Risiko Investasi di Bursa Saham

Berinvestasi di pasar saham selalu berhubungan dengan sejumlah risiko yang perlu menjadi perhatian sebelum Anda memutuskan untuk membeli saham. Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan apa itu risiko investasi dan beberapa jenis risiko umumnya, seperti risiko pasar, risiko mata uang, dan risiko likuiditas. Apa risiko yang akan Anda hadapi ketika Anda memutuskan untuk berinvestasi di bursa saham?

Apa Saja Jenis Risiko Investasi di Pasar Saham?

Risiko investasi adalah kemungkinan terjadinya kerugian atau ketidakpastian dalam hasil investasi. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, tiap investor punya profil risiko investasi yang berbeda-beda sehingga menentukan tingkat kesiapan dalam menghadapi risiko. Risiko ini adalah hal yang tak terhindarkan.

Risiko investasi
Sumber: Bhuana Jaya

Berinvestasi di pasar keuangan memiliki beberapa jenis risiko, seperti:

  • Risiko pasar/sistematis
  • Risiko likuiditas
  • Risiko nonsistematis
  • Risiko operasional
  • Risiko lawan transaksi
  • Risiko mata uang
  • Risiko legislatif
  • Risiko harga
  • Risiko inflasi
  • Risiko suku bunga

Risiko Pasar/Sistematis

Risiko pasar adalah kemungkinan terjadinya perubahan harga pada produk keuangan, seperti saham atau obligasi. Ini berarti Anda bisa kehilangan sebagian dari nilai investasi, contohnya pada saham perusahaan saat pasar turun. Risiko ini terpengaruh oleh faktor fluktuasi pasar, volatilitas, dan siklus ekonomi. Ini adalah risiko yang umum dan memengaruhi semua jenis investasi, termasuk obligasi, reksa dana, dan saham.

Untuk mengurangi risiko investasi saham, penting untuk melakukan diversifikasi pada portofolio investasi Anda. Dengan cara ini, meskipun nilai beberapa saham atau aset turun, Anda tidak akan kehilangan seluruh nilai portofolio Anda karena keuntungan dari aset lain yang nilainya sedang naik bisa menutupi kerugian yang lain.

Risiko Likuiditas

Ada risiko ketika Anda ingin menjual atau mencairkan investasi pada nilai tertentu. Ini bisa terjadi karena pada saat itu mungkin tidak ada pembeli untuk investasi tersebut, dan pasar yang tidak likuid bisa membuat kita menjual dengan harga yang lebih rendah. Oleh karena itu, dalam berinvestasi, penting untuk mempertimbangkan kapitalisasi perusahaan. Investasi di perusahaan besar memiliki risiko likuiditas yang lebih rendah daripada investasi di perusahaan kecil. Selain itu, perhatikan juga spread harga perusahaan, yang mencerminkan tingkat likuiditasnya.

Risiko Nonsistematis

Kami memahami risiko nonsistematis sebagai risiko khusus yang melekat pada setiap perusahaan. Risiko ini muncul dari faktor-faktor spesifik yang unik pada masing-masing perusahaan. Risiko semacam ini hanya memengaruhi perusahaan itu sendiri, tidak mempengaruhi pasar secara keseluruhan. Diversifikasi investasi yang tepat, yaitu dengan menyebar investasi ke berbagai aset atau perusahaan dapat mengurangi jenis risiko ini. Diversifikasi yang baik dapat membantu mengurangi atau mengendalikan risiko tersebut sehingga mencapai portofolio investasi yang optimal.

Untuk menghindari risiko tersebut, sebaiknya Anda melakukan analisis mendalam terhadap perusahaan sebelum melakukan investasi. Penting untuk mengevaluasi perusahaan secara komprehensif, termasuk perbandingan dengan pesaing, industri, dan kondisi pasar secara keseluruhan.

Risiko Operasional

Ini adalah risiko yang mencakup semua kerugian keuangan yang mungkin terjadi di perusahaan. Penyebabnya bisa kegagalan atau kekurangan yang mungkin terjadi dalam proses, SDM, teknologi, sistem internal, dan sebagainya.

Jenis risiko ini tidak memperhitungkan kerugian yang timbul akibat perubahan dalam lingkungan politik, ekonomi, dan sosial, karena faktor-faktor ini bersifat eksternal terhadap perusahaan itu sendiri. Contoh dari risiko operasional bisa berupa flash crash karena kesalahan manusia atau algoritma komputer (HFT).

Untuk mengatasi risiko ini, kita dapat memeriksa langkah-langkah preventif dari perusahaan untuk mengendalikan dan mencegah masalah operasional yang dapat mempengaruhi fungsi bisnis mereka secara efektif.

Risiko Lawan Transaksi

Risiko ini timbul ketika satu pihak memenuhi kewajibannya dalam transaksi jual beli sedangkan pihak lainnya tidak melakukan hal yang sama secara bersamaan. Anda bisa mengabaikan risiko ini ketika transaksi terjadi di pasar yang terorganisir. Dalam konteks derivatif, risiko ini bisa dihindari dengan adanya kamar kliring (clearing house), tetapi penerapannya tidaklah mudah karena kompleksitas dari proses penyelesaian transaksi di pasar saham, terutama di pasar OTC (over-the-counter) yang tidak terorganisir.

risiko investasi di bursa

Risiko Mata Uang

Risiko ini timbul ketika Anda menanamkan uang Anda dalam mata uang yang tidak sama dengan yang Anda miliki. Ketika Anda menukar jenis mata uang, Anda bisa mengalami fluktuasi atau penurunan nilai mata uang yang Anda gunakan dan mengalami kerugian sebagian dari nilai investasi Anda. Contohnya, jika Anda berinvestasi dalam saham Amerika dengan menggunakan dolar, Anda akan mendapat keuntungan jika nilai euro naik terhadap dolar. Sebaliknya, jika Anda ingin menjual saham Anda, Anda bisa mengalami kerugian jika nilai euro menurun terhadap dolar.

Risiko ini menjadi lebih tinggi terutama saat Anda berinvestasi di pasar yang bukan merupakan pasar utama di dunia. Sebagai contoh, jika Anda menanamkan modal di perusahaan Argentina atau di negara mana pun yang mata uangnya tidak stabil. Kemungkinan besar saat terjadi penurunan nilai mata uang, nilai investasi Anda akan menurun dalam nilai Euro, karena nilainya dalam mata uang negara tersebut yang memiliki nilai tukar yang lebih rendah daripada Euro.

Risiko Legislatif

Jenis risiko ini tidak bergantung langsung pada pergerakan pasar, melainkan terkait dengan kemampuan badan legislatif untuk mengubah atau membuat undang-undang yang dapat mempengaruhi sektor atau pasar secara keseluruhan. Penting untuk selalu mempertimbangkan kemungkinan penundaan dalam proses hukum sebelum melakukan investasi. Alasannya karena implementasi undang-undang tertunda tersebut bisa berdampak negatif pada nilai investasi Anda.

Risiko ini lebih besar terjadi di negara-negara berkembang, di mana kestabilan hukum sering kali tidak terjamin, dan peraturan dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hal ini dapat mengubah dinamika pasar secara tiba-tiba, menyebabkan penurunan nilai atau likuiditas investasi secara mendadak.

Risiko Harga

Salah satu hal yang umumnya membuat para investor khawatir adalah kemungkinan turunnya harga investasi, yang bisa menyebabkan nilai investasi mereka berkurang. Terutama, harga investasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memengaruhi permintaan dan penawaran.

Yang kedua adalah risiko perubahan harga saham perusahaan atau instrumen keuangan lainnya terjadi setiap hari di pasar global. Berbagai variabel dapat membuat harga naik atau turun, serta rentan terhadap risiko lainnya.

Risiko Inflasi

Salah satu risiko yang sangat diperhatikan oleh para investor adalah ketika inflasi melebihi pengembalian investasi yang diperoleh. Akibatnya, nilai uang yang diinvestasikan akan menurun dan kita akan mengalami pengembalian yang lebih rendah dalam nilai sebenarnya. Artinya, inflasi akan menggerus keuntungan dari investasi, meskipun secara sejarah, saham telah berhasil melewati tingkat inflasi.

Untuk mengevaluasi risiko ini, penting untuk menghitung tingkat pengembalian sebenarnya dari investasi. Ini mengukur pengembalian sesungguhnya dari investasi dengan mempertimbangkan penghasilan nominal dan mengurangi penurunan daya beli karena inflasi. Pengembalian ini bisa positif atau negatif, menandakan keuntungan atau kerugian yang mungkin terjadi.

Rumus untuk menghitung tingkat pengembalian sesungguhnya adalah sebagai berikut:

inflasi risiko

Dimana:

  • r = tingkat pengembalian real
  • i = pengembalian nominal
  • g = tingkat inflasi

Risiko Bunga

Perubahan suku bunga dapat memengaruhi seberapa sensitif investasi Anda terhadap perubahan pasar. Risiko ini sangat mempengaruhi investasi dengan pendapatan tetap, seperti obligasi dan saham preferen. Namun, perusahaan yang berhutang juga terpengaruh karena fluktuasi suku bunga dapat mengubah jumlah pembayaran yang harus mereka lakukan.

Cara Meminimalkan Risiko Investasi

Berikut ini, kami akan menjelaskan cara meminimalkan setiap risiko yang dijelaskan:

RisikoCara meminimalkannya
Risiko pasarDengan portofolio yang beragam
Risiko likuiditasMelihat pada kapitalisasi perusahaan
Risiko non-sistematisMempelajari perusahaan sebelum berinvestasi
Risiko mata uangMempelajari perubahan mata uang sebelum melakukan pembelian atau penjualan
Risiko legislatifMenjaga agar tetap update dengan perkembangan hukum di negara tersebut
Risiko hargaMempelajari penawaran dan permintaan untuk nilai tersebut
Risiko inflasiMelakukan pemantauan pada portofolio Anda dan prospek jangka pendek dan panjang
Risiko suku bungaMenjaga kewaspadaan terhadap perubahan potensial dalam suku bunga
Risiko operasionalMemperhatikan langkah-langkah pencegahan yang diterapkan oleh perusahaan
Risiko pihak lawanPada derivatif, dihindari dengan clearing house

Untuk segala risiko tersebut, kita perlu mempertimbangkan risiko lain yang jarang terjadi, seperti serangan teroris, bencana alam, konflik militer, serta peristiwa-peristiwa tak terduga lainnya yang bisa memengaruhi nilai saham. Sebagai contohnya adalah pandemi COVID-19 yang terjadi pada tahun 2020.

FAQs – Pertanyaan Yang Sering Diajukan

Bagaimana ragam profil risiko dalam investasi?

Berbagai jenis risiko dalam investasi dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, termasuk risiko konservatif, risiko moderat, risiko agresif, dan risiko sangat konservatif.

Mengapa seseorang yang ingin berinvestasi harus memikirkan tentang risiko?

Ketika berinvestasi, risiko selalu menjadi bagian dari perhitungan kita. Meskipun ada risiko, tapi juga ada kesempatan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Semakin besar risikonya, semakin besar juga potensi keuntungan yang bisa kita dapatkan. Sebaliknya, investasi dengan risiko rendah biasanya memberikan keuntungan yang lebih kecil.

Apa saja kemungkinan risiko yang harus dihadapi dalam investasi saham?

Investasi saham memiliki risiko kebangkrutan, yang terjadi jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya, seperti membayar utang dan bunga pinjaman. Penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti kinerja keuangan yang buruk, utang yang berlebihan, atau persaingan bisnis yang sengit.

Artikel Terkait