EV/EBITDA, Apa Itu?

EV/EBITDA adalah hasil dari membagi nilai perusahaan dengan EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation and Amortization). Ini adalah metode menilai valuasi suatu saham.

memahami EV/EBITDA

Apa itu EV/EBITDA?

EBITDA adalah perkiraan laba berulang perusahaan, sedangkan EV (Enterprise Value) mengukur nilai total perusahaan. Ini adalah rasio untuk menilai suatu saham perusahaan mahal atau murah berdasarkan kemampuan menghasilkan laba usaha.

👉 Berbicara mengenai valuasi saham, Anda juga sebaiknya memahami konsep Earning per Share sebelum terjun membeli saham.

Rumus EV/EBITDA

Untuk mengetahui valuasi saham mahal atau murah berdasarkan EV/EBITDA, pertama-tama Anda harus tahu EV. Berikut rumusnya:

  • EV = Kapitalisasi pasar + Utang bersih
  • Kapitalisasi pasar= Jumlah saham x harga saham
  • Hutang Keuangan neto= Jumlah utang – kas dan setara kas + investasi keuangan saat ini

Kemudian Anda harus mengetahui angka EBITDA yaitu pendapatan kotor sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi. Sehingga rumus EBITDA:

  • EBITDA = Laba bersih + Bunga + Pajak + Depresiasi + Amortisasi

Berapa rasio EV/EBITDA yang ideal?

Rasio EV/EBITDA normal dianggap antara 6 dan 9 (data ini berbeda-beda tergantung sumber). Berbeda dengan PER, ada lebih banyak variasi antara perusahaan dan sektor sebelum menentukan valuasi saham. Namun, seperti halnya dengan multiplikator lainnya, perlu diperhatikan rata-rata EV/EBITDA dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan hasil rasio yang rendah, sinyalnya adalah saham perusahaan mungkin murah. Jika nilai rasio EV/EBITDA tinggi, interpretasinya adalah saham tersebut mungkin mahal.

Penting juga untuk menekankan bahwa yang penting bukan hanya melihat rasio, tetapi menganalisis apakah perusahaan telah mampu menghasilkan keuntungan sepanjang waktu.

Namun kondisi bisnis yang sedang dialami perusahaan juga berpengaruh. Jika bisnis dalam kondisi harapan pertumbuhan tinggi, harga sahamnya akan tinggi, begitu juga EV-nya. Akibatnya, rasio cenderung tinggi. Sebaliknya terjadi pada perusahaan yang sudah mapan dengan pertumbuhan rendah.

👉 Selain mencari nilai EV/EBITDA untuk menentukan pilihan investasi pada saham apa, pentin juga mempeajari manajemen keuangan demi sukses finansial. Pelajari juga: Manajemen Keuangan yang Efektif: Strategi Praktis untuk Sukses Finansial

Apa beda EV/EBITDA dengan PER?

EV/EBITDA memiliki interpretasi yang sangat mirip dengan Price Earning Ratio (PER). Dalam hal ini, EV/EBITDA menghubungkan nilai total perusahaan dengan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba berulang (recurring income). Sementara itu PER adalah melihat saham murah atau mahal berdasarkan perolehan laba per saham.

Bisa juga dikatakan bahwa EV/EBITDA menunjukkan jumlah tahun yang dibutuhkan untuk membayar seluruh nilai perusahaan (saham + hutang) dengan laba berulang (EBITDA) yang dihasilkan jika tetap konstan.

Apa beda EBIT dengan EBITDA?

Menarik untuk melihat EV/EBIT dan membandingkannya dengan EV/EBITDA. Secara umum, EBIT adalah Earning Before Interest and Taxes. Artinya pendapatan yang diperoleh sebelum dikurangi bunga dan pajak.

Perbedaan antara EBIT dan EBITDA adalah, terutama, penyusutan dan amortisasi (pendekatan terhadap investasi untuk mempertahankan aktivitas produktif). Ini menunjukkan bahwa EBIT menunjukkan kinerja perusahaan tanpa biaya operasional.

Oleh karena itu, perbedaan yang sangat besar antara dua rasio menunjukkan kebutuhan investasi yang kuat untuk mempertahankan keuntungan. Jika EBIT memberitahu efektivitas perusahaan, EBITDA memberitahu kuat atau tidaknya kas yang dimiliki perusahaan.

Kelebihan dan Kekurangan EV/EBITDA

Di antara kelebihan EV/EBITDA, kita dapat menemukan:

  • Ini adalah rasio yang berguna untuk membandingkan dua perusahaan dalam sektor yang sama.
  • Dengan mempertimbangkan EBITDA, fokusnya adalah pada meningkatkan keuntungan bisnis itu sendiri. Jadi, faktor-faktor yang berada di luar kendali perusahaan, seperti tarif pajak, tidak dipertimbangkan.
  • Mempertimbangkan utang bersih (saat menghitung nilai perusahaan), meskipun EBITDA memang mengabaikan masalah struktur keuangan.
  • Relatif mudah dihitung
  • Berguna sebagai sinyal untuk investor ketika perusahaan mulai diperdagangkan di pasar saham.

Namun, kita harus mempertimbangkan beberapa kekurangan:

  • Data rasio itu sendiri mungkin tidak memberi tahu kita banyak hal soal kondisi perusahaan. Penting untuk membandingkannya dengan sektornya, dan dengan data sebelumnya dari perusahaan itu sendiri.
  • Rasio dapat turun atau naik karena berbagai alasan, bisa karena pembilang (nilai perusahaan) atau penyebut (EBITDA).
  • Dapat menunjukkan data yang lebih baik untuk perusahaan padat modal, sehingga menimbulkan bias. Ini karena perusahaan-perusahaan ini harus menutupi biaya amortisasi dan depresiasi yang lebih besar (yang berarti EBITDA yang relatif tinggi).
  • Selain amortisasi dan depresiasi, tidak mempertimbangkan biaya lain yang mungkin relevan, seperti biaya keuangan dan biaya luar biasa.
  • Rasio dapat berubah seiring waktu. EV/EBITDA yang rendah dapat meningkat jika bisnis mulai menghasilkan keuntungan lebih sedikit. Ingatlah bahwa, jika EBITDA (penyebut) turun, rasio meningkat.
  • Sebuah perusahaan dapat menunjukkan rasio yang rendah karena ekspektasi pertumbuhan yang tidak baik. Dengan kata lain, jika harga saham turun karena permintaan yang berkurang, nilai perusahaan (pembilang) juga menurun. Akibatnya, rasio menurun.

👉 Panduan Lengkap Analisis Fundamental untuk Investor Pemula

Contoh cara menghitung EV/EBITDA

Mari kita lihat contoh perhitungan EV/EBITDA. Misalkan kita memiliki data berikut:

  • Jumlah saham: 5.000
  • Harga saham: Rp 400
  • Utang keuangan: Rp 15.000.000
  • Kas dan setara kas: Rp 3.400.000
  • Laba bersih: Rp 2.700.000
  • Bunga: Rp 600.000
  • Penyusutan dan amortisasi: Rp 750.000
  • Tarif pajak: 25%

Pertama, kita hitung nilai perusahaan:

  • Utang keuangan neto= 15.000.000 – 3.400.000 = Rp 11.600.000
  • Kapitalisasi pasar= (jumlah saham * harga saham) = 5.000 x 400=Rp 2.000.000
  • EV = Kapitalisasi pasar + Utang keuangan neto = Rp 13.600.000

Sekarang, kita lanjutkan dengan EBITDA:

  • EBITDA = Laba bersih+bunga+amortisasi dan penyusutan+pajak

Namun karena pajak dinyatakan dalam persen, kita harus tahu laba sebelum pajak. Sehingga bisa menyusunnya seperti ini:

  • EBITDA = Laba sebelum pajak+bunga+amortisasi dan penyusutan
  • Laba bersih = Laba sebelum pajak * (1 – 0,25)
  • 2.700.000 = Laba sebelum pajak*0,75
  • Laba sebelum pajak = Rp 3.600.000
  • EBITDA = 3.600.000 + 600.000 + 750.000 = Rp 4.950.000

Dan sekarang kita bisa melangkah ke langkah terakhir:

  • EV/EBITDA= 13.600/4.950= 2,7474

Oleh karena itu, perusahaan tampaknya menunjukkan rasio EV/EBITDA yang rendah. Meskipun kita harus membandingkannya dengan historis dan perusahaan lain di sektor yang sama.

*Dalam contoh ini, kami mengasumsikan bahwa perusahaan tidak memiliki investasi keuangan saat ini.

Pelajari cara melihat kinerja fundamental perusahaan pada artikel yang telah kami buat dengan klik link yanng ada pada kalimat ini.

Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ)

Apakah EBITDA itu laba kotor?

EBITDA dan laba kotor bukanlah hal yang sama. Laba kotor adalah pendapatan yang dikurangi dengan biaya produksi atau biaya penyediaan layanan atau harga pokok produksi (HPP). Sedangkan EBITDA adalah laba yang ditambah dengan pajak, bunga, penyusutan dan amortisasi. Sehingga EBITDA bisa lebih memberikan data yang lengkap soal kinerja perusahaan.

Apakah EBIT sama dengan laba bersih?

EBIT tidak sama dengan laba bersih. Jika EBIT adalah laba sebelum bunga dan pajak, laba bersih adalah semua komponen pendapatan yang sudah dikurangi semua komponen biaya yang ada.

Artikel Terkait