Osilator yang Umumnya Digunakan dalam Trading

Osilator adalah jenis indikator yang digunakan dalam analisis teknikal untuk mengidentifikasi tren dan perubahan arah harga pada aset keuangan. Osilator didasarkan pada prinsip bahwa harga cenderung berfluktuasi antara level support dan resistance dan pergerakan harga dapat lebih akurat jika menggunakan indikator untuk mengidentifikasi tren.

Di dunia investasi dan keuangan, oscillator adalah alat analisis teknikal yang digunakan untuk mengevaluasi arah, kekuatan, dan momentum tren pasar. Osilator adalah indikator matematis yang didasarkan pada perilaku historis harga dan volume aset keuangan, seperti saham, obligasi, mata uang atau komoditas. Fungsi osilator adalah untuk memprediksi pergerakan harga pada masa depan dan membantu investor membuat keputusan yang berdasarkan informasi.

Osilator dalam trading
Sumber: Indodax

Tujuan utama dari osilator adalah untuk mengidentifikasi titik balik dalam tren pasar, seperti perubahan arah, level overbought atau oversold dan divergensi antara harga dan indikator. Sinyal ini dapat membantu investor meramalkan pergerakan harga dan membuat keputusan beli atau jual pada waktu yang tepat sehingga meningkatkan peluang profit.

Osilator bergerak di sekitar nilai tengah atau garis referensi, seperti level nol atau level 50. Saat osilator melintasi level ini, ia bisa memberikan sinyal beli atau jual, menunjukkan apakah suatu aset keuangan mungkin overbought (harga turun) atau oversold (harga naik). Mereka juga membantu mendeteksi divergensi, yaitu ketika perilaku harga tidak cocok dengan osilator yang bisa menunjukkan pembalikan tren.

Beberapa osilator yang umum digunakan dalam trading adalah RSI, Stochastic, Momentum, dan MACD. Setiap osilator memiliki karakteristik dan rumus matematika unik, memberikan informasi berharga tentang perilaku pasar untuk membantu investor membuat keputusan yang lebih baik.

Meskipun bermanfaat, osilator tidak menjamin hasil yang akurat atau keuntungan. Mereka bisa memberikan sinyal palsu, terutama di pasar sideway atau volatilitas tinggi. Oleh karena itu, penting untuk menggabungkan penggunaan osilator dengan alat analisis lainnya dan pendekatan investasi yang komprehensif, seperti analisis fundamental dan manajemen risiko untuk meningkatkan efektivitas strategi trading.

Apakah Indikator dan Osilator itu Sama?

Ketika kita memasuki dunia investasi dan keuangan, penting untuk memahami alat yang digunakan untuk membuat keputusan yang berdasarkan informasi. Dua dari alat ini adalah indikator dan osilator yang digunakan dalam analisis teknikal. Meskipun mereka mungkin tampak serupa pada pandangan pertama, ada perbedaan kunci di antara mereka yang penting untuk diketahui.

Indikator adalah alat analisis teknikal yang digunakan untuk mengevaluasi berbagai aspek perilaku pasar, seperti arah, kekuatan, dan momentum tren. Anda bisa menemukan indikator, seperti indikator tren yang membantu mengidentifikasi arah pasar dan indikator volatilitas yang menunjukkan intensitas fluktuasi harga. Indikator ini dapat menjadi pengikut tren, artinya mereka bereaksi terhadap pergerakan pasar dan bukan memprediksinya.

Di sisi lain, osilator merupakan jenis indikator khusus dalam trading yang bertujuan untuk menemukan kondisi ketika harga suatu aset sudah terlalu tinggi (overbought) atau terlalu rendah (oversold). Osilator juga bisa memperkirakan perubahan arah pasar. Berbeda dengan indikator lainnya, osilator bergerak di sekitar nilai tengah atau garis referensi, yang membantu investor mengenali waktu di mana harga aset mungkin berada pada posisi ekstrem dan siap untuk berbalik arah.

Yang menarik dari oscillator adalah meskipun tujuannya sama untuk memberikan informasi tentang kondisi overbought dan oversold, setiap osilator memiliki rumus matematika dan karakteristik uniknya sendiri. Contohnya saja, RSI dan Stokastik merupakan dua osilator yang populer. Meskipun keduanya mencari hal yang sama, mereka menggunakan pendekatan yang berbeda dan bisa memberikan sinyal yang berbeda dalam situasi tertentu.

Jadi, perbedaan utama antara indikator dan osilator terletak pada fokus dan tujuannya.

Osilator yang Populer Digunakan dalam Analisis Saham

Berlanjut dengan topik oscillator dalam analisis saham, ada beberapa osilator populer yang digunakan investor atau trader untuk membuat keputusan investasi mereka. Osilator ini memiliki rumus matematika spesifik dan karakteristik yang berbeda yang membuat mereka unik.

Berikut ini adalah beberapa oscillator yang paling dikenal bersama dengan informasi relevan tentang masing-masing dan rumus sederhananya:

RSI

Relative Strength Index (RSI) berfungsi untuk mengukur kecepatan dan perubahan dalam pergerakan harga untuk mengidentifikasi apakah aset overbought atau oversold. RSI berayun antara nilai 0 dan 100, dan umumnya sebuah aset dianggap overbought jika RSI di atas 70 dan oversold jika RSI di bawah 30. Rumus RSI adalah sebagai berikut

Rumus RSI
Sumber: Pluang

Stokastik

Stochastic Oscillator juga mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold dengan membandingkan harga penutupan saat ini dengan kisaran harga dalam periode tertentu. Sama seperti RSI, Stokastik berfluktuasi antara 0 dan 100. Sebuah aset dianggap overbought jika %K di atas 80 dan oversold jika %K di bawah 20. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Sumber: Alpharithms

MACD

MACD mengukur perbedaan antara dua exponential moving average (EMA) dari periode yang berbeda untuk mengidentifikasi perubahan arah pasar. Sinyal beli atau jual terjadi ketika MACD melintasi garis sinyal, yang merupakan EMA 9 periode dari MACD. Rumusnya adalah sebagai berikut: MACD = EMA 12 periode – EMA 26 periode.

Rumus osilator MACD
Sumber: Truedata

Money Flow Index (MFI)

Indeks Arus Uang (MFI) merupakan alat analisis teknikal yang memanfaatkan data harga dan volume untuk mengenali momen ketika suatu aset dianggap sudah terlalu banyak dibeli atau dijual. Selain itu, MFI dapat digunakan untuk mendeteksi perbedaan yang bisa menjadi pertanda adanya perubahan dalam tren harga. Rentang nilai MFI berada antara 0 hingga 100.

Berbeda dengan indikator konvensional seperti RSI, MFI menyertakan data volume selain data harga. Inilah sebabnya mengapa beberapa ahli menggambarkan MFI sebagai RSI yang memperhitungkan volume trading.

MFI memberikan sinyal overbought ketika nilainya di atas 80 dan oversold ketika nilainya di bawah 20. Meskipun beberapa trader menggunakan ambang batas 90 dan 10 sebagai pedoman tambahan. Penting untuk memperhatikan perbedaan antara pergerakan indikator dan harga aset. Misalnya, jika indikator MFI naik sementara harga turun atau stagnan, itu bisa menjadi pertanda bahwa harga akan mulai naik. Berikut ini adalah rumus MFI:

Sumber: Investopedia

Meskipun rumus-rumus tersebut mungkin tampak rumit, tetapi umumnya setiap broker sudah tersedia tools yang sudah siap digunakan untuk melakukan analisis teknikal. Hal ini tentu memudahkan penggunaannya bahkan bagi Anda yang pemula.

Contoh Aplikasi Osilator dalam Analisis Saham

Setelah mempelajari oscillator dan bagaimana mereka diterapkan dalam menganalisis saham, penting untuk melihat beberapa contoh konkret untuk lebih memahami cara penggunaannya dalam situasi investasi sehari-hari. Contoh-contoh ini, diuraikan secara sederhana sehingga akan membantu memperkuat pemahaman tentang bagaimana osilator digunakan dalam dunia keuangan.

Contoh 1: Bayangkan seorang investor ingin membeli saham perusahaan, tetapi dia ingin memastikan tidak membeli saat harga saham sudah terlalu tinggi (overbought). Investor bisa menggunakan RSI untuk menganalisis perilaku harga saham. Jika RSI di bawah 30, itu bisa menandakan saham sedang murah (oversold) dan mungkin saat yang tepat untuk membeli.

Contoh 2: Seorang investor memiliki saham dalam portofolionya dan ingin tahu kapan waktu yang tepat untuk menjualnya. Dengan menggunakan osilator Stokastik, ia bisa menganalisis pergerakan harga saham dalam kisaran harga tertentu dalam periode waktu tertentu. Jika %K di atas 80, itu bisa menandakan saham sudah terlalu tinggi (overbought) dan bisa menjadi waktu yang tepat untuk menjual.

Contoh 3: Seorang trader ingin melakukan perdagangan mata uang dan mencari peluang masuk dan keluar market. Dengan menggunakan MACD, ia bisa mengidentifikasi perubahan arah pasar dengan melihat persilangan antara MACD dan garis sinyal. Jika MACD melewati garis sinyal dari bawah ke atas, itu bisa menjadi sinyal beli. Namun, jika MACD melintasi dari atas ke bawah, itu bisa menjadi sinyal jual.

Saat menerapkan tools ini, investor dan trader dapat mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold, serta perubahan arah pasar. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengoptimalkan strategi investasi dan meningkatkan peluang mendapatkan profit secara optimal.

Kini, Anda sudah mengerti tentang osilator. Tidak ada salahnya kalau Anda juga mempelajari tentang indikator trading lewat artikel di bawah ini.

FAQs – Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu osilator dalam trading?

Osilator adalah alat analisis teknikal yang membuat pita tinggi dan rendah antara dua nilai ekstrem, lalu membangun indikator tren yang berfluktuasi di dalam batas-batas ini. Trader menggunakan indikator tren ini untuk menemukan kondisi overbought (harga terlalu tinggi) atau oversold (harga terlalu rendah) dalam jangka pendek.

Osilator mana yang terbaik untuk trading?

Relative Strength Index (RSI) adalah osilator populer yang mengukur sejauh mana perubahan harga terbaru untuk menentukan apakah suatu instrumen sedang dalam kondisi overbought (terlalu tinggi) atau oversold (terlalu rendah).

Bagaimana cara membaca osilator?

Ketika harga aset terus mencapai puncak higher high, tetapi osilator menunjukkan puncak yang lebih rendah, ini disebut divergensi bearish dan merupakan sinyal untuk menjual. Sebaliknya, ketika harga aset terus mencapai lower low (LL), tetapi osilator menunjukkan titik higher low (HL), ini disebut divergensi bullish dan merupakan sinyal untuk membeli.

Artikel Terkait