi dan menghindari pengambilan keputusan yang salah karena panik.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, banyak investor yang bereaksi dengan melakukan penjualan besar-besaran tanpa melakukan anlisis mendalam. Dengan trading halt adalah investor memiliki kesempatan untuk meninjau kembali kondisi pasar, menganalisis beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham, serta melakukan pengambilan keputusan dengan lebih bijak.
Penurunan harga saham yang tajam membuat banyak investor panik sehingga menjual saham mereka saat harganya sedang rendah. Mekanisme ini membantu mengurangi aksi panic selling sehingga mencegah harga saham turun lebih tajam.
Mekanisme trading halt adalah dapat membantu mengurangi volatilitas ekstrem yang terjadi di pasar. Kemudian, hal tersebut juga dapat memberikan waktu bagi otoritas untuk mengkaji langkah-langkah yang mereka butuhkan untuk menjaga stabilitas perdagangan.
Meskipun memiliki tujuan yang baik, trading halt dapat menimbulkan ketidakpastian bagi para investor. Ini karena mekanisme tersebut terkadang menimbulkan keraguan untuk mulai berinvestasi. Mereka bisa saja berasumsi bahwa hal yang sama dapat terjadi di masa yang akan datang.
👉 Ini Risiko Investasi Saham yang Mungkin Anda Temui!
Pada akhir tahun 2025, IHSG menunjukkan tren positif yang kuat dengan kenaikan 22% sepanjang 2025. IHSG bahkan mencatatkan rekor all-time high di level 9.174 poin pada 20 Januari 2026.
Namun, memasuki akhir bulan, tekanan mulai meningkat karena adanya beberapa sentimen global maupun domestik. Sehingga, memicu aksi jual investor dan volatilitas nilai tukar Rupiah.
Puncaknya, tanggal 28 Januari 2026 BEI kembali memberlakukan trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan anjlok 8% ke level 8.261,78. IHSG ditutup pada nilai 8.320,556 poin dengan net sell asing mencapai Rp 6 triliun.

Apa saja penyebab BEI memberlakukan trading halt Januari 2026? Mari kita lihat penjelasannya!
Nilai IHSG anjlok dipicu Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang secara resmi memberlakukan perlakuan sementara terhadap pasar saham Indonesia. MSCI memperingatkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK tentang investability issues yang ada di pasar modal Indonesia, terutama terkait kekhawatiran mereka soal transparansi free float dan kepemilikan saham.
Sehingga, mereka akan menunda penyesuaian indeks dan memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika regulator tidak segera menyelesaikan permasalahan ini.
Penurunan peringkat ke frontier market ini dapat menimbulkan risiko krusial, yaitu keluarnya dana asing secara besar-besaran. Ini karena banyak investor institusional global hanya bisa berinvestasi di pasar dengan status emerging market.
Hal ini juga dapat menimbulkan dampak lain seperti likuiditas IHSG yang turun tajam, peningkatan volatilitas, dan tekanan pada saham-saham besar akibat berkurangnya basis investor global. Kemudian, ada potensi kenaikan biaya pendanaan emiten karena persepsi risiko pasar memburuk di mata investor internasional.
Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, berpendapat bahwa MSCI menganggap pasar saham Indonesia kurang transparan dan banyak saham gorengan. Ia juga menilai bahwa masih ada waktu untuk melakukan perbaikan hingga bulan Mei. Respons cepat juga sudah dilakukan Purbaya melalui koordinasi dengan OJK untuk membereskan permasalahan tersebut.
Selain sentimen MSCI, isu politik-ekonomi domestik turut menjadi pemicu yang memperburuk kepercayaan pasar pada akhir Januari. Pasalnya, pada 27 Januari 2026, DPR RI resmi menyetujui pengangkat Thomas Djiwandono (keponakan Presiden Prabowo Subianto) sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Pengangkatan ini meningkatkan kekhawatiran para pelaku pasar karena mengancam independensi bank sentral. Meskipun tidak berdampak langsung pada IHSG yang anjlok, beberapa analis melihat hal ini berpotensi memengaruhi stabilitas kebijakan moneter dan membuat tingkat kepercayaan investor asing menurun.
Trading halt Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan peristiwa yang jarang terjadi karena hanya diberlakukan ketika IHSG mengalami penurunan tajam dalam waktu singkat. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah adanya panic sell investor.
Dalam 10 tahun terakhir, ada beberapa periode penting ketika BEI melakukan trading halt, yang dipicu oleh kondisi global maupun tekanan jual yang kuat dari pasar domestik. Berikut penjelasannya:
Dalam periode 10 tahun terakhir, trading halt pertama terjadi pada Maret 2020, saat Covid-19 mulai berdampak besar terhadap pasar keuangan global. Bahkan, IHSG sudah menunjukkan tren pelemahan sejak awal 2020 sebelum pengumuman resmi penghentian sementara.
Saat itu, IHSG turun dari level 6.300 ke level 5.900 di akhir Januari. Kemudian, nilainya kembali terkoreksi ke area 5.400 poin di akhir Februari. Tekanan memuncak pada pertengahan Maret 2020, ketika IHSG anjlok 6,58% dalam satu hari.
Namun, pasar saham berangsur pulih setelah mengalami fase volatilitas tinggi tersebut. Ini berkat dukungan penanganan pandemi dan kebijakan ekonomi yang membaik.
Selanjutnya, trading halt terjadi pada 18 Maret 2025 karena IHSG turun lebih dari 5% dalam satu sesi perdagangan. Bahkan indeks sempat menyentuh level terendah di 6.011,8 poin, atau melemah 7,1% jika kita bandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Penurunan ini akibat aksi jual investor asing pada saham-saham big caps, seperti saham perbankan serta saham konglomerasi lainnya. Menariknya, beberapa indeks Asia lainnya justru menguat. Sehingga, melemahnya IHSG pada saat itu mencerminkan kekhawatiran tertentu pada pasar saham Indonesia.
Trading halt kembali terjadi pada 8 April 2025, tepat saat pembukaan pasar setelah libur panjang Idul Fitri. IHSG langsung melemah 9,19% saat pembukaan sehingga BEI harus menghentikan perdagangan sementara selama 30 menit.
Tekanan ini akibat sentimen global, khususnya reaksi pasar terhadap kebijakan tarif timbal balik AS. Saham perbankan seperti BBCA dan BBRI menjadi salah satu pemberat utama yang membuat IHSG ditutup melemah 8% meskipun beberapa indeks utama Asia mengalami rebound pada hari yang sama. Bagi investor jangka panjang, fase koreksi tajam seperti ini dapat menjadi momentum untuk mencermati peluang investasi secara lebih selektif.
👉 Ini Rekomendasi Saham Terbaik di Indonesia 2025
Selanjutnya, sejumlah analis juga mengidentifikasi beberapa faktor yang memicu kekhawatiran investor asing sehingga menarik dananya. Berikut beberapa hal yang perlu kita cermati:
Beberapa faktor yang telah kami sebutkan di atas menambah kekhawatiran investor asing terhadap stabilitas perekonomian indonesia. Sehingga, pada akhirnya mereka melepas saham-saham yang kemudian memicu penurunan tajam IHSG dan pemberlakuan trading halt oleh BEI.
👉 Mana Investasi yang Lebih Untung, Emas vs SBN? Temukan jawabannya dalam artikel tersebut!
Ketika berada pada kondisi tersebut, perdagangan saham akan berhenti sementara sehingga pasar menjadi lebih tenang dan mencegah terjadinya aksi jual yang berlebih akibat panic selling. Penghentian sementara ini dapat memberikan waktu bagi investor untuk meninjau kembali keputusan investasi mereka, melakukan analisis ulang, dan mempertimbangkan faktor fundamental maupun teknikal sebelum kembali melakukan transaksi.
Berikut penjelasan dari beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan saat terjadi trading halt adalah:
👉 Strategi Triangle Pattern untuk Analisis Market
Beberapa analis memberikan pernyataan bahwa penurunan signifikan pada IHSG dapat menjadi peluang baik untuk membeli saham berkualitas dengan harga diskon. Namun, kapan IHSG akan rebound?
Ini semua tergantung pada beberapa faktor seperti kebijakan ekonomi pemerintah, kondisi pasar global, dan sentimen dari para investor. Rebound tersebut dapat terjadi dalam hitungan hari, minggu, bahkan bisa lebih lama tergantung pada pemulihan ekonomi secara menyeluruh.
Oleh karena itu, Anda perlu tetap waspada, disiplin dalam menjalankan strategi investasi, serta tidak mengambil keputusan secara terburu-buru.
👉 Pelajari juga Pengaruh Kebijakan Moneter pada Pasar Keuangan