Buyback Saham: Salah satu cara meperoleh keuntungan

Buyback saham menjadi salah satu cara perusahaan untuk memberikan imbalan kepada para pemegang saham. Terdapat dua cara yang paling populer untuk memberikan imbalan kepada pemegang saham. Pertama adalah dengan dividen, kemudian yang kedua adalah dengan cara buyback saham atau kita kenal sebagai pembelian saham kembali.

Buyback saham menjadi salah satu cara investor mendapatkan keuntungan

Mana yang lebih menguntungkan, buyback atau dividen? Pertanyaan ini menjadi perdebatan bagi para pemegang saham. Pada artikel ini, kami akan mencoba untuk menjawab pertanyaan ini, sehingga Anda mendapatkan gambaran yang jelas. Yuk, simak artikel ini untuk tahu lebih jelas!

Buyback Saham vs Dividen: Mana yang lebih menguntungkan?

Pada dasarnya, terdapat dua cara bagi perusahaan untuk membagikan keuntungan yang mereka peroleh kepada para pemegang saham. Berikut merupakan penjelasan kedua cara tersebut:

  • Dividen: Pembagian dividen merupakan cara yang paling umum sepanjang riwayat, baik dalam bentuk uang tunai atau dalam bentuk saham.
  • Buyback saham: Merupaan cara lain yang populer dalam beberapa dekade terakhir. Karena begitu populer, pada tahun 1998-2020, di Amerika Serikat, jumlah pembagian keuntungan secara buyback melebih jumlah pembagian keuntungan dengan dividen.

Saat ini, hal tersebut tidak hanya populer di AS saja, namun sudah merambah secara global. Saat ini beberapa peusahaan di Eropa dan Asia melakukan pembagian keuntungan dengan cara buyback, namun sesekali akan ada pembagian dividen. Kedua cara tersebut berkombinasi.

>>>>> Bagaimana Cara Menerima Dividen Bulanan?

>>>>> Recording Date Dividen dan Tanggal Penting Lainnya Untuk Dividen

Apa itu Dividen?

Secara singkat, dividen merupakan pembagian keuntungan perusahaan dalam bentuk uang tunai atau saham kepada para pemegang sahamnya. Pembagian keuntungan melalui dividen berdasarkan bagian kepimilikan saham yang investor miliki.

Pembayaran dividen terjadi secara berkala, biasanya secara triwulan, setiap setengah tahun, atau setahun sekali. Jumlah pembagian dividen ini bergantung pada kebijakan perusahaan dan kesepakatan dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

👉 10 Saham IHSG dengan Proyeksi Dividen Tertinggi Tahun 2024

Apa itu Buyback Saham?

Menurut Peter Lynch dalam bukunya ‘One Up on Wall Street’ mengatakan bahwa buyback saham adalah cara terbaik dan paling sederhana bagi sebuah perusahaan untuk memberikan imbalan kepada pemegang sahamnya.

Pembelian kembali saham adalah praktik bisnis di mana sebuah perusahaan membeli sahamnya sendiri yang sebelumnya telah terbit di pasar. Hal Ini berarti bahwa saham tersebut tidak lagi tersedia pada perdagangan pasar saham

Oleh karena perusahaan tidak dapat memiliki pemegang sahamnya sendiri, akan ada pembatalan saham hasil dari buyback atau tetap berdada pada neraca perusahaan (kita kenal sebagai saham treasury). Sehingga sejumlah saham tersebut tidak memiliki hak atas dividen dan akan kehilangan hak suaranya.

Sama seperti dividen, pengambilan keputusan untuk buyback terkait dengan jumlah dan jangka waktunya akan terjadi pada saat RUPS.

Setelah ada persetujuan untuk melakukan buyback, terdapat 5 cara untuk melakukannya. Berikut merupakan 5 cara perusahaan dalam melakukan buyback:

  • Penawaran dengan harga tetap
  • Penawaran dengan Dutch Auction
  • Buyback saham pada pasar terbuka
  • Memindahtangankan hak penjualan
  • Buyback saham yang terarah

Meskipun terdapat beberapa cara untuk buyback saham, 95% dari buyback yang telah terjadi, dilakukan pada pasar terbuka. Namun, untuk membeli saham tersebut pada pasar, mereka harus patuh terhadap regulasi yang ada. Regulasi ini menentukan limit dari volume harian maksimal dan membuat aturan untuk tidak menciptakan tren harga saham.

Efek dari Buyback Saham bagi Pemegang Saham

Efek dari buyback saham dapat memberikan keuntungan bagi investor dengan meningkatkan nilai saham yang tersisa dan menandakan kepercayaan perusahaan terhadap nilainya di masa depan. Hal ini juga dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan berpotensi untuk meningkatkan harga saham, serta menyediakan bagian yang lebih besar terhadap perusahaan bagi pemengang saham yang ada.

Berikut merupakan contoh konkret untuk memahami efek dari buyback pada pemegang saham:

Seseorang memiliki 100 lembar saham pada suatu perusahaan dengan 10.000 lembar saham yang beredar. Perusahan ini memperoleh keuntungan Rp 34 juta dan memutuskan untuk membagikan Rp 17 juta dalam bentuk dividen kepada semua pemegang saham, sehingga:

  • Tanpa buyback saham: Dengan 1.000 saham yang beredar, maka Earning Per Share (EPS).akan menjadi Rp 3.400 (Rp 34 juta dibagi dengan 10.000 saham) dan Divident Per Share (DPS) akan menjadi Rp 1.700 (Rp 17 juta dibagi dengan 10.000 saham). Jadi, pemengang saham dengan 100 saham akan mendapatkan Rp 170 ribu dalam bentuk dividen.
  • Dengan buyback kembeli sebanyak 3.000 saham: Setalah terjadi buyback, saham yang beredar akan menjadi lebih sedikit (7.000 lembar). Sehingga Earning Per Share akan menjadi Rp 4.857,14 dan DPS-nya akan menjadi Rp 2.428,57. Dengan begitu, pemegang saham yang memiliki 100 lembar saham akan mendapatkan Rp 242 ribu dalam bentuk dividen.

Dapat kita lihat bawha dengan buyback, pemegang saham dapat meningkatkan dividennya sebesar 70% dan bagian investasi pada perusahaan akan meningkat dari 1% menjadi 1,43%. Selain itu EPS-nya akan mengalami peningkatan sebesar 35%.

Namun, harus Anda ingat bahwa tidak semua yang berkilau adalah emas. Hal ini karena buyback dapat mengurangi likuiditas saham serta dapat menimbulkan kekhawatiran akan kurangnya peluang investasi yang lebih baik untuk modal perusahaan. Meskipun cara ini menjadi cara yang paling efisien dalam pengembalian modal kepada pemegang saham, hal ini juga dapat menimbulkan sinyal negatif apabila peusahaan tidak mengelola dengan baik modal yang mereka miliki.

Alasan Buyback Saham oleh Perusahaan

Manajemen perusahaan mencari cara terbaik untuk menginvestasikan keuntungannya. Dalam banyak kasus, cara terbaik adalah dengan menginvestasikan kembali pada perusahaan maupun pemenga sahamnya sendiri. Berikut merupakan alasan perusahaan melakukan buyback saham:

  • Meningkatkan nilai saham: dengan berkurangnya jumlah saham yang beredar, perusahaan dapat meningkatkan nilai setiap saham yang beredar sehingga menguntungkan pemegang saham.
  • Memperbaiki rasio keuangan perusahaan: seperti EPS atau DPS yang dapat meningkat ketika terjadi buyback.
  • Melakukan buyback saham ketika manajer menganggap nilainya undervalued.
  • Membagikan modal kepada pemegang saham: tingkat fleksibilitas yang tinggi dalam hal jumlah dan waktu. Sehingga direki memiliki banyak waktu untuk memberikan imbalan kepada pemegang saham tanpa mengorbankan kas perusahaan dalam jangka pendek.
  • Menyerap peningkatan jumlah saham yang beredar karena pelaksanaan opsi saham: dengan praktik ini, direksi mencari stablitas pada jumlah saham yang beredar.
  • Perlindungan dari hostile takover: dengan melakukan buyback saham, perusahaan dapat meningkatkan partisipasinya pada pasar dan mencegah perusahaan lain untuk mendapatkan kendali sebagian besar.

Kelebihan Buyback Saham vs Pembagian Dividen

Kita telah mengetahui bahwa buyback saham dan pembagian dividen merupakan dua cara yang berguna untuk memberikan imbalam kepada pemegang saham. Namun, keuntungan apa yang masing-masing cara tersebut tawarkan apabila kita bandingkan dengan cara lain?

Berikut merupakan keuntungan pada masing-masing cara:

Manfaat bagi Investor Dividen dari Buyback Saham

Meskipun tidak menerima dividen, investor harus memperhatikan beberapa manfaat yang buyback saham berikan. Berikut merupakan manfaat dari buyback:

  • Peningkatan pengembalian dividen: perusahaan dapa mendistribusikan dividen dalam jumlah yang sama pada jumlah saham yang lebih sedikit, sehingga pemegan saham akan menerima dividen dalam jumlah yang lebih banyak.
  • Peningkatan harga per lembar saham: dengan jumlah saham yang berkurang, dapat meningkatkan permintaah pada pasar, sehingga harga saham perusahaan juga kana meningkat.
  • Partisipasi yang lebih besar dalam perusahaan: pemegang saham akan mendapatkan partisipasi yang lebih besar tanpa harus mengeluarkan tambahan modal.
  • Manfaat pajak: sementara saat menerima dividen akan terkena pajak, buyback saham tidak terkena pajak. Pengenaan pajak akan terjai saat kita menjual modal dengan keuntungan modal.

Manfaat bagi Investor Dividen dari Dividen

Tujuan utama dari strategi berinvestasi pada dividen adalah menerima pendapatan secara reguler tanpa perlu melakukan penjualan saham, namun selain itu ada beberapa manfaat lain yang dapat kita rasakan. Berikut merupakan manfaat dari dividen:

  • Stabilitas dan prediktabilitas: perusahaan yang membagikan dividen secara konsisten biasanya perusahaan yang kuat dan stabil.
  • Karena dividen bertumbuh seiring dengan waktu, dapat membantu menjaga daya beli investor terhadap inflasi.
  • Volatilitas pasar yang lebih rendah: saham yang memberikan dividen biasanya kurang volatil apabila kita bandingkan dengan saham yang tidak memberikan dividen. Hal ini juga juga berlaku pada saham saham yang tidak melakukan buyback saham.
  • Keputusan penuh pada dividen: investor dapat menentukan pengalokasian dividen tersebut, apakah untuk reinvestasi pada perusahaan yang sama, pada perusahaan lain, atau penggunaan pribadi.

👉 Raja Dividen: Saham dengan Dividen yang Terus Meningkat Selama Lebih Dari 50 Tahun

Kekurangan dari Buyback Saham

Berdasarkan penjelesan keduanya, tampaknya buyback merupakan cara yang jauh lebih efektif. Namun, cara ini juga memiliki kekurangan. Berikut merupakan kekurangan dari buyback:

  • Timing yang tidak tepat: hal terjadi ketika pada saat pasar bullish, perusahaan lebih sering melakukan buyback saham dan pada akan jarang terjadi ketika krisis ekonomi terjadi, misalnya saat COVID-19. Hal tersebut membuat perusahaan melakukan pembelian kembali pada saat harga saham sedang tinggi dan tidak melakukannya pada saat sahaam perusahaan sedang undervalued.
Kerugian dari pembelian kembali saham
  • Kepentingan yang tidak sejalan antara perusahaan dan pemegang saham: perusahaan dapat melakukan buyback untuk tujuan perusahaan itu sendiri. Sehingga mereka menerima bonus pada gaji jika saham perusahaan mencapai nilai tertentu untuk memperbaiki rasio keungan.
  • Penalti yang lebih rendah daripada pengurangan dividen: perusahaan yang telah menghapus program buyback karena alasan tertentu tidak mendapatkan hukuman berat seperti saat perusahaan mengurangi dividen. Oleh karena itu, perusahaan lebih memilih cara tersebut.

Bagaimana Cara Mengetahui Perusahaan yang Sedang Melakukan Buyback Saham?

Di antara banyak indeks saham, terdapat satu indeks yang secara khusus mempertimbangkan buyback saham seabgai faktor kunci, yaitu S&P 500 Buyback Index. Indeks ini bertujuan untuk mengukur kinerja 100 saham utama dengan rasio pembelian kembali tertinggi pada indeks S&P 500. Kami memberikan contoh ini karena di Indonesia tidak ada indeks yang secara khusus memperhatikan buyback.

Anda dapat membandingkan indeks tersebut dengan indeks S&P lainnya pada situs web yang tersedia. Indeks ini memiliki return yang lebih rendah apabila kita bandingkan dengan indeks lainnya pada S&P.

Berikut merupakan ilustrasi yang memberikan gambaran return yang S&P 500 Buyback Index berikan:

Pengembalian historis dari Sp 500 Index vs Sp500 Buyback Index

Pada gambar tersebut, return yang S&P 500 Buyback Index berikan ditandai garis putih dan garis biru untuk indeks S&P 500.

Berikut merupakan 10 perusahaan pertama yang tergabung dalam indeks tersebut:

PerusahaanTickerSektor
Deckers OutdoorDECKKonsumsi
diskresi
NetApp IncNTAPTeknologi
Apple Inc.AAPLTeknologi
Goldman SachsGroup IncGSKeuangan
Ralph Lauren Corp ARLKonsumsi
diskresi
Verisk Analytics IncVRSKIndustri
Fox Corp AFOXAKomunikasi
Universal Health Services BUHSKesehatan

Berikut merupakan data sektor perusahaan pada indeks tersebut yang melakukan buyback paling banyak:

Sektor dengan jumlah pembelian kembali saham terbanyak

Pada data di atas, Anda dapat melihat bahwa terdapat dua sektor yang paling banyak melakukan buyback saham, yaitu sektor keuangan dan konsumsi diskresi. Hal ini karena pada kedua sektor tersebut tidak banyak proyek yang dapat mereka jadikan tujuan reinvestasi, kemudian lebih memilih untuk mempertahankan pemegang saham melalui buyback.

Saham Indonesia yang akan Buyback Saham pada 2024

Sejumlah emiten berencana menggelar pembelian kembali saham. Sebagian di antaranya merupakan emiten konstituen indeks LQ45 yang identik dengan karakteristik saham bluechip. Berikut merupakan daftar sahamnya:

Perusahaan Ticker
PT Adaro Energy Indonesia TbkADRO
PT Kalbe Farma Tbk KLBF
PT Indocement Tunggal PrakarsaINTP
PT Saratoga Investama Sedaya TbkSRTG
PT Eagle High Plantations TbkBWPT
PT Trisula International TbkTRIS
PT Garudafood Putra Putri Jaya TbkGOOD
PT Mulia Boga Raya TbkKEJU
Sumber: Kompas

Cara Berinvestasi pada Buyback dengan ETF

Cara lain untuk berinvestasi pada pembelian kembali adalah dengan ETF. Hal tersebut dapat menjadi strategi efektif untuk memanfaatkan perusahaan yang mengembalikan nilai kepada pemegang saham melalui buyback saham mereka sendiri.

Berikut merupakan daftar ETF tersebut:

  • Amundi S&P 500 Buyback UCITS ETF EUR (C)
    • Ticker: B500
    • ISIN: LU1681048127
    • TER: 0,15%
    • Akumulasi
  • Invesco Global Buyback Achievers UCITS ETF
    • Ticker: BBCKISIN: IE00BLSNMW37
    • TER: 0,39%
    • Distribusi triwulanan
  • Amundi ETF S&P 500 Buyback UCITS ETF USD
    • Ticker: AFIA
    • ISIN: LU1681048556
    • TER: 0,15%
    • Akumulasi

👉 ETF Dividen Terbaik: Investasi Cerdas untuk Keuntungan Maksimal

Pengaruh Buyback terhadap Pengenaan Pajak kepada Investor

Pembelian kembali saham oleh perusahaan dapat memiliki beberapa efek pajak bagi investor, tergantung pada negara dan undang-undang pajak yang berlaku. Berikut ini dijelaskan efek pajak menurut sistem perpajakan Spanyol:

  1. Tidak terkena pajak selama tidak menjualnya: Jika seorang investor tidak menjual sahamnya selama buyback, tidak akan terkena pajak secara langsung. Pembelian kembali dapat meningkatkan nilai saham yang tersisa, karena mengurangi jumlah saham yang beredar. Namun, peningkatan nilai ini tidak terkena pajak sampai investor memutuskan untuk menjual saham tersebut.
  2. Dividen versus keuntungan modal: Di Indonesia, keuntungan modal memiliki perlakuan pajak, sama seperti dividen. Oleh karena itu, jika investor memutuskan untuk menjual saham setelah buyback untuk memanfaatkan potensi keuntungan, maka akan terkena pajak sebagai keuntungan modal. Berdasarkan peraturan KMK Nomor 282/KMK.04/1997, besarnya tarif pajak penghasilan atas penjualan saham adalah 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan.

👉 Ini PPh atas Instrumen Investasi Anda!

Kesimpulannya, tidak ada metode yang paling baik antara buyback saham dan pembagian dividen. Hal tersebut karena semua tergantung beberapa faktor seperti filosofi perusahaan, rencana perusahaan, dan profil investor.

Jika investor tidak membutuhkan dividen, pembelian kembali saham menjadi cara yang lebih efektif. Hal tersebut tentu saja harus mengorbankan fleksibilitas dalam pengambilan keputusan untuk mengalokasikan dividen.

Namun, Anda tidak perlu kebingungan untuk memilih di antara kedunya, karena ada perusahaan yang menerapkan kedua cara tersebut. Sehingga jenis perusahaan ini sangat cocok untuk Anda jadikan portofolio investasi.

Pertanyaan yang sering diajukan (FAQ)

Bagaimana cara memperhitungkan pembelian kembali saham?

Pembelian kembali saham mengurangi kas yang dimiliki perusahaan, yang terlihat di neraca sebagai pengurangan jumlah kas yang digunakan untuk pembelian kembali. Selain itu, tindakan ini juga mengurangi ekuitas pemegang saham dengan jumlah yang sama pada sisi kewajiban di neraca perusahaan.

Bagaimana pembelian kembali saham menguntungkan pemegang saham?

Pembelian kembali saham sering kali meningkatkan harga saham dalam jangka pendek karena mengurangi jumlah saham yang beredar, dan tindakan pembelian tersebut mendorong harga saham naik di pasar. Pemegang saham biasanya melihat pembelian kembali ini sebagai tanda bahwa perusahaan berada dalam kondisi baik dan bahwa manajer perusahaan yakin saham mereka dihargai terlalu rendah.

Artikel Terkait